ESQNews.id, JAKARTA – Menindaklanjuti nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada November 2025 lalu, Yayasan Desa Emas Indonesia (YDEI) dan Aspire Sustainable (Malaysia) kini tengah mematangkan detail kolaborasi strategis dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Program bertajuk "Indonesia Terbebas Sekali Pakai" (Indonesia’s Zero Disposable Program) ini dirancang sebagai inisiatif strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus mengatasi tantangan limbah domestik.
Sebagai langkah nyata, pada 6 Maret 2026, telah dilaksanakan presentasi program oleh pihak Aspire Sustainable kepada jajaran Yayasan Desa Emas Indonesia melalui zoom meeting.
Presentasi tersebut dipaparkan langsung oleh Fazlina Ahmad Fuad (Chief Executive Officer, Aspire Sustainable Sdn. Bhd.) dan Jaklin Juanis (Senior Consultant, Aspire Sustainable Sdn. Bhd.).
Mengubah Tantangan Menjadi Peluang melalui Creating Shared Value (CSV)
Indonesia saat ini menghadapi tantangan limbah produk kebersihan sekali pakai yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, namun juga menjadi beban finansial bagi banyak keluarga prasejahtera.
Biaya rutin untuk produk sekali pakai seringkali berkontribusi pada siklus kemiskinan dan mengurangi stabilitas keuangan rumah tangga.
Program ini mengadopsi kerangka kerja Creating Shared Value (CSV) yang memposisikan keberlanjutan sebagai investasi.
Dengan mengalihkan kebiasaan masyarakat ke arah produk yang lebih hemat dan berkelanjutan, program ini secara langsung menghasilkan data dampak lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang berkualitas tinggi serta dapat diaudit sesuai standar global.
Diketahui, kolaborasi ini menyatukan keunggulan masing-masing pihak: YDEI berperan sebagai jangkar komunitas melalui pilar Bina Karakter, Bina Saudara, dan Bina Sinergi. Aspire Sustainable memberikan desain strategis dan operasional berbasis standar profesional yang tinggi.
Mengapa ini penting? Karena sekilas info, program ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan Indonesia sebagaimana tercantum dalam Peraturan Presiden No. 111 tahun 2022 tentang Pelaksanaan Pencapaian dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, khususnya di bidang kesehatan, kesetaraan gender, dan aksi iklim.
Melalui inisiatif ini, YDEI dan Aspire Sustainable berkomitmen untuk membangun Indonesia yang lebih tangguh, bebas dari limbah sekali pakai, sekaligus menciptakan nilai bersama bagi masa depan yang lebih baik.
Dalam pemaparannya, Fazlina Ahmad Fuad menekankan bahwa inisiatif ini bukanlah sekadar teori, melainkan aksi nyata yang telah teruji selama satu dekade di Malaysia.
Sebagai perusahaan sosial (social enterprise), Aspire Sustainable mengintegrasikan misi sosial dalam setiap lini bisnisnya, dengan fokus utama pada edukasi dan transisi penggunaan pembalut sekali pakai ke pembalut kain yang dapat dicuci (washable sanitary pads).
"Kami membawa pengalaman selama sepuluh tahun menjalankan lebih dari seratus program dan menjangkau lebih dari tiga ribu perempuan. Kami tidak sekadar memberikan edukasi melalui presentasi satu arah, tetapi juga menyediakan rencana aksi yang dapat langsung diterapkan oleh masyarakat," jelas Fazlina.
Ia menyoroti urgensi dari inisiatif ini dengan data yang mencengangkan: seorang wanita rata-rata menghasilkan sekitar 150 hingga 200 kilogram limbah pembalut sekali pakai di tempat pembuangan akhir (landfill) sepanjang masa reproduksinya.
Dengan kesadaran ini, Aspire Sustainable bekerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah dan korporasi di Malaysia untuk mengedukasi masyarakat agar beralih ke solusi yang lebih ramah lingkungan.
Kini, melalui kemitraan dengan YDEI dan Aspire Sustainable bertekad membawa model keberlanjutan yang sama ke Indonesia.
"Kami ingin berbagi pengalaman, kesadaran, dan hasil nyata yang telah kami capai di Malaysia kepada rekan-rekan di Indonesia untuk menciptakan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan," pungkasnya.
Kemudian, dalam sesinya, Jaklin Juanis memperkenalkan program "Indonesia Terbebas Sekali Pakai" sebagai inisiatif berbasis komunitas yang dirancang untuk menjawab tantangan lingkungan, sosial, dan ekonomi secara simultan.
Program ini menyoroti tiga problematika utama masyarakat, yaitu tingginya akumulasi limbah sekali pakai, prevalensi kemiskinan menstruasi (period poverty), serta rendahnya literasi keberlanjutan.
"Kami tidak hanya mengampanyekan kesadaran, tetapi memberikan intervensi praktis. Tujuan kami adalah memastikan masyarakat memahami dampak dari perilaku mereka dan beralih ke solusi yang lebih berkelanjutan," ujar Jaklin.
Menurutnya, keberhasilan program ini bertumpu pada kolaborasi struktural antara tiga entitas utama yang memiliki peran spesifik:
* Aspire Sustainable sebagai Arsitek Metodologi: Berperan sebagai mitra teknis, Aspire menyumbangkan kekayaan intelektual berupa metodologi game-based learning dan kerangka kerja implementasi. Aspire memastikan program memiliki standar kualitas yang konsisten serta kemampuan untuk menghasilkan data dampak yang valid.
* Yayasan Desa Emas Indonesia (YDEI) sebagai Hub Lokal: YDEI bertindak sebagai platform eksekusi di lapangan. YDEI berperan krusial dalam menerjemahkan konsep keberlanjutan ke dalam perilaku praktis yang relevan dengan budaya setempat, serta memobilisasi komunitas untuk berpartisipasi aktif dalam program.
Untuk memastikan dampak yang terukur, program ini dibagi menjadi tiga fase strategis:
* Fase 1: Train the Trainer: Berupa pelatihan peningkatan kapasitas Patriot Desa yang akan ditunjuk menjadi Sustainable Champions. Melalui metodologi simulasi yang dikembangkan selama hampir dua dekade, konsep keberlanjutan yang kompleks disederhanakan menjadi langkah-langkah praktis bagi masyarakat.
* Fase 2: Pilot Proyek di Garut, yang direncanakan di Desa Karamatwangi sebagai pembuktian konsep. Fokus utamanya mencakup lokakarya komunitas, penyediaan solusi kebersihan reusable, serta pengukuran dampak kualitatif dan kuantitatif terhadap 700 penerima manfaat.
* Fase 3: Social Factory (Opsional): Jalur pengembangan pemberdayaan ekonomi. Komunitas dibimbing untuk memproduksi solusi kebersihan secara mandiri, menciptakan lapangan kerja, dan memastikan sirkulasi modal tetap terjaga di tingkat desa.
Program ini mengadopsi kerangka Creating Shared Value (CSV) dengan pendekatan Triple Bottom Line (Manusia, Planet, Profit):
* Dimensi Manusia: Berfokus pada peningkatan kesehatan, martabat perempuan, dan pengetahuan praktis.
* Dimensi Planet: Penekanan pada pengurangan limbah secara sistematis dan edukasi konsumsi bertanggung jawab.
* Dimensi Profit: Mengalihkan pengeluaran rutin rumah tangga untuk produk sekali pakai menjadi tabungan atau modal usaha.
*Menuju Skalabilitas dan Keberlanjutan Jangka Panjang*
Untuk menjaga keberlangsungan, Aspire dan YDEI membentuk entitas kolaboratif formal yang memungkinkan transparansi operasional dan kepatuhan terhadap regulasi lokal.
Pendekatan ini juga didukung oleh model kolaborasi Hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi (melalui analisis Social Return on Investment - SROI), serta media untuk membangun narasi positif di tingkat nasional.
Bagi YDEI, partisipasi dalam inisiatif ini membawa transformasi dari pengelola yayasan menjadi katalisator perusahaan sosial. Dengan data yang divalidasi oleh SROI, YDEI mendapatkan kredibilitas tinggi untuk menarik pendanaan hibah atau investasi dampak (impact investment) baik di skala lokal maupun internasional.
"Melalui struktur kolaboratif ini, kita tidak hanya mengedukasi masyarakat, tetapi juga membangun sistem yang tersokong, tervalidasi, dan mampu bertahan dalam jangka panjang," pungkas Jaklin.
Inisiatif ini diproyeksikan sebagai cetak biru (blueprint) inovasi sosial yang dapat direplikasi di seluruh pelosok Indonesia, menyatukan misi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai fondasi utama masyarakat yang mandiri dan sejahtera.