Oleh: Erni Fitriyah
ESQNews.id, LAMONGAN - “Assalamu’alaikum…!” kata seorang gadis belia saat tepat berada di depan pintu rumah salah satu kepala sekolah. Rumah yang luas, bersih, nan indah. Ditambah beberapa pot bunga di halamannya sungguh menyejukkan mata.
“Wa’alaikumussalam…!!!” jawab bapak guru dari dalam rumah, dengan senyumnya yang khas dan ramah tamah.
“Ayo silakan masuk!” sambil mempersilakan duduk di sofanya yang empuk.
“Iya Pak, terima kasih. Ngomong-ngomong ada keperluan apa ya Bapak kemarin sms menyuruh saya datang kemari?” kata gadis itu dengan wajah bertanya-tanya.
Kemudian dengan santun bapak guru mencoba menjelaskan, ”Jadi begini Aisyah, di salah satu sekolah tempat saya mengajar sedang membutuhkan tenaga pengajar. Apakah kamu bersedia ikut mengajar di lembaga tersebut?”
Seketika hati Aisyah serasa berbunga-bunga bak berada di taman yang indah. Karena menjadi guru adalah salah satu cita-citanya sejak kecil. Dan jika itu memang benar “Alhamdulillah,” syukurnya dalam hati.
”InsyaaAllah saya bersedia Pak!” ucapnya dengan perkataan yang sopan.
“Kalau bersedia, besok segera ke sekolahan untuk interview ya!” pesan bapak kepala sekolah.
Setelah beberapa menit mereka berbicara akhirnya Aisyah berpamitan untuk pulang.
Sesampainya di rumah, ia segera menceritakan kepada Ibunya dan beliau terlihat senang. ”Alhamdulillah Nak, cita-cita yang kamu inginkan terkabul dan Ibu hanya bisa mendo’akan semoga lancar, Aamin…!” Aisyah pun ikut mengamini.
<more>
Fajar telah datang bertandang, beningnya embun membasuh daun-daun. Terdengar sautan irama Al-Quran yang sejuk terdengar dari masjid yang tak jauh dari rumah Aisyah. Hingga lantunan adzan mengalir lewat indera pendengaran sampai ke sukma. Segera Aisyah bangun dari tidurnya dan bergegas melaksanakan shalat subuh.
Tak lama kemudian, sesaat langit telah memancarkan cahayanya. Dengan semangat Aisyah bergegas menyiapkan segala keperluan untuk interview ke sekolah yang akan menjadi tempat mengajarnya nanti. Kemudian tak lupa sebelum berangkat, Aisyah berpamitan dengan orang tua, lalu ia pun menaiki sepeda motornya menuju ke sekolah.
Setibanya di kantor sekolah, Aisyah disambut dengan ramah oleh beberapa guru dan tanpa menunggu lama gadis belia itu segera diinterview, “Dag dig dug” hati Aisyah berdegup kencang.
Setelah selesai dia pun berpamitan pulang dan beberapa guru berpesan agar besok segera masuk untuk mulai mengajar. Akhirnya dengan perasaan senang dan lega dia pun pulang. “Hmmm… plong rasanya!!! Alhamdulillah…” gumamnya.
***
Jam seakan berputar begitu cepat, tibalah esok hari yang cerah. Dengan hati yang riang Aisyah bersiap-siap memakai batik, jilbab, dan sepatunya. Tak lupa seperti biasa dia berpamitan dengan ibu tercinta.
Sampai di sekolah, dia berjabat tangan dengan para guru yang akan menjadi rekan kerjanya.
Kemudian Aisyah menuju kelas untuk memulai pelajaran yang diampuhnya. “Ups!!!” tiba-tiba dia terkaget dengan suasana di kelas tersebut. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, ternyata jumlah muridnya begitu minim. Dengan mencoba tenang, dia menghela napas dalam-dalam. Dia pandangi murid satu persatu kemudian mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum Anak-anak…!!!” dengan serentak murid-murid menjawab “Wa’alaikumussalam Bu…” selanjutnya Aisyah memperkenalkan diri dan memulai pelajaran.
Selama pelajaran berlangsung, gadis belia yang telah menjadi guru itu pun menilai setiap murid-muridnya. Ternyata yang tanggap dalam pelajaran hanya beberapa murid saja, yang lain tidak karuan tingkahnya. Dia pun kembali menghela napas dalam-dalam sambil mengelus dada, “Sabar.. sabar…” gumamnya.
Hari demi hari dia lalui. Aisyah tetap mengajar seperti biasa dengan tingkah laku murid yang terkadang mungkin tak berkenan di hatinya. Dia hanya menganggap itu adalah suatu hal yang wajar, dan dijadikan sebagai ujian atau tantangan dalam mengajar.
“Bagaimana mengajarnya?” kata kepala sekolah padanya. Namun Aisyah hanya membalas dengan senyum.
“Apakah kamu betah mengajar di sini?” sahutnya lagi.
“Alhamdulillah insyaaAllah saya betah Pak.” Jawabnya dengan singkat. Namun jauh dalam lubuk hati, sebenarnya ia ingin sekali adanya perubahan yang lebih baik di sekolahnya.
Tepat di akhir bulan, Aisyah dipanggil kepala TU kemudian disodorkan buku tanda tangan lalu diberi amplop, “Ini untuk kamu bulan ini Aisyah,” katanya.
“Iya terima kasih Bu,” jawab gadis itu dengan seuntai senyum nan indah.
Setelah amplop itu dibuka, dalam hati Aisyah berucap syukur. Walaupun jumlahnya tidak banyak, namun hal itu tak meredupkan semangatnya untuk tetap mengajar. Baginya mengamalkan ilmu selain perintah Allah juga untuk mengharapkan ridhoNya, sekaligus sebagai ladang pahala. Jadi berapapun jumlah gaji pertamanya, ia hanya mengharapkan barokah dan kelak Allah yang akan mencukupkannya. Setelah itu Aisyah bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, Aisyah menghampiri ibunya yang tengah memasak di dapur. “Ibu… Alhamdulillah aku mendapat rezeki hari ini,” sambil memberikan amplop pada ibunya.
“Ini untuk Ibu saja ya,” tambahnya lagi.
“Alhamdulillah Nak! Tapi ini kamu saja yang simpan, barangkali kapan-kapan kamu membutuhkan.” Jawab ibu dengan bijak.
***
Hari demi hari berlalu, suka duka selama di sekolah berhasil Aisyah lalui bersama guru-guru lainnya. Dengan mengedepankan sikap saling peduli, toleransi, dan bijaksana yang membuat mereka rukun laksana keluarga. Tetapi tidak pernah luput dalam setiap rapat sekolah, para guru bersama kepala sekolah selalu berfikir, menguras otak, dan saling mengeluarkan pendapat untuk menciptakan program-program baru yang dapat membawa sebuah perubahan lebih baik pada lembaga.
Usaha keras tak menghianati hasil. Dalam sebuah rapat akbar, dengan ridho Allah akhirnya terciptalah ide mendirikan sebuah pondok pesantren atau tahfidh yang bertujuan untuk mencetak generasi qurani yang berwawasan luas dan berahlakul karimah.
Namun, untuk mendirikan program itu pun tidaklah mudah. Pihak sekolah harus bekerja sama dengan pihak-pihak yang berwenang lainnya. Bersatu, saling bahu membahu, dan saling menguatkan demi terwujudnya cita-cita mulia.
Benar-benar tak disangka, sejak didirikannya pondok Tahfidhul Quran peserta didik mulai banyak yang berdatangan ingin bersekolah dan mondok di lembaga tersebut. Mereka tidak hanya datang dari desa-desa terdekat, namun hingga dari daerah-daerah yang cukup jauh juga ingin menimba ilmu di sana. Akhirnya, Aisyah dan guru-guru yang lain pun bisa bernafas lega.
Rasa bahagia Aisyah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia tak hentinya mengucap syukur.
Ya Allah… alhamdulillah atas segala rahmatMu.
Tak henti-hentinya kumemuji keagunganMu.
Inilah berkah Ilmu dan Al Qur’an yang telah membawa kebaikan dan kemajuan umatMu.
Perlahan namun pasti. Siswa yang telah bersekolah tidak hanya cerdas secara akademik, namun mereka juga dapat menjadi generasi penghafal Quran. Sungguh mengagumkan.
“Adakah yang lebih indah dari mengingat asmaNya yang menguasai waktu. Dan hanya dengan sabar dan shalatlah Allah SWT akan memberikan jalan keluar atas segala masalah”
Biografi Penulis
Erni Fitriyah dilahirkan di Lamongan pada tanggal 25 November 1993. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yang pernah menempuh pendidikan TK Aisyiyah, MIM 03, MTs. M 07, dan MAM 08 di Takerharjo, yang kemudian melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di UNISDA Lamongan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Erni Fitriyah aktif mengajar di lembaga SMP Muhammadiyah 5 Karanggeneng mengampuh mata pelajaran B. Indonesia dan IPA.
Erni Fitriyah masuk komunitas menulis GELANGGANG saat di bangku kuliah. Artikelnya pun pernah dimuat di majalah kampus yang biasa diterbitkan setiap tahunnya. Selain itu juga bergabung dalam grup menulis KBM (Kita Belajar Menulis). Alamat email: [email protected], No. Telp.: 085730175358




