Senin, H / 02 Februari 2026

Tetap Setia, Apapun Adanya

Rabu 20 Sep 2023 11:40 WIB

Author :M. Nurroziqi

ilustrasi.

Foto: google image


ESQNews.id - Ketika lajur kiri yang seharusnya  dilalui itu sedikit kurang nyaman, bergelombang, atau sangat tidak baik jalannya, maka dengan mudah saja diri mengambil lajur kanan yang mestinya milik pejalan yang dari arah sebaliknya. Atau, ketika macet melanda, mundur kena, maju tidak bisa. Bisa sedikit bersabar? Bisa jadi, diri justru spontan berinisiatif mengambil jalur paling kiri, milik pejalan kaki. Sebab belum ada ruang lenggang di jalan utama, trotoar pun dikuasai. Benarkah yang begini adalah solusi? Atau justru demi kepentingan sendiri menghalalkan segala cara biar pun itu dengan mengambil hak sesama?


Soal hidup di jalan ini, pasti ada yang pernah mengalami, atau menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Mengenai benar atau salah atas pengambilan sikap yang sedemikian itu, kembali ke diri masing-masing. Yang penting di mana pun saja, aturan pasti ada. Dan yang penting, mengambil hak orang lain, mengganggu kenyamanan sesama, bukanlah sesuatu yang diperbolehkan. Apalagi, kita sama-sama pengguna jalan, yang pastinya mendamba kenyamanan juga.


Soal berkendara di jalan tadi, hanya gambaran kecil tentang kehidupan yang musti dijalani di dunia ini. Dan kerapkali, begitulah pola hidup yang dijalani. Sudah di jalur yang benar, kemudian, hanya lantaran di jalur itu begitu banyak ujian dan cobaan yang sering tidak mengenakkan, terasa tidak nyaman, maka, enteng saja diri berpindah ke jalur yang nyata-nyata salah.


Tidak sabaran. Kurang pandai menemukan momentum untuk menikmati keadaan dengan penuh rasa syukur. Lantas, seketika itu berpindah alur di jalan yang tidak semestinya. Begitu berani mengabaikan keselamatan akhirat, dan kebahagiaan yang sejati, hanya demi kenyamanan dan kenikmatan-kenikmatan sesaat. Dari pola hidup yang begitu, tidak sedikit yang berprinsip tidak baik "ndah" asal hidup serba berkecukupan. Sedikit mengingkari-Nya tidak jadi soal, asal di dunia bergelimang kemakmuran. Malahan ada, demi pangkat dan derajat dunia, cara-cara buruk yang ditempuh. Na'udzubillah. Semoga kita tidak.


Kenyataan di kehidupan ini, ujian dan cobaan akan selalu ada. Satu ujian dan cobaan terselesaikan, segera akan datang ujian dan cobaan yang lain. Begitu terus. Bahkan ketika diri menghindar dari satu ujian dan cobaan, sesungguhnyalah sedang menuju ujian dan cobaan yang lain. Jadi, sepanjang masih bernafas dan hidup di dunia, manusia tidak akan pernah bisa lepas dari yang namanya ujian dan cobaan.


“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun." Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah: 155-157).


Nyaman dan runyam, enak dan tidak, bahagia dan susah, sehat dan sakit, baik dan buruk, kesemuanya adalah bagian dari ujian dan cobaan itu. Manusia, hanya dituntut untuk menjalani semua dengan sebaik mungkin, dan tanpa boleh sejenak pun berpaling dari-Nya. Harus tetap setia kepada Allah SWT, apa pun dan bagaimana pun keadaannya. Sebab, kelak yang menjadi pertimbangan selamat dan tidaknya di akhirat adalah seberapa baik manusia menjalani setiap takdir hidupnya di dunia.

 

Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan mengujimu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antaramu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (Q.S. Muhammad: 31).


Hebatnya lagi, ujian dan cobaan ini, dalam siklusnya tidak pernah mengecil. Kadarnya tidak pernah lebih ringan dari sebelumnya. Tetapi, semakin besar dan rumit. Jika satu ujian dan cobaan tuntas terselesaikan, maka ujian dan cobaan yang datang selanjutnya, akan lebih dahsyat lagi. Lantas, jika terus-terusan dihujam uji dan coba, kapankah manusia bisa bahagia di sepanjang kehidupan? Memang begitulah kenyataan hidup. Allah SWT menempa manusia supaya menjadi pribadi yang tangguh nan berkualitas.


Untuk menjadi pribadi berkualitas, jelas bukan memanjakan dengan beragam kemudahan. Yang begini, justru mengkerdilkan kualitas diri. Bisanya, cuma menjadikan diri "aleman", "purik'an", "sambatan". Diri yang terbiasakan dengan kemudahan fasilitas, maka hati dan pikiran pun tidak memiliki banyak fungsi. 'Kan sudah mudah? Jelas tidak perlu mikir lagi. Ujung-ujungnya, tumpul dan berkarat. Puncaknya, diri menjadi kurang pintar. Tidak bisa apa-apa.


Dan sebaliknya. Manusia yang dihantam beragam ujian dan cobaan yang semakin dahsyat, yang semakin hari semakin rumit, maka hati dan pikirannya pun akan hidup. Penuh kreasi. Keduanya, dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk melewati dan menuntaskan segala rupa uji dan coba yang di depan mata. Akhirnya, diri menjadi terbiasa dengan semua yang luar biasa. Inilah yang semakin menjadikan diri tangguh dan berkualitas. Sehingga, sebetapa pun besar dan seringnya ujian dan cobaan datang menghadang, kondisi diri semakin tenang menghadapi semua. Keadaan ini, bukan sebab mengecilnya ujian dan cobaan itu sendiri. Tetapi, disebabkan kualitas diri yang semakin besar dan sangat tangguh.


Dan yang terpenting, atas semua ujian dan cobaan yang senantiasa menyelimuti setiap diri, maka harus disadari bahwa semua adalah cara Allah SWT dalam menempa manusia supaya menjadi semakin tangguh dan demi meninggikan kualitas kesetiaan manusia kepada Allah SWT. Jadi, bersyukurlah jika diri masih diuji dan senantiasa dicoba-Nya. Sebab, Allah Swt sedang menaruh cinta dan ingin menguji seberapa setia diri ini kepada-Nya.

 

*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di [email protected]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA