Senin, H / 02 Februari 2026

Success Story Santo Umar Takihara [Part 3]

Selasa 04 Jun 2019 14:03 WIB

Source :ESQ Magazine

Santo Umar Takihara

Foto: dok. darunnajah

ESQNews.id - Training ESQ pada tahun 2010


Sebelum dirinya mengikuti Training ESQ, istri dan anaknya lebih dulu mengikuti training. Setelah menjadi alumni ESQ, istri dan anaknya memintanya untuk mengikuti Training ESQ. Alhasil sebelum memutuskan untuk ibadah haji, dirinya menyempatkan waktu untuk mengikuti training pada tahun 2010 di gedung Menara 165, Jakarta Selatan.


“Anak-anak sudah training ESQ semua. Akhirnya ibu mertua saya, sama istri saya pergilah Training ESQ Eksekutif. Saya waktu itu belum ikut. Setelah istri training, istri saya bilang perlu itu ikut ESQ,” ujarnya.


Sewaktu mengikuti training, ia mendapatkan pengalaman yang luar biasa. “ESQ menurut saya dakwah tauhid tentang keimanan. Jadi ESQ itu membuat saya lebih yakin lagi, lebih percaya lagi, lebih meningkat imannya. Nah kalau sudah ber-iman, sekarang tinggal bagaimana kita meningkatkan ketakwaan menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-Nya,” jelas Santo.


Merasa pelatihan ESQ sangat bemanfaat, ia menilai karyawannya yang ada di Hotel Aston Palembang juga perlu mengikuti training ini. Ia berharap dengan adanya ESQ dapat memicu produktifitas karyawan.


“Pada saat training saya sudah terpikir bahwa ini penting untuk bekal bagi karyawan. Karena selama saya memimpin perusahaan yang paling susah adalah me-manage SDM,” tuturnya.


Tak cukup kerja keras, tapi butuh kerja cerdas


“Kalau dari sisi bisnis, saya membuat filosofi, yaitu bukan berapa banyak yang kamu kerjakan, tapi berapa banyak hasilnya (it’s not how hard you work but how much you get done),” jelasnya.


Dulunya Santo termasuk orang yang pekerja keras. Saking kerja kerasnya, ia sampai jarang pulang ke rumah bahkan tak jarang harus pergi ke luar kota maupun luar negeri. “Dulu saya kerja keras lebih keras dari sekarang. Kerja pagi, siang, malam. Hampir tiap bulan ke luar negeri tapi hasilnya tidak sebanyak ini (sekarang) dan tidak seberkah ini,” ungkapnya.


“Berkah itu artinya luas yaitu bermanfaat bagi agama, keluarga, maupun orang banyak. Dulu hasilnya banyak, tapi masalahnya juga banyak karena tidak berkah, kurang bersedekah, kurang menjalankan perintah-perintah Allah Swt,” tambah Santo.


Menurutnya, untuk menjalankan filosofi itu tidak cukup hanya bekerja keras, tapi juga membutuhkan kerja cerdas. Ditekankannya, orang cerdas harus mampu mengatur waktunya supaya dengan energi yang efesien bisa mendapatkan hasil yang optimal.


“Ini saya terapkan ke seluruh karyawan di Hotel Aston Palembang. Hanya Aston Palembang yang ada filosofi seperti itu. Saya suruh mereka cetak filosofi itu untuk ditempel ke semua ruangan. Jadi seluruh karyawan tak perlu ngeluh capek karena sudah kerja keras. Saya tidak butuh jawaban itu, tapi yang dibutuhkan hasilnya,” ujarnya.


Dikatakannya, kerja cerdas perlu intelektual tinggi, artinya perlu pengetahuan, wawasan dan pengalaman. “Tapi jangan lupa kita juga butuh kecerdasan spiritual, makanya seluruh karyawan Aston Palembang, saya trainning ESQ kan semua,” ujarnya.


Dengan segudang pengalamannya, Santo ingin mendirikan Hotel Aston Palembang menjadi hotel yang berbeda namun tetap berkelas. Di bawah kepemimpinannya, Hotel Aston Palembang menjadi hotel yang tidak menjual minuman keras seperti kebanyakan hotel lainnya.


“Saya sudah banyak berkonsultasi ke para ulama, baik yang paham tauhid, fikih maupun yang tahfizh Qur’an. Jadi sebelum mendirikan hotel, pertentangan itu ada di kalangan keluarga,” ujarnya.


“Akhirnya banyak saya temukan usulan-usulan bahwa apa bedanya kita mendirikan perusahaan rental mobil. Nah ketika kita merentalkan mobil, masak kita tanya mau dibawa kemana dan untuk apa mobilnya. Yang penting niat kita mempermudah orang untuk transportasi. Sama juga dengan kita menyediakan hotel,” jelasnya.


Meski begitu tak jarang ia menerima keluhan dari para tamu karena tidak menyediakan minuman keras. Namun dengan penjelasan yang diberikan oleh pihak hotel, akhirnya tamu-tamu tersebut dapat memahami. Meski begitu, Hotel Aston Palembang tak mengalami penurunan, justru para tamu yang datang semakin banyak dan terus menunjukkan hasil yang terbaik.


“Insya Allah kita berjuang terus, mudah-mudahan di sini Allah membuktikan keperkasaannya bahwa hasilnya bagus terus,” ujarnya.


Tak hanya itu, pihaknya juga menyediakan fasilitas hotel lainnya seperti membangun beberapa mushola dengan luas yang cukup besar. Tujuannya sudah tentu untuk mempermudah para tamu dalam beribadah. “Kita siapkan tiga mushola, yaitu di loby, di office, di basement,” katanya.


Menurutnya, dengan menyediakan mushola di hotel justru banyak pengunjung yang datang untuk menunaikan shalat. “Ini untuk mempermudah orang ibadah. Istilahnya kalau hotel terus dipergunakan orang untuk shalat kan bagus karena dipakai untuk berdoa kepada Allah,” tuturnya.


Sebagai pimpinan, ia tak henti-hentinya mendidik karyawannya untuk senantiasa menerapkan konsep ‘kerja cerdas’ tadi salah satunya saat menjalin hubungan dengan para kliennya. “Misalnya kunjungan ke klien (sales call), satu karyawan pegang 200 account. Dulu, mereka datangi semua, tentu saja akan sangat melelahkan. Sekarang mereka sudah memakai strategi, pilih account yang masuk ke dalam sepuluh besar. Dia harus maintenance account yang berpotensi itu, sehingga dari 200 itu hanya 5 persennya saja yang harus rutin kunjungan,” terangnya.


Baca Juga : Success Story Santo Umar Takihara [Part 4]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA