ESQNews.id, MAJALENGKA — Bendungan Rentang yang berlokasi di Kecamatan Jatitujuh memiliki posisi strategis dalam sistem tata air di Jawa Barat.
Bangunan yang membelah aliran Sungai Cimanuk ini secara kasat mata tampak sebagai infrastruktur teknis berskala besar.
Namun, di balik fungsi utamanya sebagai pengatur debit air, kawasan ini telah berkembang secara organik menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar.
Secara operasional, Bendungan Rentang berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung. Infrastruktur ini berfungsi vital sebagai pusat pembagian air untuk Daerah Irigasi (DI) Rentang.
Melalui mekanisme pintu air yang terukur, bendungan ini menjamin distribusi air ke puluhan ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Indramayu, Cirebon, dan Majalengka, yang merupakan lumbung padi utama nasional.
Ditinjau dari aspek historis, kawasan ini memiliki rekam jejak yang panjang. Pemerintah Kolonial Belanda tercatat memulai pembangunan Bendung Rentang Lama pada tahun 1911 dan mengoperasikannya secara penuh pada tahun 1916.
Keberadaan bangunan lama yang kini berdampingan dengan bendungan baru, yang diresmikan pada tahun 1982, menciptakan lanskap visual yang memadukan sejarah pengairan masa lalu dengan teknologi modern.
Selain fungsi irigasi, kawasan sekitar bendungan juga dimanfaatkan warga sebagai area rekreasi sederhana. Fasilitas jalan inspeksi yang cukup lebar kerap digunakan untuk aktivitas fisik seperti lari pagi maupun bersepeda.
Di titik lain, tepian sungai di sekitar pintu air juga sering terlihat dipadati oleh warga yang melakukan aktivitas memancing, memanfaatkan ekosistem sungai yang masih terjaga.
Namun, pengembangan potensi wisata yang lebih terkonsep hadir melalui partisipasi aktif Komunitas Hujan Keruh. Kelompok masyarakat kreatif asal Jatitujuh ini berinisiatif mengelola aliran Saluran Induk Cipelang menjadi destinasi wisata perahu.
Tidak sekadar menawarkan layanan susur sungai, komunitas ini juga secara rutin mengintegrasikan unsur kebudayaan lokal di lokasi tersebut, salah satunya melalui gelaran Festival Pecunan.
Inisiatif ini berhasil memberikan nilai tambah pada infrastruktur pengairan menjadi ruang atraksi wisata dan budaya yang edukatif.
Dinamika sosial di kawasan ini semakin terasa hidup saat memasuki akhir pekan, terutama pada Minggu pagi. Area sekitar bendungan seketika berubah layaknya pasar rakyat yang dipadati pengunjung.
Banyak pedagang makanan dan minuman menggelar lapak di sekitar area bendungan, menjajakan aneka kuliner lokal kepada warga yang datang untuk bersantai.
Kehadiran para pedagang ini menjadi indikator bahwa bendungan ini juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar.
Salah satu fenomena unik yang menjadi ciri khas Bendungan Rentang adalah tradisi “Pengeringan”.
Kegiatan ini sejatinya merupakan prosedur teknis pemeliharaan rutin dari BBWS dengan cara menutup pintu air.
Namun, surutnya air sungai sering kali dimanfaatkan oleh ribuan warga untuk turun ke sungai dan menangkap ikan bersama-sama, menjadikan prosedur teknis tersebut sebagai atraksi budaya tahunan yang melibatkan partisipasi massal.
Kombinasi antara fungsi infrastruktur dan ruang sosial inilah yang menjadi nilai tambah Bendungan Rentang. Di satu sisi, ia tetap menjalankan fungsi vitalnya sebagai aset negara di bawah BBWS untuk kepentingan irigasi regional.
Di sisi lain, kawasan ini secara alami telah bertransformasi menjadi ruang terbuka publik yang mewadahi berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari olahraga, ekonomi, hingga tradisi lokal. [infomjlk]


