ESQNews.id, MAJALENGKA — Status Aryakiban Land sebagai destinasi wisata air di Desa Rajagaluh Kidul memiliki latar belakang sejarah yang kontras dengan kondisinya saat ini.
Sebelum ramai dikunjungi wisatawan karena kejernihan Sungai Ciputri, kawasan ini justru merupakan area yang lama tidak terjamah karena fungsinya sebagai lokasi pembuangan akhir bagi limbah domestik warga.
Wilayah bantaran sungai ini sebelumnya berada dalam kondisi lingkungan yang kurang ideal.
Berdasarkan temuan data lapangan dalam penelitian “Strategi Tata Kelola Objek Wisata Aryakibansland” (IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2025), area tersebut bertahun-tahun dimanfaatkan secara sepihak sebagai tempat pembuangan sampah liar oleh masyarakat sekitar.
Akumulasi sisa limbah rumah tangga sempat memenuhi area sempadan sungai dalam kurun waktu yang lama.
Bagian tepian sungai yang kini menjadi akses utama bagi pengunjung untuk melakukan aktivitas river tubing tersebut, dulunya tertutup oleh tumpukan material sampah yang mengganggu aliran air dan estetika kawasan.
Perubahan fungsi lahan ini baru terjadi setelah munculnya inisiatif kolektif dari warga lokal.
Mengutip analisis dalam jurnal Pariwisata Nusantara (2024), transformasi kawasan ini didorong oleh strategi pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk mengonversi tantangan lingkungan menjadi sebuah peluang usaha baru.
Kelompok pemuda yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Sungai (MPS) memulai pergerakan dengan melakukan normalisasi aliran sungai.
Upaya pemulihan ekosistem ini dilakukan secara swadaya untuk mengembalikan kebersihan sungai sebelum akhirnya dikembangkan secara bertahap menjadi atraksi wisata komersial.
Kini, langkah pemulihan tersebut telah berhasil mengubah kawasan secara menyeluruh.
Wilayah yang sebelumnya tidak produktif tersebut telah beralih fungsi menjadi aset desa yang bernilai ekonomis, sekaligus menyelesaikan permasalahan sampah yang sempat terjadi di lingkungan tersebut. [infomjlk]


