ESQNews.id, JAKARTA - Bertempat di Mahkamah Agung RI, Yang Mulia Prof. Dr. Sunarto (Ketua MA RI) menerima kunjungan dari Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ/UAG University) dan tim pada tanggal 12 Maret 2025.
Kunjungan tersebut dalam rangka sharing session atau Audiensi antara Mahkamah Agung dengan ESQ untuk meningkatkan integritas yang terintegrasi dengan Sistem Integritas dan Kinerja Pegawai (SIKEP), Assessment Center, dan Pemanfaatan Artificial Intelligence.
Berkesempatan hadir dalam ruangan di antaranya Sugiyanto, S.H., M.H. (Sekretaris Mahkamah Agung RI), Syamsul Maarif, S.H., L.L.M, Ph.D (Ketua Kamar Pembinaan), Darmoko Yuti Witanto, S.H. (Kapusdiklat Manajemen Kepemimpinan), Taufikurrahman, S.Ak. (Kepala Sub Bidang Program dan Kerjasama).
"Menurut riset, 74% perusahaan merekrut orang yang salah. Padahal yang saya yakini bahwa setiap individu memiliki TalentDNA yang unik. Dan organisasi yang hebat adalah yang mampu menempatkan orang sesuai dengan potensi terbaiknya," ujar Ary.
Lebih lanjut, "Saya sangat setuju bahwa ciptaan Tuhan sempurna itu manusia, tak akan pernah bisa digantikan. Seorang hakim tidak akan digantikan oleh AI, karena terlalu banyak yang dipertimbangkan.
AI hanyalah alat bantu untuk hal-hal yang menghabiskan biaya, waktu, maka dibantu oleh AI.
Contoh bagaimana memilah memilih kompetensi yang belum tentu memiliki kapasitas. Yang apabila kita lakukan seleksi dari 10.000 calon hakim, saya tak bisa dibayangkan jika diseleksi dalam waktu cepat dan murah.
Sehingga akhirnya ini hanya untuk mempercepat, tepat, real time, efisien."
Dijelaskan olehnya TalentDNA adalah sebuah metode untuk mengidentifikasi kecenderungan pola perilaku yang terus berulang, diberbagai situasi secara alami, natural, dan spontan.
"Pola perilaku ini menggambarkan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan, sehingga mempengaruhi bagaimana cara kita merespon dan mengambil keputusan dalam kehidupan, secara otomatis. TalentDNA mengungkap algoritma perilaku manusia, yang membuat setiap orang unik dan berbeda.
Adapun 6 benefits of TalentDNA di antaranya succession (duplikasi orang terbaik), people transformation (bisa dilakukan dengan cepat untuk penempatan orang terbaik), rotation, culture creation, synergy and collaboration, selection," tuturnya.
<more>
Ary juga mengatakan, "Sebuah kehormatan bagi kami ESQ bisa berbagi tentang TalentDNA AI di hadapan Ketua Mahkamah Agung RI, YM Prof. Sunarto.
Terimakasih atas apresiasinya terhadap inovasi buatan dalam negeri ini dan menilai bahwa TalentDNA AI dapat membantu Mahkamah Agung dalam memilih SDM bertalenta terbaik di dunia peradilan. Misalnya memilih calon hakim dan panitera yang bertalenta.
Semoga ke depannya ESQ dan Mahkamah Agung dapat bersinergi dalam membangun manajemen talenta yang lebih efektif dan tepat sasaran demi masa depan dunia peradilan yang profesional dan terpercaya," harapnya.
Merespon positif atas audiensi yang berlangsung kurang lebih 2 jam tersebut, Ketua Mahkamah Agung menyampaikan, "Saya memberikan apresiasi yang tinggi atas temuan yang telah dipaparkan oleh Pak Ary Ginanjar itu terkait dengan talentDNA AI.
Menurut saya TalentDNA AI ini akan sangat membantu tugas kita sehari-hari dan ini menjadi hal yang penting mengingat kita bisa memilah dan kita bisa memilih personal atau SDM yang paling tepat.
Saya berharap di era kepemimpinan saya bisa dilakukan. Karena MA bukan untuk sehari dua hari setahun dua tahun, namun ke depannya. Dan ingin diwariskan kepada generasi berikutnya generasi yang handal dan juga humble.
Sebagai info, untuk merekrut calon hakim baru, kami punya APP (Analis Pegawai Peradilan) angkatan 1 sampai 4. Nah angkatan 4 ini belum direkrut. Sehingga ini bisa kita kolaborasikan dengan tim Pak Ary Ginanjar."
Sama halnya yang dituturkan oleh Suharto, katanya, MA ada stok APP 2 angkatan yang belum diseleksi dan uji kelayakan menjadi hakim, staf humas, jurusita, panitera dan lainnya
"Saya sependapat kalau test TalentDNA ini nanti dijadikan instrumen. Karena kita sudah punya beberapa APP dan ada 2 angkatan yang oleh Mahkamah Agung belum diseleksi untuk menjadi hakim.
Nanti kalau menggunakan TalentDNA ini kita bisa memilih dan memilah mana yang layak jadi hakim dengan mekanisme yang sesuai. Kita punya gambaran kira-kira dari sekian orang itu mana yang diarahkan menjadi panitera, hakim dan lainnya," pungkasnya.
Sisi lain, tak kalah sumringah dari YM Sunarto dan Suharto, terlihat antusias dari wajah dan gestur Sugiyanto saat menyambut life tools TalentDNA berbasis AI dari ESQ ini, "Ini sangat membantu sekali untuk menentukan orang yang cocok menduduki hakim.
Jadi begini Pak Ary, kemarin itu kami adakan seleksi dan wawancara calon hakim. Itupun kami masih ragu apakah wawancara ini betul-betul objektif atau tidak. Nah, dengan adanya TalentDNA ini betul-betul sangat membantu kami."
Syamsul dalam sesinya berkomentar terkait situasi di dunia peradilan saat ini dan berpendapat bahwa, "TalentDNA ini bagus sekali. Mungkin ini bisa jadi masukan untuk Pak Ketua misalnya untuk APP kita lakukan test 2 kali."