ESQNews.id, Probolinggo - Ada survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2018, terkait hasil pembelajaran yang dilakukan di sekolah-sekolah di Indonesia belum berhasil memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kemampuan belajar dari tahun ke tahun.
Oleh sebab itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Menterinya Nadiem Makarim berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa di seluruh Indonesia melalui Sekolah Penggerak atau Program Organisasi Penggerak (POP) yang mampu mendemonstrasikan kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership).
Mendengar hal tersebut Yayasan Ary Ginanjar Agustian (YAGA) - ESQ sigap mengusulkan program sekolah penggerak dengan berbasis kepada pendidikan karakter, bagaimana menanamkan kebiasaan (habits) yang baik dan berakhlak mulia.
Maka dilaksanakanlah MoU antara Yayasan Ary Ginanjar Agustian (YAGA) dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo 420/7113/426.101/2020 dan 003/PKS/YAGA/X|ll2020. Tahun 2020 terdapat 20 Peserta Kepala Sekolah dan 262 Guru dari 20 Sekolah Sasaran yang telah ditunjuk untuk mengikuti Program Organisasi Penggerak (POP) Tahun 2021-2023.
Sekolah yang diberikan pelatihan dari YAGA di antaranya SDN Sukodadi I, SDN Sukodadi II, SDN Patokan I, SDN Semampir I, SDN Besuk Agung, SDN Bremi II, SDN Temengungan, SDN Banyuanyar Kidul, SDN Maron Wetan I, SDN Sukokerto I, SDN Karanggager I, SDN Klaseman I, SDN Sebaung I, SDN Kedungdalem I, SDN Kedungdalem II, SDN Sumberkedawung, SDN Munengleres I, SDN Sepuhgembol I, SDN Lumbang II, SDN Ngepung dan lain lain.
<more>
Sebelumnya beberapa sekolah melaporkan berbagai keluhannya ke tim YAGA dimulai dari SDN Patokan 1, SDN Karanggeger, dan SDN Sepuh Gembol. Dari setiap sekolah hadir di dalamnya wanita bernama Like (Kasi Dinas Pendidikan), Tika (LPMP Jatim) dan lainnya. Ada Erna Triwati (Guru di SDN Klaseman), Purnomo (KS SDN Sebaung dan SDN Klaseman).

Mereka mengeluhkan beberapa hal seperti pengajar belum bisa mengendalikan emosi, para guru belum tahu cara mengeluarkan potensi dari masing masing murid, murid mengaku cepat bosan saat pembelajaran dimulai.
Oleh sebab itu, hampir 20 sekolah diberikan Program dari YAGA yang sudah berjalan dari bulan Oktober 2021 hingga Juli 2022. Diawali dengan program Pre Survey - Evaluasi Kemampuan Mengajar Guru sebelum pelatihan. Kemudian Program Membangun Komitmen dan Sosialisasi Transformasi “Sekolah Merdeka” kepala sekolah dan guru.
Adajuga Program Membangun Mindset untuk Kepala Sekolah & Guru, Pemimpin Berkarakter Untuk Sekolah Merdeka, Guruku InspirasiKu, Evaluasi & Mentoring berkala Pertama untuk Kepala Sekolah, Program Maintenance E-Learning seperti Coaching (untuk Kepala Sekolah) sedangkan Public Speaking (untuk Guru), Mengajar dengan Metode Jari Al Jabar, Post Survey - Evaluasi Kemampuan Mengajar Guru setelah pelatihan Peserta.
Selebihnya yaitu terkait Evaluasi & Mentoring berkala (Penyegaran, penguatan, evaluasi, peningkatan, Intervensi Supervisi dan Bimbingan Akademik Kepala Sekolah Melalui Coaching Group secara Daring).
Lalu, Evaluasi & Mentoring berkala (Penguatan, evaluasi, peningkatan Intervensi Keterampilan Pedagogis Guru Melalui metode Mengajar ala ESQ). Dan Evaluasi Akhir Program tatap muka (kunjungan ke Probolingo program Kepala Sekolah).
Setelah mendapat berbagai program dari YAGA, guru dan kepala sekolah jadi bertransformasi menjadi guru yang pancasila dan menciptakan murid yang pancasila.
Program sudah berjalan hingga tahun ke 2 (2022), ada yang perubahan positif dari setiap lembaga pendidikan tersebut setelah mengimplemengasikan Program Program dari YAGA seperti menambah kematangan dan pengendalian emosi para pendidik yang lebih terkontrol (lebih sabar), Doa dan yel yel dilakukan sebelum pelajaran dimulai agar menambah semangat siswa.

Kemudian, para guru memberi kebebasan kepada siswa agar lebih kreatif dan berpendapat untuk mengeluarkan potensi yang dmilikinya. Tak lupa, di sela sela pelajaran para siswa diberikan ice breaking agar tak jenuh.
Begitu pun yang dirasakan oleh SDN Sebaung 1 dan SDN Klaseman. Menurut keterangan dari Tim YAGA yang berkunjung ke sana mengatakan bahwa perkembangan lembaga setelah mengikuti training YAGA sudah semakin bagus, kepala sekolah sampai di buat kagum oleh Trainer YAGA sampai beliau bertanya Ini sebenarnya produk siapa?
Kepala sekolah SDN Sebaung 1 berharap seandainya semua guru seperti trainer YAGA, mungkin Indonesia akan damai dan masuk surga semua.
Lalu, Kemanfaatan bagi lembaga sangat bagus dan bisa mempengaruhi lembaga lain yang belum mengikuti pelatihan YAGA. Untuk pembelajaran dikelas ini orientasinya ke siswa. Siswa sudah mulai aktif dan tidak monoton, siswa punya semangat, setiap kelas sudah punya yel-yel sendiri dan ada ice breaking.
Salah satu dampak yang terlihat nyata adalah hasil dari Fun Theory. Kecenderungan siswa memang tidak suka belajar dengan cara yang membosankan, untuk itu diperlukan cara belajar yang menyenangkan dan membuat para siswa tertarik terhadap materi yang disampaikan oleh pengajar. Hal ini sesuai dengan teori neurosains bahwa otak pusat berpikir (neokorteks) akan bekerja jika pusat emosi (system limbik) dalam keadaan bahagia.
Bisa dibayangkan seperti apa kualitas yang dihasilkan jika setiap siswa belajar penuh semangat dan antusias? Mereka menjadikan belajar sebagai momen yang sangat menyenangkan bahkan ilmu-ilmu yang disampaikan tersimpan dengan kuat dalam pikiran. Maka apa dampaknya? Tentu prestasi, impian, dan bahkan potensi-potensi besar dari siswa akan bermunculan.

Begitu pun insight yang dirasakan oleh guru guru di SDN Klaseman yang menyampaikan bahwa setelah mengikuti training dari YAGA, akhirnya guru guru bisa mengenal dan membedakan karakteristik anak baik tipe visual, auditori dan kinestetic.
Harapan di tahun depan yaitu pelatihan di laksanakan tatap muka agar komunikasi semua guru tambah lancar dan bisa saling berefleksi diri. Materi materinya bisa ditambah lagi agar pengetahuannya semakin luas.

Amir Hamzah Madani S.Pd "Sebelumnya, saya merasa bahwa kita sebagai tenaga pendidik kurang memahami cara terbaik dalam menyampaikan pesan, pelajaran yang ingin disampaikan kepada siswa, sering terjadi miskomunikasi dengan siswa. Namun setelah mengikuti pelatihan dari YAGA, kita sudah semakin memahami cara terbaik dalam menyampaikan pesan kepada siswa, harapannya kita semakin pandai dalam menyampaikan pesan kepada siswa."
Drajad Widodarini S.Pd "Awalanya saya tidak memahami Metode Mengajar ala ESQ. Sekarang merasa luar biasa dan lebih paham tentang Metode Mengajar ala ESQ."
Selengkapnya klik video di sini



