Dalam satu kisah Busthami adalah seorang sufi, suatu
hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu
berkerut. Lelaki itu mengadu, "Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya
tak pernah lepas beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih
bermunajat. Istri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan
pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu
Sang Guru menjawab sederhana, "Perbaiki penampilanmu dan ubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya tak pernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya."
Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan menampilkan wajahnya yang senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdullilah sesudah itu ia tak pernah datang lagi untuk berkeluh kesah.
Dikisahkan dalam sejarah, bahwa senyuman Rasulullah SAW mencerminkan keindahan akhlak dalam berperilaku sehari-hari. Senyumnya tulus yang memancarkan pesona hingga getar dan kehangatannya seolah masih terasa hingga kini meski berjarak ribuan tahun dan ribuan kilometer. Ketulusan senyumnya datang dari dasar hati yang paling dalam agar dapat membahagiakan dan memuliakan orang lain. Senyuman ini menunjukkan kondisi parallel antara yang bersifat lahiriyah (bibir) dengan batiniyah (hati).
Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS At Tiin:5), untuk itu hendaknya kurnia ini tidak dinodai dengan penampilan wajah kusam, karena sebagaimana kata Rasulullah, "Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
Maka tersenyumlah karena senyum adalah sedekah paling murah tapi besar pahalanya. Ibadah yang mudah dan ringan.
Pernah diterbitkan di Nebula ESQ Magz Edisi 1





