NEWS
ESQNews.id, BANDUNG โ Di tengah keprihatinan mendalam terkait tingginya angka gangguan kesehatan mental di kalangan pelajar, Korwil Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Jawa Barat mengambil langkah konkret. Sebanyak 1.000 siswa tingkat SMP dan SMA/SMK se-Jawa Barat mengikuti Training ESQ Peduli Anak Bangsa secara gratis bertema โMindfulness for Teenagerโ pada 9, 11, dan 12 Maret 2026 di Pusdiklat STIKes Dharma Husada, Bandung.Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program besar yang juga melibatkan Training ESQ Peduli Pendidikan bagi 1.000 guru se-Jawa Barat.Acara ini terselenggara berkat sinergi luar biasa antara Disdik Jawa Barat, ESQ, FKA ESQ, STIKes Dharma Husada Bandung, UPZ Baznas STIKes Dharma Husada, Quran Cordoba, serta Nur Quran Indonesia.Berbeda dengan seminar konvensional, para siswa diajak menyelami pengalaman spiritual dan emosional yang mendalam. Dipandu oleh Coach Rudi, trainer ESQ berlisensi dari Founder ESQ, Prof. Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, suasana ruangan disulap layaknya sebuah pertunjukan yang mampu memikat atensi sekaligus menyentuh relung hati.Korwil FKA ESQ Jawa Barat, Yusuf Haryasa, menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai respon nyata atas data mencemaskan terkait kesehatan mental siswa."Berdasarkan data yang ada, angka gangguan kesehatan mental pada siswa cukup tinggi. Kita tidak perlu lagi banyak berteori. Mari kita mulai dari diri sendiri dengan memberikan energi serta keyakinan yang kuat," tegas Yusuf.Langkah ini sejalan dengan urgensi yang disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, bersumber dari sosial media yang menyoroti perlunya asesmen terstruktur bagi siswa.Berdasarkan data skrining CKG periode Agustus-Oktober 2025, tercatat hampir 50 persen dari 148.239 siswa di Kota Bandung terindikasi mengalami berbagai masalah kesehatan jiwa, mulai dari kecemasan (anxiety) hingga depresi.Para peserta yang hadir tampak antusias mengikuti setiap sesi. Bagi siswa SMK Karya Bhakti Pusdikpal Cimahi, pelatihan ini menjadi pintu pembuka cakrawala berpikir mereka tentang keagungan Sang Pencipta."Jujur, saya termasuk orang yang jarang bersedih. Namun, saat sesi renungan bersama Coach Rudi, pertahanan saya luluh. Materi tentang keagungan alam semesta menyadarkan saya betapa Maha Besarnya Allah," ungkap salah satu siswa dengan suara bergetar.Energi positif juga terpancar dari rombongan SMK PGRI Lembang. Lifa dan rekan-rekannya merasa stigma bahwa pelatihan karakter itu kaku berhasil dipatahkan. "Acaranya seru, asik, dan sama sekali tidak membosankan. Kami pulang membawa ilmu baru dan semangat yang jauh lebih positif," ujar Lifa.Senada dengan itu, perwakilan SMKN 1 Bandung, Fadly dan Umar, merasa mendapatkan perspektif baru dalam menghadapi tantangan hidup."Sekarang saya tahu, saat menghadapi masalah, pendekatan spiritual seperti shalat, istighfar, dan zikir jauh lebih menenangkan dibandingkan sekadar bermain ponsel atau healing keluar," tutur Fadly.Umar menambahkan, "Kita belajar untuk tidak sombong, karena di hadapan Allah, manusia sangatlah kecil. Prinsip saya sekarang: tetap teguh, tidak mengeluh, dan hanya bergantung pada Allah."Energi luar biasa juga datang dari rombongan besar SMK PU Negeri Bandung. Bagi Freddy, Esa, Maulid, dan rekan-rekannya, training ini bukan sekadar duduk di dalam ruangan, melainkan sebuah perjalanan membuka wawasan yang jauh lebih luas dari sekadar teori di buku sekolah."Sangat seru! Kami tidak hanya memperdalam ilmu agama dan keyakinan, tapi juga belajar perihal hati; apa yang harus kita jaga dan apa yang harus kita hindari dalam hidup," ujar Freddy dengan mantap.Suasana semakin hidup ketika Coach mampu membawa suasana menjadi sangat cair namun tetap bermakna. Maulid menceritakan betapa ia terkesan dengan materi yang dimulai dari proses penciptaan bumi hingga rahasia tata surya yang dihubungkan dengan kebesaran Tuhan. Hal ini diamini oleh Suci dan Indy yang merasa mendapatkan manfaat besar dalam menentukan skala prioritas hidup."Kami jadi belajar bagaimana memprioritaskan apa yang seharusnya menjadi prioritas utama sebagai remaja. Selain itu, kami bisa saling mengenal lebih dalam satu sama lain," tambah mereka.Pengalaman menarik juga dirasakan oleh Aditya dan Keyzar. Bagi Keyzar, ilmu yang ia dapatkan selama kegiatan ini adalah sesuatu yang sangat berharga dan fundamental. Ia merasa banyak orang di luar sana yang belum benar-benar "mengenal" siapa Penciptanya secara mendalam."Acara ini sangat penting karena banyak dari kita yang mungkin tahu tentang Tuhan, tapi belum benar-benar mengenal-Nya secara mendalam. Di sini kami belajar kenapa dunia ini diciptakan dan bagaimana mengenal Allah melalui cara yang sangat masuk akal bagi kami," ungkap Keyzar dengan penuh keyakinan.Ia pun berharap agar rekan-rekan sebaya lainnya di seluruh Indonesia bisa merasakan pengalaman serupa agar memiliki pegangan hidup yang kuat. Yusuf Haryasa mengatakan bahwa dengan terlaksananya program ini, diharapkan para remaja tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki ketangguhan mental (resilience) dan kecerdasan spiritual yang kokoh. Ini adalah bukti bahwa melalui sinergi yang tepat, generasi muda Jawa Barat mampu menemukan kembali makna hidup dan melangkah menuju masa depan dengan penuh optimisme.