ESQNews.id, JAKARTA - Banyak cara mengenakan busana Muslimah. Ada yang membeli busana jadi, ada juga yang memadu-padankan baju lengan panjang dengan rok atau celana panjang. Yang penting tidak melanggar syariat.
Setiap kali bulan Ramadhan datang, hati drg. Yuniar Zen Marsiano, Sp Ort, seakan terlecut oleh komitmen spiritual: melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh. Termasuk mengenakan jilbab yang diwajibkan bagi wanita Muslimah. Memang, alumnus ESQ Eksekutif Angkatan 29, ini mulai 'hijrah' mengenakan busana Muslimah saat Ramadhan. Tepatnya tanggal 17 Ramadhan sembilan tahun silam. "Saat itu sepertinya saya mendapat hidayah. Nggak tahu apa sebabnya," ujar ibu dua anak itu.
Yuniar
semula ingin ke salon untuk menyasak rambut. Namun tiba-tiba perasaan takut
dosa kalau tidak memakai jilbab, menghinggapi dirinya. Ia menangis dan
mengurungkan niatnya.
Setelah peristiwa itu, Yuniar ingin segera merealisasikan niatnya memakai jilbab. Sebab keputusannya telah bulat. Apalagi suami dan mertuanya ikut mendukungnya. Keesokan harinya ia mulai mengenakan jilbab. Wanita kelahiran 17 Juni 1964, ini memakai jilbab pemberian sang mertua. Yuniar benar-benar telah berhijrah.
Sebelum mengenakan busana Muslimah, Yuniar termasuk orang yang suka mengikuti perkembangan mode. Bahkan teman-temannya suka mengikuti gaya pakaiannya. Apalagi saat masih kuliah. Rok Yuniar, misalnya, desainnya kerap ditiru oleh rekan-rekannya.
Bagi
dosen Universitas Trisakti, Jakarta, itu ada banyak keuntungan mengenakan
busana Muslimah. Selain memang karena agama memerintahkan wanita memakai
jilbab, Yuniar mengaku merasa lebih aman mengenakan jilbab. Apalagi ia sering
pulang malam-selain mengajar Yuniar juga membuka praktik. Orang-orang yang
tadinya suka mengganggu, kini tidak lagi. "Mereka sungkan untuk menggoda.
Paling-paling mereka bilang, 'Bu Haji...Bu Haji...assalamu'alaikum'. Saya
ketawa dalam hati karena saya belum haji," kenang Yuniar.
Selain
membeli busana Muslimah di beberapa butik ternama, Yuniar kerap menjahitkan
pakaian kepada desainer kepercayaannya. Sebagian dari busana Muslimah yang
dimilikinya sekarang adalah hasil rancangan desainer pribadinya yang juga
pasiennya.
Hal senada dikatakan Hayum Arumi (41). Alumnus ESQ Profesional Angkatan 16, ini mengaku mulai memakai busana Muslimah sejak tahun 1995. Sebagaimana Yuniar, waktu itu, tiba-tiba hati Hayum tergerak untuk memakai jilbab. Alasannya, dengan berbusana Muslimah ia akan terhindar dari perbuatan dosa. "Jilbab bisa mencegah kita untuk melakukan sesuatu yang dilarang Allah," ujarnya kepada NEBULA.





