ESQNews.id, JAKARTA – Tidak dapat dipungkiri bahwa berbagai faktor-faktor yang tidak terduga mempengaruhi berjalannya sebuah pekerjaan. Kecelakaan kerja salah satu faktor fatal sesuai pada laporan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.
Pada tahun 2020 terdapat 221.740 kasus kecelakaan kerja. Karena hal ini, efektivitas kinerja otomatis berkurang dan berdampak pada program ke depannya.
Dengan faktor tersebut, PT. Adaro Indonesia mengikuti serangkaian Training Safety Mindset For Zero Accident, Safety Leadership Dialogue yang dilaksanakan oleh ACT Consulting International.
Bertempat di Public Hall Adaro Indonesia, training yang berlansung dua hari, 8 – 9 Agustus 2024, dari jam 08.00 – 16.30 WIB diikuti oleh 45 partisipan.
Dengan dipandu langsung oleh Para Trainer Terlisensi Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian yakni Coach Trie Setiatmoko (Tiko) & Coach Denny Kurniawan. Namun sebelumnya, perhelatan di buka oleh Didik Triwibowo (HSE Deputy Division Head Adaro Indonesia) sekaligus Opening Speech.
Mengapa harus bersama ACT Consulting? Apa keunggulan programnya?
Training Safety Leadership Dialogue berfokus kepada meningkatkan kemampuan kepemimpinan dalam mempromosikan budaya keselamatan kerja (K3) yang inklusif dan proaktif, mendorong pemimpin untuk menjadi role model dalam mematuhi prosedur keselamatan dan mempromosikan praktik keselamatan terbaik dengan skill coaching sehingga memotivasi tim untuk mencegah kecelakaan kerja.
Safety leadership adalah kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, tidak hanya berfokus pada perencanaan dan kebijakan tetapi juga implementasi yang efektif pada perilaku manusia.
Kepemimpinan yang efektif harus mampu memotivasi dan menginspirasi setiap karyawan untuk mengadopsi perilaku keselamatan sebagai budaya kerja.
Safety Leadership yang efektif adalah yang mampu mengintegrasikan strategi, people (SDM), dan safety performance dengan nilai-nilai seperti AZAM.
Tidak hanya itu, Basic Coaching Skill juga diberikan kepada Adaro Indonesia. Dengan Skill ini dalam mempraktikkan Safety Leadership Dialogue yaitu listening (mendengarkan) dan asking (bertanya).
Listening memungkinkan pemimpin untuk memahami benar kekhawatiran dan perspektif tim serta menangkap informasi penting yang tidak disampaikan secara eksplisit. Kemudian, asking yang efektif memfasilitasi refleksi dan pemikiran mendalam, mendorong anggota tim untuk mengeksplorasi solusi dan tanggung jawab terhadap keselamatan kerja.
Sedangkan, coaching untuk performa menggunakan Teknik GROW (Goal,Reality,Options,Will) sangat efektif dalam konteks dialog kepemimpinan keselamatan.Teknik ini membantu memfasilitasi percakapan yang konstruktif untuk meningkatkan kinerja keselamatan.
Dengan menggunakan teknik GROW, pemimpin keselamatan dapat memfasilitasi percakapan yang produktif dan terfokus, membantu tim mengidentifikasi solusi efektif, dan meningkatkan kinerja keselamatan secara keseluruhan.
<more>
Dalam sesinya, Coach Tiko menyampaikan tahapan Safety Leadership Dialogue yang terdiri dari 5 tahapan antara lain Building Trust (saling percaya), Setting Agenda (menyepakati topik dan tujuan), Defining Goals (menetapkan tujuan yang jelas, terukur, dan spesifik), Coaching Journey (memberikan umpan balik, dukungan, dan dorongan) serta Action Plan (menyusun langkah konkret untuk mencapai tujuan).
Dilanjutkan oleh Coach Denny Kurniawan perihal hal-hal yang harus diperhatikan dalam memberikan umpan balik yang jelas, terfokus, dan konstruktif dengan menggunakan metode SBI.
"Situation (Situasi), mengidentifikasi konteks spesifik dimana perilaku itu terjadi. Behavior (Perilaku), menjelaskan perilaku konkret yang diamati tanpa asumsi dan penilaian. Serta Impact (Dampak), menyampaikan bagaimana perilaku tersebut mempengaruhi keselamatan atau operasi.”
Apa yang dirasakan peserta selama pelatihan? Beberapa testimony dari peserta sebagai berikut :
Mustakim (Supervisor OB, PT. BUMA) memberikan respon positif, “Selama 2 hari ini kami mendapatkan safety mindset yang merupakan kebutuhan bukan hanya kewajiban, yang harus melekat dan wajib kita lakukan setiap aktivitas.
Pembelajaran yang saya dapatkan dalam training ini: Pertama, tahu bagaimana memposisikan diri sebagai leader untuk mewujudkan zero accident. Kedua, bagaimana seorang leader berdialog tentang Safety kepada tim sekaligus mengembangkan tim melalui metode coaching yang benar.
Terima kasih untuk PT. Adaro Indonesia bersama ACT Consulting yang sudah melaksanakan acara ini mudah-mudahan bisa berkelanjutan sehingga ilmu ini menguatkan budaya perusahaan.”
Pudji Lestari (Section Head MPS CT, PT. SIS.) sampaikan, "Pembelajaran penting yang diperoleh adalah mendapatkan mindset safety leadership dialogue yang benar terkait proses untuk listening-asking –respon, yang sangat berkaitan dengan pekerjaan di tempat saya.
Pentingnya ilmu ini untuk melaksanakan beberapa target yang sedang dijalankan. Saya ucapkan terimakasih kepada PT. Adaro Indonesia yang sudah memberikan kesempatan belajar.
Semoga apa yang telah saya dapatkan selama 2 hari ini bisa membantu dan memberikan manfaat bagi saya serta rekan-rekan dalam menjalankan aktivitas di perusahaan."
Aries Aditya Kurniawan (Plant Production Control Foreman, PT. Adaro Indonesia) katakan, "Saya mendapatkan banyak hal dalam pelatihan ini, di antaranya saat menggunakan teknik coaching, safety leadership dialogue, yang sangat penting untuk mewujudkan tujuan dan target dari perusahaan.
Dalam teknik ini sangat memudahkan dalam menyampaikan pesan safety yang tanpa sadar kalau mereka sedang di coaching.
Sehingga mereka jadi lebih leluasa, terbuka pandangannya.Terimakasih untuk Adaro dan ACT Consulting. Semoga bisa dilanjutkan di batch berikutnya," tuturnya.
“Merasa lebih pede, lebih semangat dalam melakukan tindakan terhadap atasan dan bawahan dengan cara atau ilmu yang sudah disampaikan, semoga selalu bisa menerapkannya."
“Metode GKF (Gerak, Kata, dan Fokus) untuk membantu membangun semangat yang dapat diterapkan kepada diri sendiri dan rekan kerja. Selain itu, penjelasan tentang coaching, dimana selama ini dilakukan dengan metode menasihati, dalam training ini dijelaskan metode pelaksanaannya dengan teknik bertanya dan runutan pertanyaan yang tepat agar hasilnya tepat sasaran."




