ESQNews.id, JAKARTA - Majalengka yang terkenal dengan Kota Angin ini sedang berkembang pesat. Salah satunya yaitu perkembangan industri dan adanya Bandara Internasional Jawa Barat yang terletak di daerah Jatitujuh.
Namun jauh sebelum itu, banyak yang tak mengetahui sejarah dari Majalengka. Maka dari itu, simak berikut ini:
Peta buatan seorang penjelajah yaitu Junghuhn tahun 1861 menggambarkan
adanya jalan penghubung antara Sindang-Kassie (Madjalengka) dan Maja. Peta
Belanda di tahun 1922 juga mencantumkan adanya jalan antara Majalengka dan
Maja.
Sekitar tahun 1930-an mulai dibangun atau memperlebar antara jalan
Maja - Talaga.
<more>
Pada tahun 1936, Surat Kabar 'Het Nieuws van den dag Voor
Nerderlandsch-Indies, menyebutkan pada tanggal 3 November 1936 Bupati
Majalengka, R.M.A Suariatanudibrata meresmikan jalan Maja - Talaga di Gedong Pasanggrahan Maja (dulu lokasinya selatan Alun-alun Maja, kini menjadi
kompleks SMA).
Tak hanya meresmikan jalan, R.M.A Suriatanudibrata juga
meresmikan 'Waterleidingbedrijf' atau saluran pipa air bersih yang terletak di
Talaga (Kini dikenal dengan Mata Air Pantan Cigowong).
Surat Kabar 'Het Nieuws van den dag Voor Nerderlandsch-Indies
juga memberitakan pada Minggu 13 Desember 1936, sekelompok orang dari perkumpulan
Teknik Pertanian mencoba jalan baru Maja - Talaga dengan rute memutari Gunung
Ciremai dari Cirebon - Kuningan - Cikijing - Talaga - Maja - Cigasong -
Rajagaluh - Sumber dan kembali ke Cirebon.
Dalam berita tersebut disebutkan juga bahwa dari Maja kita
bisa berjalan ke Cibodas (sekarang menjadi area persawahan di Blok Sukamurni
Maja Selatan). Untuk melihat sisa pengeboran dari sumur minyak pertama di
Indonesia oleh Jan Reerink pada tahun 1871 dan sempat dilanjutkan oleh N.V
Bataafsche Petroleum Maatschappij / B.P.M.
Berdasarkan Buku 'Cultuuradresboek voor Indie (1937 dan 1939)
Maja merupakan akses jalan menuju Perkebunan Teh Argalingga. Dimiliki oleh Perusahaan N.V Amsterdam Thee Cultuur Maatschappij yang dipimpin oleh C.F.J
Chaulan. Dan Perkebunan Teh Tjiboenoet milik N.V Cultuur Maatschapij Tjibonoet
yang dipimpin oleh E.A Straatman.