Senin, H / 02 Februari 2026

Luka yang Tidak Terlihat

Kamis 13 Nov 2025 22:44 WIB

Author :Hary Kuswanto

Tangkapan Layar

Foto: Dokumen Pribadi

#CeritaHK


ESQNews.id, JAKARTA - Aku menatap layar komputer, jantung berdebar, tangan berkeringat. Lagi-lagi, laporan yang kubuat dikembalikan Pak Arman dengan catatan panjang dan tajam. “Ini masih jauh dari standar,” tulisnya. Rasanya seperti disambar hujan badai di tengah terik siang. Aku sedih, jengkel, bahkan marah, tapi tak ada tempat untuk meluapkan perasaan itu.


Hari-hari berikutnya terasa tegang. Setiap komentar Pak Arman seperti pisau yang menusuk, kadang di depan tim lain, membuat hati ini sakit. 


Rekan-rekanku terlihat menunduk, takut salah bicara. Aku merasa luka itu tidak terlihat oleh siapapun, tapi tetap membekas di hati. 


Malamnya, aku menatap langit dari jendela kantor, menahan air mata. “Kenapa harus begini?” bisikku.


Namun, aku mulai merenung. Mengapa aku merasa sakit begitu dalam? Apakah karena Pak Arman tidak adil, atau karena ekspektasiku terlalu tinggi pada pengakuan orang lain? 


Aku sadar, luka ini ada karena aku terlalu ingin diterima, dihargai, dan diakui. Bukan karena kesalahan orang lain.


Aku menulis catatan refleksi di meja, hati bergetar. Setiap kata pedas yang kudapatkan memaksaku untuk lebih sabar, lebih teliti, lebih profesional. Aku mulai belajar menahan emosi, menatap setiap kritik sebagai kesempatan untuk berkembang, bukan sebagai hukuman. 


Rasanya haru, lega, bahkan bahagia karena aku menemukan kedamaian di tengah luka yang tidak terlihat.


Hari itu, aku tersenyum saat menyelesaikan tugas dengan tenang. Tidak ada dendam, tidak ada rasa jengkel. Aku belajar bahwa kebahagiaan bukan tergantung pada orang lain, tapi pada cara kita merespon setiap situasi. 


Aku menutup buku harianku, menyadari bahwa setiap pengalaman pahit adalah guru yang sabar mengajarkan kita menjadi pribadi lebih bijak.


Luka yang tidak terlihat sering kali lahir dari ekspektasi diri sendiri. Belajar menenangkan hati, menerima kenyataan, dan melihat hikmah adalah cara terbaik untuk berkembang.


Mari kita belajar melihat diri sendiri, menenangkan hati, dan menemukan hikmah dari setiap luka. Dengan begitu, kita menjadi pribadi yang lebih kuat, sabar, dan bijak.


"Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa menyesuaikan layar kapal." – Dolly Parton


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA