Senin, H / 02 Februari 2026

Konsep Gaya Hidup Minimalis Ala Rasulullah

Kamis 25 Jul 2024 14:54 WIB

Author :Kontributor

Ilustrasi

Foto: pranala.co

ESQNews.id, Jakarta - Melansir dari laman Islam NU, Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai anak Adam tidaklah ada dari hartamu kecuali yang engkau makan kemudian lenyap, atau pakaian yang engkau pakai kemudian usang, atau yang engkau sedekahkan dan jadi simpananmu (di akhirat).” (HR Muslim). 


Penjelasannya yakni:


1) Konsep gaya hidup minimalis:


a. Tidak hanya tentang memperkecil jumlah barang yang dimiliki, tetapi lebih pada menemukan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, serta menghargai nilai-nilai yang sejati dalam kehidupan; (Kebutuhan = terbatas; keinginan = tidak terbatas);


b. Menyingkirkan ketergantungan pada hal-hal yang tidak diperlukan (Adrianus, dkk);

c. Kepemilikan barang sesuai kebutuhan, yang akan berpengaruh pada pengelolaan stress yang baik dan juga rasa kemerdekaan diri lebih tinggi. (Francine Jay, Seni Hidup Minimalis);

2) Gaya hidup minimalis secara substansi merupakan ajaran Rasulullah yang termanifestasikan dalam wujud kesederhanaan pola hidup beliau, yang tertuang dalam konsep:

a. Tidak membanding-bandingkan pencapaian hidup kita dengan orang lain, yang menyebabkan orang akan mengingkari nikmat Allah: “Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih nyata membuat kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (Muttafaq ‘alaih);

b. Memposisikan diri hidup di dunia sebagai seorang musafir, dimana barang barang yang dibawa hanya sedikit yang krusial saja; "Rasulullah SAW pernah memegang kedua pundakku seraya berkata, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” 


Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR Al-Bukhari).  


c. Menegaskan bahwa pada akhirnya harta yang dimiliki seseorang bersifat fana dan lenyap, baik dalam bentuk makanan, kebutuhan sehari-hari atau sedekah amal jariyah. Sedangkan sisanya, boleh jadi bukan dirinya yang menikmatinya;


<more>


3) Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak terlalu terikat pada kekayaan dunia yang sementara, melainkan memprioritaskan nilai-nilai spiritual dan amal kebaikan yang akan membawa keberkahan di dunia dan akhirat.


Melepaskan ketergantungan pada harta benda, bukan tentang hidup serba berkekurangan, akan tetapi tentang kecukupan dan keseimbangan dalam menilai sesuatu.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA