Oleh: Mushlihin (Guru MA Muhammadiyah Takerharjo Solokuro Lamongan)
ESQNews.id, JAKARTA - Saya singgah di alun-alun Kota Batu (30/5/22) Jawa Timur. Keperluannya mendampingi murid madrasah berwisata. Saya terpikat dengan ikon buah apel. Saya pun mengabadikannya.
Tiga pekan kemudian saya membaca modul ajar Bahasa Arab kelas 8 milik Zahid. Ada kisah buah apel dan kejujuran di sampul belakang.
Tsabit bin Marzaban berjalan di Kufah Irak. Pemuda itu hendak menuntut ilmu. Ia merasa lapar. Ia pun memetik sebuah apel.
Setelah memakannya ia tersentak. Ia sangat bersalah. Ia lantas mencari pemiliknya. Ia malah disuguhi makanan dan minuman.
<more>
Tsabit menolaknya. Ia berucap, "Sebenarnya aku kemari untuk meminta maaf. Pasalnya aku memakan sebuah apel tanpa seizinmu."
Pemilik kebun menjawab, "Baiklah aku akan memaafkanmu asal mau menikahi putriku yang tunadaksa. Dia buta, tuli, bisu, dan lumpuh."
Tsabit berpikir semalaman. Ia ingin mendapat rida pemilik kebun. Karenanya ia bersedia menikah.
Usai ijab kabul, Tsabit memasuki kamar sang istri. Ia kaget. Istrinya ternyata wanita salihah, cantik jelita, dan cerdas.
Selanjutnya mereka dikaruniai anak yang bernama Imam Abu Hanifah. Tokoh yang pertama kali menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal dari kesucian (taharah).
