Sabtu, H / 17 April 2021

Kendaraan Menuju Sang Khalik (2) - Kisah Trainer ESQ

Jumat 24 Jan 2020 16:41 WIB

Reporter :Rahma Hayati

Trainer ESQ Muhlis Samsuddin

Foto: dok.ESQ


ESQNews.id - Saat penulis buku best seller ESQ tersebut menyampaikan 99 Asmaul Husna, tanpa sadar airmata Muhlis berderai. Di situlah Muhlis menemukan cahaya serta jawaban tentang siapa Allah SWT yang dicarinya selama ini. Pada saat itulah, bisikan dalam hatinya untuk dapat memiliki buku ESQ tersebut begitu kuat. Namun, saat itu, ia tidak punya uang untuk membelinya. Saat pembagian doorprize, namanya ternyata disebut sebagai pemenang. “Subhanallah.” Maha Suci Allah yang maha mendengar semua bisikan hati hambaNya. Hatinya begitu girang, hingga tidak lebih dari tiga hari Muhlis menyelesaikan membaca buku tersebut.

 >>> Sebelumnya: Kendaraan Menuju Sang Khalik (1)

Mendapat hadiah buku ESQ itu merupakan jalan pembuka yang akhirnya membawanya untuk berkenalan dengan Ary Ginanjar Agustian, sang pengarang. Dan, waktu telah membuatnya yakin bahwa hadiah itu adalah jawaban atas doa-doanya selama ini.

Muhlis yang saat itu masih bekerja membantu Direktur Keuangan Kadin, Iesje S. Latief, berfikir beberapa kali untuk bergabung dengan ESQ. Akhirnya, dengan keyakinan kuat, dan dukungan dari Bunda Iesje dan ajakan dari sahabatnya, Ridwan Mukri, ia pun memantapkan hatinya bekerja di ESQ.

 

Di awal mula bergabung dengan ESQ, Muhlis yang belum banyak memiliki pengalaman, harus mendampingi master trainer Ary Ginanjar sebagai sekretaris. Banyak hal yang bisa diperoleh sebagai bahan pembelajaran untuk dirinya. Ilmu yang begitu banyak, terutama suatu hal yang istimewa, yaitu saat Muhlis bisa mengubah semua mindsetnya, yaitu keyakinan kuat tentang Allah SWT dan Allah adalah cinta tertinggi dalam hatinya. Itu juga menambah keyakinan terhadap cintanya kepada Nabi Muhammad SAW, dan tentu saja banyak berkah lain dalam kehidupannya, termasuk yang akhirnya mengantarkan dirinya untuk bertemu Ika Indriyanti, yang sekarang mendampingi kehidupannya.

 <more>

Saat itu, di hari pertama training Eksekutif Angkatan ke-15 pada 15 Maret 2003, Muhlis sempat dikenalkan dengan Ika oleh seorang atasan di sebuah instansi tempat Ika bekerja terdahulu. Tanpa diduga, seorang alumni pun mengenalkan Muhlis dengan Ika beberapa saat sebelum training di hari kedua. Pertemuan yang beberapa kali namun hatinya untuk semakin mengenal Ika. Akhirnya, ia membulatkan hati untuk mempersunting wanita kelahiran Bandung itu, pada 6 Juni 2004.

 

Menjalani tugas sebagai seorang Ksatria 165, tidak lagi menjadi suatu hal yang berat bagi ayah dari seorang putri kecil bernama Auliska Putri itu. Doa yang senantiasa menyertai saat ia bertugas, atau selama training, seakan menjadi tonikum yang memberikan kekuatan utnuk senantiasa memberikan yang terbaik bagi perjuangan 165. Ketenangan saat memberikan training senantiasa ia peroleh walau ia berjauhan dengan istri dan putrinya karena ia yakin bahwa Allah akan senantiasa menjaga mereka, dan ia pun yakin bahwa sang istri yang dicintainya selalu ikhlas melepasnya bertugas ke berbagai daerah setiap akhir pekan.

 

Bagi Muhlis, arti perjuangan 165 di ESQ Leadership Center ini adalah hidup dan mati. Baginya, hidup sudah tanpa pilihan lagi. Pilihannya hanya satu, yaitu berbuat yang terbaik untuk saat ini, yang akan menjadi bekal menuju pertemuan dengan sang Maha Pencipta, dan insya Allah ESQ adalah kendaraan baginya.

 

Tak pernah terlintas sedikit pun di pikiran Muhlis untuk meninggalkan perjuangan 165. Jika ditanya sejauh mana ia menempatkan perjuangan tersebut? Dengan mantap Muhlis mengatakan: “Saya akan memberikan seluruh hidup saya dalam perjuangan 165 ini.”

 

Kini, tujuh tahun sudah ia berjuang di ESQ. Banyak hal yang tak pernah terbayangkan, kini terjadi dalam hidupnya. Muhlis tidak hanya ke Jakarta. Ia sempat juga ke Negara Kincir Angin Belanda, untuk memberikan training di sana. Bukan itu saja, ia pun pernah mendapatkan kesempatan dua kali berkunjung ke Baitullah.


*Artikel ini telah terbit di ESQ Magazine

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA