ESQNews.id, JAKARTA - Tak mendapatkan hadiah uang, tapi memiliki gengsi yang tinggi. Bisa dikatakan demikian, untuk kejuaraan Sudirman Cup yang diinisiasi Indonesia pada 1988 tersebut.
Sudirman Cup menjadi tolok ukur negara-negara dalam kemampuan olahraga bulu tangkis mereka. Jika disamakan, hampir sama dengan piala dunia fifa dalam dunia persepakbolaan.
Negara dan atlet yang berlaga di kompetisi ini tidak mendapatkan imbalan materi, melainkan gengsi menaikan peringkat negara mereka dalam poin Badminton World Federation (BWF). Selain itu, Sudirman Cup juga menjadi ajang yang paling sedikit negara bisa mencapai final.
Tercatat selama 31 tahun kompetisi ini berlangsung, hanya ada tujuh negara yang berhasil menembus final. Diantaranya adalah Indonesia, Jepang, Korea Selatan, China, Malaysia, Inggris dan Denmark.
Piala yang memiliki tinggi 80 cm tersebut kini dipegang juara terbanyak Sudirman Cup, Tiongkok setelah mengalahkan Jepang 3-0 di Final.
Baca juga: China Pulangkan Kembali Piala Sudirman
Indonesia mengambil andil banyak dari terselenggaranya Piala Sudirman tersebut. Selain Sudirman sendiri diambil dari nama Bapak Bulutangkis Indonesia, Dick Sudirman. Tropi yang kini dijunjung tersebut juga dibuat oleh seniman dari Institut Teknologi Bandung.
Rusnadi merancang tropi tersebuh dengan ciri khas Indonesia yang begitu kental. Mulai dari Candi Borobudur yang menjadi penutup tropi dan motif daun sirih sebagai tanda penyambutan.
Walaupun hanya sekali juara, sepatutnya kita bangga menjadi Indonesia. Kira-kira kapan ya Tropi Piala Sudirman pulang ke Indonesia?


