ESQNews.id, JAKARTA - Industri halal sudah tidak asing lagi khususnya di Indonesia, negara yang mayoritas muslim atau menganut agama Islam. Industri halal mulai berkembang pesat, mulai banyak brand bermunculan dengan sertifikasi halal sebagai jaminan bagi para pembelinya.
Namun, apakah industri halal sudah pasti dapat memperluas pasar? Atau malah mempersempit pasar? Semua ini dijelaskan secara gamblang dalam forum Islamic Marketing episode 1!
Pada hari Rabu, 31 Juli 2024, ESQ Leadership Center beserta ESQ Business School menyelenggarakan Islamic Marketing Forum yang pertama kalinya dengan Markplus Institute yang menghadirkan pembicara ahli di dalamnya.
Mengupas tentang industri halal dan juga pemasarannya, ada pembicara yang hadir yaitu Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ Leadership Center), dengan 3 guest speaker yakni Marissa Widyanti (Vice President Bank Muamalat Indonesia), Ardhi Ridwansyah (COO Markplus Institute), dan Kimiko Hikari (Brand Manager Paragon Technology and Innovation).
“Halal industry menjadi ekonomi baru yang telah berkembang di manca negara, tentu Indonesia tidak boleh tertinggal. Tidak cukup hanya paham produk, price, dan distribusi tanpa promosi, marketing.
Alhamdulillah kita sudah berfokus pada industri dan sertifikasi halal, tapi bagaimana mampu mempromosikan dan marketingnya?
Ini semua tentu punya strategi khusus, inilah Islamic Marketing baru yang mudah-mudahan akan menjadikan Indonesia tuan rumah atau rumah halal industry.” Pesan Ary Ginanjar.
Dalam forum tersebut yang dihadiri oleh lebih dari 220 orang, mengeksplorasi mengenai tren dan peluang industri halal, mulai dari segi perbankan yang dijelaskan oleh Marissa, dan juga segi produk kecantikan dari Kimiko.
Kimiko menjelaskan, “Halal itu kan biasanya kita definisikan untuk kaum muslimin. Namun halal memiliki value untuk seluruh konsumen kita. Sebagai brand, bukan hanya halal saja yang dibutuhkan, namun value universal yang berkaitan dengan value halal.”
Disertakan dengan contoh yang dimaksud oleh Kimiko, yaitu Quality. Kualitas brand untuk tetap halal pasti berkaitan dengan value universal. Orang-orang menginginkan kualitas yang baik, melalui proses yang benar.
<more>
“Saat ini, paragon ada 13 brand. Apakah dengan halal bisa menjangkau lebih banyak pasar? Jawabannya adalah sebagai brand, yang dibutuhkan adalah kebutuhan konsumen. Kita melihat apa yang dibutuhkan konsumen sehingga fit market.
Kahf, salah satu brand paragon yang launching pada masa pandemi. Tidak ada ketakutan, di saat brand lain merasa khawatir launching di pandemi. Kita merasa bahwa kita sudah mendengarkan konsumen, mereka membutuhkan apa, sehingga cocok dengan pasar. Kini Kahf sudah menjadi brand no 1 men’s grooming.” Jelas Kimiko.
Tak hanya inovasi saja untuk menjangkau pasar yang lebih banyak, namun perlu ada kebutuhan konsumen untuk dapat diterima pasar lebih mudah. Dengan hal ini, tentu halal akan menjangkau pasar lebih banyak, asalkan kebutuhan konsumen terpenuhi.
Menelusuri dari segi perbankan, Marissa menjelaskan yang terjadi di Bank Muamalat Indonesia mengenai perluasan pasar bagi industri halal.
“Sebagai profesional di perbankan syariah, kita melihat nasabah muslim sebetulnya kebutuhan mereka kembali pada rukun Islam. Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji. Kemudian bagaimana kita bisa mengcover kebutuhan ini. Mulai dari sholat, kita menyediakan pengingat sholat dalam aplikasi.
Kebutuhan sedekah dan zakat, kita menawarkan produk yang memudahkan nasabah berinfaq, waqaf, dan banyak kerjasama dengan ZIS di Indonesia. Ketika sudah bulan puasa, kita menawarkan produk dan program yang relevan sesuai dengan kebutuhan terutama Idul Fitri.
Tak lupa juga ibadah Haji dan Umroh, banyak orang yang masih menunggu waktu haji dan mereka bisa ditawarkan dengan ibadah Umroh.
Dengan adanya sosial media, sosialisasi ibadah Umroh sangat masif, sehingga terjadi permintaan yang sangat besar untuk Umroh. Di sini kita masukkan kerjasama dengan travel, menawarkan benefit kepada nasabah.”
Menjawab bagaimana strategi dari masing-masing bidang dalam industri halal menjangkau segmen lebih luas, Kimiko Hikari selaku Brand Manager Paragon Technology and Innovation membagikan experience yang dimiliki oleh salah satu brand Paragon yang namanya sudah dikenal yaitu Wardah.
“Kita mendengarkan keresahan perempuan yang ingin memiliki tempat aman dan nyaman, untuk bisa saling berbagi atau sharing knowledge, lebih grow, dan kita akhirnya memiliki satu tempat sisterhood yaitu The House of W. Yang di sana kita mengimplementasikan ekosistem halal lifestyle.”
Dalam The House of W, Kimiko menjelaskan perempuan bisa menikmati kuliner halal, ada olahraga khusus perempuan, perawatan head to toe halal. The House of W merupakan salah satu pop up dan batu pertama bagi Wardah untuk bisa kuat di halal ekosistem. Sehingga, harapannya brand Paragon lainnya pun memiliki halal ekosistem yang luas dan kuat.
Ardhi Ridwansyah sebagai COO Markplus Institute menambahkan data dari halal industri, bahwasannya Indonesia sudah memasuki 3 besar Global Islamic Economy Indicator pada tahun 2023.
Untuk menjangkau segmen lebih luas, Ardhi menjabarkan product management yang bisa digunakan. Tentu produk harus memberikan nilai kepada calon konsumen, yaitu mempertimbangkan apa yang diberikan dan apa yang didapatkan.
“Yang bisa kita berikan adalah adanya manfaat fungsional, emosional, dan yang penting dalam industri halal adalah manfaat spiritual atau sosial.
Contoh dari manfaat spiritual adalah ketenangan hati karena produk halal. Ada pula sosial, seperti tidak hanya halal namun ramah lingkungan yang mana selaras dengan rahmatan lil alamin.
Sehingga jika ada yang menggunakan produk kosmetik, dia merasa tidak hanya merawat kulit saja, namun merasa punya kontribusi terhadap merawat lingkungan.
Konsumen akan membandingkan manfaat tadi dengan apa yang dia berikan yaitu harga dan biaya lainnya.”
Pembelajaran mengenai islamic marketing di industri halal memang sangat menarik, oleh karena itu Markplus Institute bersama ESQ Leadership Center dan ESQ Business School membuka program Mini Executive MBA yang cocok untuk profesional, eksekutif, entrepreneurs, halal industri, dan syariah marketing enthusiast.
“Dalam program Mini Executive MBA, kita akan memahami strategi pemasaran jangka panjang dengan prinsip-prinsip islam, mengimplementasikan strategi untuk menciptakan keunggulan bersaing di segmen muslim dan konvensional, serta membangun tim pemasar yang memiliki keunggulan karakter dan kompetensi.” Jelas Ardhi.
COO Markplus Institute tersebut juga menerangkan bahwa program pembelajarannya ada 14 kali pertemuan di kelas yang interaktif diskusi antar peserta dan pengajar. Pembelajaran dapat diikuti secara offline di Menara 165, Jakarta Selatan, atau Kantor Markplus Institute, Jakarta Selatan.
Yang diisi oleh expert berpengalaman yaitu Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ Leadership Center), Taufik (Director M Islamic), Jacky Mussry (CEO Markplus Institute), Ardhi Ridwansyah (COO Markplus Institute), Melati Arum Sekarsari (COO Markplus, Inc.), dan Rinaldi Agusyana (Trainer & Consultant ESQ Leadership Center).
Informasi lebih lanjut mengenai Program Mini Executive MBA dapat diakses melalui www.esqtraining.com





