ESQNews.id, JAKARTA - TJOKROAMINOTO tak cuma seorang guru bagi Soekarno. Ia juga menjadi “ayah” bagi Sang Proklamator. Tak cuma ilmu politik dan agama yang didapat Soekarno, ia juga mendapatkan anak gadis Tjokroaminoto yang bernama Utari. Tjokroaminoto mengikhlaskan anaknya untuk mendampingi Soekarno, karena saking sayang dan dekatnya ia kepada Soekarno.
Betapa dekatnya Soekarno
dengan Tjokro , diakui Soekarno dalam wawancaranya dengan Cindy Adam yang
kemudian dibukukan dalam Soekarno
Penyambung Lidah Rakyat. Soekarno saat berguru pada Tjokro, duduk dekat
kaki sang guru, mendengarkan intonasi perkataannya dan gerak tangannya, dan itu
kemudian dijadikan cermin oleh Soekarno untuk gaya pidatonya sejak menjadi
tokoh PNI hingga sebagai presiden. Kelahiran PNI itu sendiri, tak lepas dari
pengaruh Tjokro. Tjokro bahkan mengatakan: kalau SI berasaskan Islam, maka
perlu ada partai yang berasaskan kebangsaan. Keduanya, Islam nasionalis dan
nasionalis Islam, bisa bergandeng tangan sama-sama menentang penjajahan
Belanda.
Dari situlah
inspirasi Soekarno mendirikan PNI, dan melahirkan ide Marhaenisme. Kemudian, SI
dan PNI sama-sama bersikap nonkooperatif dengan Belanda. Sayang, Tjokro tak
sempat melihat sepak-terjang Soekarno dengan PNI-nya, karena ia wafat pada 17
Desember 1925, dan dua tahun kemudian PNI atau Perserikatan Nasional Indonesia,
berdiri. Dalam kongres nasionalnya yang pertama (1928), partai itu lalu
berganti nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI).
Pernah diterbitkan di ESQ Magazine No. 02/V Januari 2009
Baca juga: HOS Tjokroaminoto, Guru Para Pejuang (Bagian 2)