Senin, H / 02 Februari 2026

Hijab Bukan Masalah

Jumat 31 Jan 2025 21:42 WIB

Author :Kontributor

Ilustrasi

Foto: Heylocal

Oleh: Faqih Al Fadlil (Guru di MILBoS Internasional)


ESQNews.id, BOGOR - Tahun 2016 saya kuliah di salah satu kampus yang ada di Jogja. Saat itu, saya tinggal di kosan belakang kampus. Dalam area kosan, ada beberapa teman yang setiap saat selalu nongkrong depan kosan, bernyanyi sambil gitaran, merokok, minum (alkohol) di waktu tertentu, dan sering sekali diskusi.

Topik diskusi yang dibahas sering kali seputar ketuhanan, pemikiran, liberalisme, agnostisisme, dan lain sebagainya. Intinya mereka mengaku sebagai agnostik, yang artinya mereka percaya adanya tuhan tapi tidak percaya konsep agama. Bahkan salah satu dari mereka bilang bahwa agama terbaik adalah agama kebaikan.

Saya sangat menghindari sirkel mereka. Namun pernah sekali saya diajak untuk diskusi mengenai perempuan. Mereka bilang bahwa hijab adalah bentuk penindasan kepada wanita. Terus mereka mendapatkan warisan lebih sedikit dari laki-laki. Itu adalah bentuk ketidakadilan kepada wanita.

Kenapa perempuan bagian tubuhnya harus di tutup lebih dari laki-laki? Jawaban pastinya adalah itu sudah diperintahkan oleh Allah. Namun yang bisa dijadikan diskusi adalah pelajaran atau hikmah di balik perintah itu.

David M. Buss & David P. Schmitt di tahun 1993 menulis sebuah jurnal dengan judul "Sexual Strategies Theory: An Evolutionary Perspective on Human Mating". Dalam studi ini, mereka meneliti preferensi seksual jangka panjang dan jangka pendek di berbagai budaya, dan menemukan bahwa laki-laki cenderung memiliki dorongan yang lebih besar untuk seks kasual dan lebih dipengaruhi oleh faktor fisik, sedangkan perempuan lebih mempertimbangkan kualitas emosional dan hubungan jangka panjang.


<more>


Sebuah fakta mengatakan wanita Eropa dulu juga mengenakan pakaian tertutup dan merasa jijik melihat wanita berpakaian terbuka. Sebagaimana yang ada di buku "Women in the Middle Ages: Historical Sources and Interpretations" ditulis oleh Jennifer Ward  tahun 1992. Buku ini menggali lebih dalam mengenai peran perempuan di Eropa Abad Pertengahan, termasuk bagaimana mereka berpakaian dengan sangat tertutup sesuai dengan norma sosial dan agama pada masa itu.

Hijab sesunggunya adalah bentuk kemuliaan bagi seorang perempuan. Keindahan fisik mereka tidak diumbar dan dijual murahan. Hanya bisa dinikmati oleh suami mereka. Karena mereka adalah ratu.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA