Oleh: M. Nurroziqi
ESQNews.id - Tahu dengan istilah Badmood 'kan? Jangan-jangan sering mengalami? Badmood adalah istilah yang seringkali digunakan untuk menjelaskan kondisi diri yang dilingkupi emosi negatif? Nah, dalam kondisi yang serba Badmood tadi, menjadikan keseharian akan dilalui banyak ketidak-nyamanan. Setiap perubahan waktu dan tempat, selalu saja dipertemukan dengan kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.
Ketika emosi negatif yang sudah menguasai diri, maka akan menjadi serupa maghnet. Sehingga, yang ditarik pun hanya tentang hal-hal yang negatif. Akhirnya, diri menjadi semakin tidak nyaman. Jika Anda pernah mengalami yang demikian ini, tidak usah bingung. Biasa aja. Santai. Jika yang diakses hanya emosi negatif, memang begitu kecenderungan yang pasti terjadi.
Kalau tidak mau begitu, ya jangan membiasakan diri dengan emosi-emosi negatif. Ataupun jika memang di dalam diri sudah terdapat emosi-emosi negatif itu, maka salurkan secara benar. Gunakan media atau sarana melampiaskan emosi tadi dengan cara-cara yang lebih menyelamatkan. Sehingga, jangan sampai emosi-emosi negatif itu mengendap dan ngakik alias membatu di dalam hati. Agar kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan tidak semakin merasa nyaman bersemayam di dalam diri Anda.
<more>
Nah. Jika masih belum menemukan upaya dan cara tepat untuk melampiaskan emosi negatif tadi, maka hal paling mudah dilakukan adalah dengan berkumpul orang-orang shalih. Orang-orang dengan tingkat keshalihan yang hebat, tentu memiliki energi positif dalam kapasitas yang luar biasa. Energi positif dari orang-orang shalih inilah yang kita gunakan untuk meredupkan, mengurangi, atau bahkan menyingkirkan seluruh emosi negatif di dalam diri. Bisa, pastinya. Maka, tidak mengherankan jika salah satu obat hati adalah "Wong kang sholih kumpulono." (Bergaullah dengan orang-orang shalih).
Bersama dengan orang-orang shalih, tentu kita akan tertular dengan kebiasaan-kebiasaan mulia yang telah mereka istikamahkan. Meski sebentar saja duduk dengan mereka, pasti yang keluar adalah kata-kata bijak, cerita-cerita yang penuh motivasi, canda-tawa, lelucon-lelucon yang menggembirakan. Kesemuanya adalah asupan batin yang bisa menghilangkan emosi negatif yang lama bersemayam di dalam diri. Jika hal ini terus dibiasakan, maka lambat laut energi positif dari orang-orang shalih tersebut akan menyingkirkan segala apa yang bernuansa negatif di dalam diri. Hasilnya, batin menjadi tenang, dada plong, napas lega, dan mood kembali stabil. Dalam kondisi yang selalu demikian, maka puncaknya diri menjadi lebih mudah bahagia, lebih produktif, dan rezeki pun semakin lancar.
Berkumpul dengan orang-orang shalih ini, selain menjadikan diri semakin termotivasi dengan segala kebaikan. Maka, efek lain yang disampaikan Rasulullah Saw adalah menuai pahala dan keutamaan bersilaturrahmi. Yakni, bisa memperpanjang umur dan memperlancar rezeki. "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturrahmi." (H.R. Bukhari-Muslim).
Lebih jauh. Bahwa emosi-emosi negatif dan segala energi yang juga negatif, adalah bermula dari kondisi hati yang sedang kurang sehat. Ada beragam permasalahan dan sakit yang sedang menyerang hati. Akhirnya, menimbulkan kondisi-kondisi batin yang diinginkan tadi. Dari semua kondisi negatif itu, maka akan menarik segala hal negatif dari luar ini. Ini yang kemudian menjadikan semakin tidak nyaman dengan segala keadaan. Berada di tempat dan suasana bagaimanapun, selalu saja salah dan jauh dari kata beruntung.
Sedang, kondisi hati yang sakit begini, selain melalui "Wong kang sholih kumpulono." (Bergaullah dengan orang-orang shalih), terdapat empat alternatif lagi yang bisa ditempuh untuk dijadikan obat atas hati yang kurang sehat tadi. Pertama, "Moco Qur'an angen-angen sak maknane." Membaca Al-Qur'an disertai dengan merenungi setiap maknanya. Betapa beruntungnya kita dianugerahi Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
Yang dengannya, mendapatkan pahala menjadi sangat mudah. Membacanya, tanpa mengerti maknanya, sudah dinilai ibadah yang berpahala tinggi. Jangankan persurat, perkalimat, bahkan sehuruf pun, sudah bernilai pahala. Dan sebagai pedoman, Al-Qur'an dibaca semata untuk itu. Tetapi, dipelajari dan dipahami maksud yang terkandung di dalamnya. Sehingga, bisa dijiwai dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Proses inilah yang menjadikan hati semakin sehat. Akhirnya, diri pun semakin diliputi energi positif.
>>> Selanjutnya: Hidup Sepositif Ini [2]





