Oleh: M. Nurroziqi
ESQNews.id - Di satu kedekatan. Dalam sebuah hubungan. Seringkali dikait-kaitkan dengan kenyamanan di dalam mendapatkan fasilitas-fasilitas. Dekat dengan pejabat ini. Dekat dengan penguasa itu. Dekat dengan tokoh yang ini. Dekat dengan orang yang berkedudukan di situ. Di semua kedekatan itu, yang kerapkali terlintas di benak adalah kemudahan-kemudahan di dalam mendapatkan pelayanan dan fasilitas-fasilitas. Tentu, kesemua itu sangat berbeda dengan yang ada pada umumnya dan pastinya menjadi sangat istimewa. Sehingga kedekatan model begini menjadi sebuah hubungan yang selalu termaknai secara egois dan tentang kepuasan diri di dalam memenuhi keinginan-keinginan yang disukai.
Demikian pula kedekatan atas sebuah hubungan dengan Allah Swt. Mendekat dengan Allah Swt selalu dihitung dengan matematika-matematika kepuasan dan nilai dagang yang dipenuhi dengan keuntungan. Meski toh semua tidaklah salah. Tetapi, keikhlasan menjadi satu ukuran di dalam membangun satu kedekatan-kedekatan.
Allah Swt sendiri pun memproklamirkan sebagai yang sangat dekat, paling dekat. Sehingga, ketika disebut nama-Nya pasti dijawab, di saat dimintai sesuatu pasti dikabulkan.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Q.S. Al-Baqarah: 186)
Demikian Maha Dekat-Nya Allah Swt terhadap hamba-hamba-Nya. Sehingga memenuhi setiap sapaan, mengabulkan setiap permohonan.
Terlepas dari seluruh kedekatan-kedekatan itu. Yang sangat perlu diingat, bahwa kedekatan-kedekatan itu juga mengandung satu konsekuensi atas kualitas diri. Manusia, senantiasa berada di dalam pengawasan-Nya. Sehingga, tidaklah boleh macam-macam. Tidak boleh melakukan hal-hal di luar batas-batas yang sudah menjadi ketentuan-Nya.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ.
إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ.
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ.
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya," (16)
"(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri." (17)
"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (18)
Al-Qur'an surat Qaf ayat 16-18 itu, benar-benar memberi peringatan terhadap manusia, bahwa satu kedekatan tidaklah bisa diremehkan untuk bersikap sewenang-wenang. Sebab, setiap kedekatan itu mengandung satu penilaian atas kualitas. Sikap dan tindak-tinduk keseharian di sepanjang kehidupan, pasti kelak dimintai pertanggung-jawaban dan pasti mendapat balasan sekecil apapun perbuatan itu.
Meski demikian adanya, kesadaran akan senantiasa dalam pengawasan Allah Swt ini yang seringkali lalai. Bahkan, menjadi sangat rendah kualitas kesadaran itu yakni ketika fungsi pengawasan itu termaknai dari persaksian sesama manusia. Sehingga, apa-apa yang dilakukan distandartkan dengan yang telah menjadi penailaian manusia. Ini, yang menjadikan sikap manusia semakin terjangkiti penyakit riya', bahkan syirik. Bagaimana tidak? Bahwa segala yang dilakukan manusia, kerapkali terlambari oleh perasaan ingin dipuji. Dan tidak mau melakukan apapun jika tidak mendapatkan puji-pujian itu sendiri.
<more>
Memperbesar kesadaran bahwa senantiasa dalam pengawasan Allah Swt adalah satu keharusan. Yakni, demi meminimalisir kealpaan diri. Benar, manusia tempatnya salah dan lupa. Dan sudah menjadi kodratnya, manusia dimanapun dan kapanpun selalu memiliki peluang untuk lupa dan salah itu tadi. Tetapi, manusia senantiasa diberikan ruang berikhtiar untuk istikamah berada dalam ketauhidan diri.
Dan atas kemungkinan-kemungkinan salah yang bisa jadi ada itulah, Rasulullah Saw menggembirakan pengikut-pengikut beliau Saw dengan satu kemuliaan yang dihadiahkan Allah Swt. Satu pemuliaan yang tidak didapatkan oleh manusia-manusia terdahulu. Yakni, Surat Al-Fatihah dan akhir surat Al-Baqarah. Khususnya di akhir surat Al-Baqarah, di situ Allah Swt mengajarkan satu doa, sekaligus menjadi kompensasi akan dosa-dosa pengikut Rasulullah Saw yang mungkin saja terjadi. Allah Swt selalu berkenan mengampuni dan menghapus semua kesalahan. Ini, menandakan betapa sangat dekat Allah Swt terhadap hamba-hamba-Nya. Betapa sangat Maha Kasih dan Sayang. Sehingga, baru berkemungkinan salah dan lupa saja, Allah Swt sudah mengajarkan bagaimana memohon ampun kepada-Nya terhadap setiap kesalahan yang mungkin saja terjadi.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Q.S. Al-Baqarah: 286).
Dengan demikian, setiap kedekatan tidak semata dimaknai untuk keuntungan dan kenyamanan diri. Tetapi, juga tentang kewaspadaan diri. Kesadaran yang tinggi bahwa senantiasa diawasi di setiap gerak-gerik diri. Yang kelak, di akhirat, pasti dimintai pertanggung-jawaban untuk mendapatkan balasan-balasan.
*M. Nurroziqi. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis buku-buku Motivasi Islam.





