Rima Ginanjar Architects berfokus pada Zero Carbon Architecture. Berbagai negara termasuk Indonesia sudah berkomitmen untuk menurunkan karbon di tahun 2030. RGA bertekad untuk memberikan kontribusi agar impian penurunan karbon itu tercapai.
Rima Ginanjar Architects (PT Biruni Bio Arsitektur) didirikan oleh wanita cantik berusia 25 tahun. Dalam kesempatannya, ia menyampaikan sambutan sebagai pembuka acara.
"Zero Carbon Architecture ini adalah bangunan arsitektur yang bisa menanggulangi masalah global warming. Jadi dengan Zero Carbon Architecture ini udara panas dari global warming, banyaknya polusi dan karbon bisa berkurang."
Lebih lanjut, "Dari dulu, saya pribadi tidak bisa melakukan apapun untuk membantu mengurangi masalah ini. Tetapi setelah saya belajar bersama suami di Liverpool (S2) belajar tentang Zero Carbon Architecture, di situ saya baru paham betapa pentingnya climate change itu diobati."
Anak ke-3 dari Founder ESQ Group Ary Ginanjar Agustian tersebut mengungkapkan bahwa 40% dari emisi karbon di dunia ini, ternyata muncul dari bangunan-bangunan yang ada. Oleh karena itu RGA berkomitmen untuk membantu menciptakan Indonesia Zero Carbon.
"Dampak dari emisi karbon adalah terjadinya pemanasan global yang sangat nyata. Sehingga menyebabkan banyak kerugian dari penyakit sampai bencana alam yang tidak bisa kita hindari."
Namun sangat disayangkan kata Rima, masih banyak orang yang belum melihat korelasinya. Kita semua harus bersinergi dan mengubah mindset agar masyarakat lebih memahami Zero Carbon.
"Jadi mulai hari ini, Rima mau memulai kontribusi untuk Indonesia bahkan dunia. Rima Ginanjar Architects akan berjuang untuk mencapai misi tersebut dan kami sangat berharap dengan berjalannya waktu akan semakin banyak orang yang mengetahui arti pentingnya Zero Carbon."
Dilanjutkan oleh sang suami, Ahmad Reza, yang menyatakan jika RGA itu bukan hanya sebuah perusahaan arsitektur semata, namun sebuah perusahaan yang bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik dengan zero carbon.
RGA mendapat banyak dukungan dan doa tentunya dari tamu undangan yang hadir. Termasuk dari Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Doti Windajani.
"Saya sangat mengapresiasi dan mendukung Rima Ginanjar Architects yang dipelopori oleh Rima, wanita muda bertalenta. Tentu ini bukan perkara yang mudah dan tak sekedar berteori, namun dibutuhkan keputusan yang kuat untuk beraksi."
Dikatakan oleh Doti, "Kalian bisa mensosialisasikan hal ini kepada khalayak. Diiringi dengan bekal kompetensi yang unggul agar visi misi tercapai. Terus berikan kontribusinya kepada masyarakat. "
"Jarang sekali ada anak muda yang peduli dengan bumi. Mudah-mudahan perjuangan mba Rima dan mas Reza bersama tim untuk kita semua bisa berjalan baik demi bangsa Indonesia tercinta kita," harapnya.
Ayahanda dari Rima pun turut mendukung visi misi sang buah hati. Apalagi anaknya tersebut sempat mengungkapkan kalimat yang membuat hatinya terenyuh. Rima mengatakan, "Rima juga bisa ada di titik ini karena dukungan dari Bapak untuk menemukan misi Rima yaitu wujudkan zero carbon untuk Indonesia Emas 2045."
Kemudian Ary menyampaikan bahwa pemerintah sangat serius mewujudkan komitmen zero emission atau zero carbon paling lambat tahun 2060. Hal ini dikatakan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, dalam diskusi diskusi bertajuk 'Road to COP26 : Tekad Generasi Muda Indonesia Mencegah Perubahan Iklim & Mendukung Energi Bersih'.
"Pertanyaannya, apakah kita akan diam saja atau ikut mengkampanyekan gerakan ini? Kita harus sampaikan ini kepada seluruh Gubernur, Bupati dan lainnya," himbau Ary.
"Mari kita jaga alam dan lingkungan dengan konsep zero carbon ini. Kita harus ingat keturunan kita agar bisa hidup nyaman, itulah misi Rima Ginanjar Architects. Semoga impian besar untuk menyelamatkan negara Indonesia ini diberkahi Allah, Tuhan Yang Maha Esa," tutupnya.
Para hadirin undangan bertepuk tangan dengan gemuruh. Para tamu yang hadir di antaranya Annisa Trihapsari dan Sultan Djorgi, Irish Bella bersama ibunda dan anak keduanya, I Made Dana Tangkas (Sekjen FKA ESQ), Iesje S. Latief (Ketua Bidang Hubungan antar Lembaga FKA ESQ), Lea Sri Endari Irawan (Ketua Umum ESQ Kemanusiaan), Prof. Evvy Kartini (Chief Scientist at National Nuclear Energy Agency BATAN), Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna dan lainnya.