ESQNews.id, JAKARTA – Chandra Kusdianto (HR Group Head)
menggiring para petinggi Bank Nationalnobu (Bank Nobu) di seluruh Indonesia
untuk mengikuti Training ESQ Masa Persiapan Pensiun (ESQ MPP) yang digelar
selama dua hari pada tanggal 21-22 September 2022 secara daring. Pria yang
akrab disapa Chandra itu membuka sesi dengan penuh semangat melalui platform
zoom meeting.
Menurutnya kegiatan ini sangat menarik dan penting sekali
dalam mempersiapkan masa paripurnanya dari perusahaan. Dan sesi ini juga memang
di design khusus untuk executive di berbagai level. Karena kegiatannya online
maka diharapkan insan Bank Nobu itu tetap fokus dan produktif.
“Kita terus optimalisasikan supaya kita bisa memberikan network industry yang terbaik. Dan metode dari ESQ MPP ini nanti perlu kita gunakan untuk diri kita masing masing dan bisa mereview hal tersebut untuk mengapresiasi diri kita dengan pencapaian yang telah kita raih dan lakukan sebelumnya. Saya juga memberikan semangat tentunya untuk bapak ibu sekalian dalam menghadapi setiap perubahan yang sedang, sudah, ataupun yang akan terjadi ke depan,” paparnya di hadapan Puluhan Group Head Bank Nobu.
Menurutnya, Perubahan itu bersifat pasti. Jadi insan Bank
Nobu harus tahu cara menyikapi perubahan tersebut dan mempersiapkan dengan
matang. Pasalnya, pandemic ini mengajarkan tentang banyak hal, terutama menghadapi
dugaan dugaan yang sebelumnya belum terpikirkan. Artinya kita harus menghadapi
perubahan itu secara aktif.
“Dan menurut saya bapak dan ibu termasuk orang orang yang
memiliki kesempatan untuk bisa meng-create perubahan itu bagi kehidupan bapak
dan ibu agar lebih baik. Banyak makna atau hal yang baru yang bisa dibentuk,
apapun itu, suatu kesempatan yang saya pikir tidak semua orang bisa miliki. Dan
semangat untuk mengikuti training, hal ini juga untuk menghadapi perubahan
ataupun harusnya kembali jadi jawaban positif bagi kita semua. Semoga bermanfaat
ESQ MPP ini, ikuti dengan sebaik baiknya,” himbaunya.
Puluhan insan Bank Nobu pun terlihat menganggukan kepalanya dalam zoom meeting tanda setuju dengan paparan pimpinannya. Mereka dipandu langsung oleh para Trainer Lisensi dari Ary Ginanjar Agustian yakni Coach Heidy, dan Rais (Asisten Trainer).

Mengawali sesi sebelum materi dimulai, Ary Ginanjar
berkesempatan hadir dan menyapa insan Bank Nobu yang sedang mempersiapkan masa
pensiunnya. Pendiri ESQ Group itu memberikan sambutannya terkait pentingnya
perencanaan dan persiapan purnabakti, manajemen hidup sehat masa purnabakti dan
lainnya.
"Saya tidak menamakan Anda dengan sebutan pensiunan, tetapi saya menyebut Anda sebagai calon alumnus atau wisudawan Bank Nobu. Dulu juga saya pensiun muda, saat pertama saya memutuskan untuk pensiun adalah soal mental. Mental dan pikiran inilah yang sering menjadi masalah. Meskipun seseorang itu punya bisnis, tapi ketika mentalnya tidak siap maka ini akan menjadi masalah,” ungkap mantan ASN itu dengan gagah mengenakan kemeja putihnya.
Lebih lanjut, Ary mengenalkan salah satu kadernya yaitu
Heidy. Karena Heidy-lah yang akan menjelaskan secara gamplang soal cara
mengelola pikiran dan mental dengan 2 jurus yakni jurus dalam jangka pendek dan
jangka panjang.
“Jurus pertama adalah bagaimana dalam waktu cepat kita bisa mengendalikan pikiran. Kalau tidak bisa kendalikan ini, kita bisa overthinking dan akhirnya mengalami stress. Jurus yang akan disampaikan Heidy, saya namakan GKF atau Gerak, Kata Fokus. Jadi ketika hari pertama saya pensiun, seketika saya merasa kehilangan semuanya, teman, bawahan, lingkungan, pendapatan. Kemudian saya pakai cara GKF untuk mengelola pikiran dan perasaan,” ungkapnya.

Itulah jurus pertama yang dibocorkan sedikit oleh Founder
ACT Consulting tersebut. Selanjutnya, jurus kedua yakni jurus jangka panjang
yang ia namakan ESQ Matrix.
“Ada 7 anak tangga di sini, saat pensiun kita akan
kehilangan nomor 1 sampai 5 yakni pendapatan, pengakuan, relasi, perkembangan. Berarti
kalau kita fokus ke 1,2,3,4,5 akan menjadi masalah, maka kuncinya adalah kita
bukan bergerak dari bawah ke atas tapi bagaimana Anda menemukan nomor 7 itu. Yaitu
meaning and purpose hidup Anda. Baru kontribusi apa yang akan diberikan, nanti
yang namanya uang, rejeki, relasi datang mengikuti,” tutur Ary dengan
tersenyum.
Ary menambahkan, “Sebagai pensiun harus menemukan Grand Why
Anda. ‘Why’ tertinggi dalam kehidupan, lalu kombinasikan dengan GKF why. Ini rumus
yang saya temukan 25 tahun. Inilah solusi cepat dan tepat bagaimana kita survive,
sehingga pikiran dan perasaan bisa happy.”

Coach Heidy menyapa para peserta training dan mengecek semangatnya dengan jurus 3 S (Senyum simetris, Salam sapa, Sahabat sejati). Lalu dilanjutkan dengan yel yel yang bunyinya ‘Innovation, Energic, Gaskeun, Ownership.’
“Selama 2 hari ke depan kami akan memberikan beberapa
pembekalan kepada bapak dan ibu di antaranya Pembekalan Mental Psikologis -
Modul Wisdom Living ESQ, Pembekalan Kesehatan, Pembekalan Perencanaan Keuangan,
Pembekalan Perencanaan Aktivitas Pensiun dan lainnya,” kata Heidy.
Modul ini diberikan kepada insan Bank Permata, karena
mengingat hasil riset yang telah didapatkan oleh tim ESQ MPP periode 2016 –
Juli 2021. Riset tersebut telah diukur dengan menggunakan Anxiety Rating Scale
(ARS), terhadap 2521 pegawai yang akan memasuki masa pensiun dari 158 kelas ESQ
MPP.
Hasilnya mengatakan bahwa ada sebanyak 58% (1464 pegawai mengalami kecemasan
hingga panik). Sedangkan 42% (1057 pegawai mengalami cemas ringan).

“Saya mau tanya dulu nih, apa yang bapak ibu rasakan, dengar
tentang pensiun ini. Boleh sharing?” tanya pria berkacamata itu.
Berikut adalah jawaban dan respon beberapa peserta:
Johana (Kantor Wilayah Semarang), “Saya sangat bersyukur
mengikuti acara ini. Tapi bersyukurnya ini di atas rasa senang.”
Andre Mulia (KPO Plaza Semanggi), “Bersyukur masih bisa
berkarya, bisa dipercaya oleh perusahaan untuk terus berkarya.”
Stanly Alexander (Kantor Wilayah Manado), “Kalau kita diberikan kehidupan oleh Tuhan, pasti Tuhan akan berikan rejeki, kekuatan, kesehatan. Untuk itu, kita harus sadar bahwa kita akan memasuki masa pensiun. Jadi yang membedakan itu adalah apakag kita bersyukur atau tidak dengan keadaan ini. Siap atau tidak menghadapi pensiun ini.”







