Senin, H / 02 Februari 2026

Filosofi Isola dan Karakter 'Integrity Defender': Cara UPI dan ESQ Bekali 4.000 Gen Z Menjadi Generasi 'Leading & Outstanding' di Era AI

Kamis 25 Dec 2025 14:24 WIB

Reporter :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, BANDUNG - Sebanyak 4.000 lebih mahasiswa baru Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memadati Gymnasium UPI, Bandung, pada Selasa (23/12/2025). Bukan sekadar seremoni penyambutan, ribuan Gen Z ini hadir untuk mengikuti agenda krusial: Training ESQ Mahasiswa Baru 2025. 


Mengusung tema "Membangun Karakter UPI yang Unggul, Adaptif, dan Berdampak", kegiatan ini menjadi momentum transformasi besar dari mental siswa menjadi mahasiswa yang religius, edukatif, dan ilmiah.




Acara ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan tertinggi UPI, di antaranya Rektor UPI Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., Ketua Senat Akademik Prof. Dr. Yadi Ruyadi, M.Si, Ketua MWA Komjen Pol (Purn) Drs. Nanan Soekarna.


Turut hadir mendampingi seluruh jajaran Wakil Rektor: Prof. Dr. Vanessa Gaffar, Prof. Dr. Tri Indri Hardini, Prof. Dr. Rudi Susilana, Prof. Dr. Agus Setiabudi, dan Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi. Serta menghadirkan narasumber yakni Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ) bersama kadernya adalah Coach Yendra.


Ketua Pelaksana sekaligus Direktur Bimbingan, Konseling, Difusi Inklusi, dan Pengembangan Karir UPI, Dr. Yusi Riksa Yustiana, M.Pd., menyampaikan laporan mendalam mengenai rangkaian transformasi karakter mahasiswa angkatan 2025. 


Beliau mengungkapkan bahwa sinergi bersama ESQ telah dimulai sejak Oktober 2025, diawali dengan pelatihan soft skill di Kampus UPI berbagai wilayah, hingga mencapai puncaknya pada kegiatan hari ini.


"Pengalaman hari ini sangat menarik karena paparan dari Dr. Ary Ginanjar Agustian benar-benar membangkitkan spirit tentang keterhubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. 


Kami ingin menanamkan bahwa dengan bersyukur, mahasiswa akan menjadi pribadi yang is the best dan mampu menjalankan peran sebagai khalifah fil ardh sebagaimana yang diamanatkan Allah SWT," tutur Dr. Yusi.


Dalam perspektif pengembangan karier, Dr. Yusi menjelaskan bahwa kolaborasi ini bertujuan membangun personal branding mahasiswa yang kokoh. 


"Banyak mahasiswa baru yang belum menyadari betapa hebatnya potensi yang mereka miliki. Melalui penguatan ESQ ini, kita ingin menanamkan growth mindset agar mereka bangga dan bersyukur menjadi bagian dari UPI," ujarnya.




Untuk lebih mengenali potensi pada diri mahasiswa, dimulai dengan asesmen TalentDNA yang telah diikuti oleh 6.825 mahasiswa dari seluruh kampus UPI (termasuk Cibiru, Purwakarta, Serang, Sumedang, dan Tasikmalaya), mahasiswa dibantu untuk mengenali keunikan talenta mereka.


Kekokohan diri ini kemudian diperkuat melalui pelatihan ESQ agar mereka tumbuh menjadi sarjana dan pendidik masa depan yang memiliki kecerdasan majemuk intelektual, emosional, dan religius sesuai moto UPI.


Lebih lanjut, Dr. Yusi menekankan komitmen UPI terhadap pendidikan inklusif. "Kami memberikan porsi dan pendampingan khusus bagi mahasiswa berkebutuhan khusus agar mereka tetap terlibat aktif dalam kegiatan ini. Esensi inklusivitas adalah memfasilitasi keberagaman dengan rasa hormat," jelasnya.


Dr. Yusi merinci bahwa Batch 1 di Kampus Bumi Siliwangi ini diikuti oleh 4.424 mahasiswa dari berbagai fakultas, mulai dari FPIPS, FPSD, FIP, FPBS, FPTK, FPMIPA, FPOK, FPEB, hingga Fakultas Kedokteran. 




Beliau menyampaikan apresiasi tinggi kepada Ary Ginanjar, Coach Yendra, dan tim ESQ Jawa Barat atas komunikasi intensif dalam membangun sinergi ini. 


"Mudah-mudahan pada batch berikutnya, kami dapat menjangkau lebih banyak lagi mahasiswa untuk merasakan dampak positif dari penguatan karakter ini," pungkasnya.


Dalam suasana yang penuh semangat di Gymnasium UPI, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., hadir untuk memberikan sambutan sekaligus membuka rangkaian acara secara resmi. 


Beliau mengawali narasinya dengan mengenang sebuah diskusi strategis di Lembang sesaat setelah pelantikannya. 




Saat itu, muncul komitmen kuat bahwa pelatihan ESQ tidak boleh hanya eksklusif bagi jajaran pejabat, melainkan harus diperluas jangkauannya hingga ke level dosen dan mahasiswa.


"Hari ini, komitmen itu terwujud. Kita menjangkau sekitar 4.100 mahasiswa dalam pelatihan pembangunan karakter ini," ujar Prof. Didi. 


Beliau menegaskan bahwa karakter mahasiswa UPI harus bertumpu pada tiga pilar utama: Unggul, Adaptif, dan Berdampak. Ketiga nilai ini bukan sekedar slogan, melainkan pengejawantahan visi UPI untuk menjadi kampus terdepan di Asia pada tahun 2030, khususnya dalam disiplin ilmu kependidikan yang menjadi kekuatan utama universitas.


Lebih lanjut, Prof. Didi memaparkan bahwa di tengah era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang penuh ketidakpastian, rapuh, dan sulit diprediksi, mahasiswa memerlukan fondasi nilai yang kokoh. 


"Kita membangun kualitas mahasiswa secara holistik; intelektualnya, karakternya, dan prestasinya. Seperti lirik lagu Indonesia Raya, bangunlah jiwanya baru bangunlah badannya," tuturnya. 


Melalui sentuhan emosional dan spiritual dari tim ESQ Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian, diharapkan lahir pribadi yang jujur dan berintegritas, apakah nantinya mereka menjadi tentara, guru, bankir, maupun ilmuwan.


Rektor juga menyoroti pentingnya mentalitas yang siap menghadapi kegagalan. Baginya, mahasiswa UPI yang unggul adalah mereka yang berani mencoba dan mampu bangkit dengan cepat. 


Sementara karakter adaptif diibaratkan sebagai bibit unggul yang mampu tumbuh subur di lahan manapun mereka berpijak. Nilai-nilai ini pun selaras dengan prinsip pedagogik lokal Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh, yang telah dipraktikkan nyata melalui aksi solidaritas penggalangan dana bagi korban bencana di Sumatera.


Menutup arahannya, Prof. Didi memberikan apresiasi tinggi atas antusiasme mahasiswa yang tetap luar biasa di penghujung tahun.


Beliau meyakini bahwa meski hasilnya tidak terlihat instan dalam hitungan bulan, investasi pada karakter dan integritas akan menjadi modal utama bagi alumni untuk menjadi pencipta lapangan kerja atau profesional yang membawa kebermanfaatan.


Terintegrasi dengan data TalentDNA yang telah diikuti ribuan mahasiswa, UPI berkomitmen mendampingi perjalanan karier mereka agar selaras dengan potensi unik masing-masing pribadi dalam ridha Allah SWT.


Kemudian, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) UPI, Komjen Pol (Purn) Drs. Nanan Soekarna, memberikan pesan yang sangat tegas dan sarat akan nilai integritas di hadapan 4.000 mahasiswa baru. 


Dengan gaya bicara yang lugas, beliau menekankan bahwa keberhasilan seorang mahasiswa tidak boleh hanya diukur dari predikat cumlaude secara intelektual (IQ), tetapi juga harus cumlaude secara emosional (EQ) dan spiritual (SQ).


"Jika Rektorat dan Senat bertanggung jawab atas kecerdasan intelektual Anda, maka saya selaku Ketua MWA merasa bertanggung jawab secara moral atas kecerdasan emosional dan spiritual Anda. Ini adalah bekal bergaul di dunia sekaligus bekal pertanggungjawaban di akhirat kelak," tegas Kang Nanan, sapaan akrabnya. 


Beliau mengingatkan bahwa dunia hanyalah sementara, sementara akhirat adalah selamanya. Oleh karena itu, profesionalisme yang tinggi harus dibalut dengan kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi setiap tindakan.


Baginya, visi UPI sebagai kampus yang "Pelopor dan Unggul" atau Leading and Outstanding hanya bisa dicapai jika dilandasi oleh dua pilar utama: Honesty (kejujuran) dan Integrity (integritas).


Untuk mewujudkan hal tersebut, Kang Nanan memperkenalkan tiga prinsip nilai yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh sivitas akademika UPI:


 * Values for Value: Mengutamakan nilai-nilai di atas kepentingan materi atau status pribadi.


 * No Conspiracy: Berkomitmen penuh tanpa adanya konspirasi, kolusi, maupun nepotisme.


 * Integrity Defender: Menjadi pembela integritas yang berani menyampaikan kebenaran meski tanpa pengawasan manusia.


Beliau pun mengingatkan mahasiswa bahwa fasilitas pelatihan ESQ yang diberikan secara gratis oleh rektorat ini adalah kesempatan langka yang harus dimanfaatkan dengan membuka hati dan telinga lebar-lebar. 


"Ingat, tim trainer sehebat apa pun tidak akan mampu mengubah Anda, kecuali Anda sendiri yang memutuskan untuk hijrah dan berubah. Mari kita jadikan integritas sebagai energi untuk mencapai prestasi kelas dunia," pungkasnya dengan penuh semangat yang disambut riuh yel-yel "Pelopor Unggul" dari ribuan mahasiswa.




Kehadiran Ary Ginanjar Agustian di Gymnasium UPI membawa getaran energi yang luar biasa bagi 4.000 mahasiswa baru. Dalam orasinya yang menggugah, Ary Ginanjar mengajak ribuan mahasiswa menoleh sejenak pada kemegahan Gedung Isola yang ikonik. 


Baginya, Isola bukan sekedar bangunan bersejarah, melainkan simbol utuh dari profil manusia UPI. Isola tetap tegak berdiri melintasi zaman karena memiliki kekuatan pada tiga bagian utamanya: fondasi, tiang, dan atap.


"Fondasi itulah Religius (SQ), tiangnya adalah Edukatif (EQ), dan barulah di puncaknya adalah Ilmiah (IQ)," papar Ary Ginanjar. 




Ia memberikan peringatan keras bahwa di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), kemampuan intelektual atau IQ kini sangat mudah digantikan oleh teknologi seperti ChatGPT. 


"Otak bisa diganti robot, mata kuliah bisa dijawab AI dalam hitungan detik. Namun, AI tidak memiliki kemampuan untuk merasa, berempati, apalagi memberi makna spiritualitas. Tanpa SQ dan EQ, kalian akan kalah oleh mesin," tegasnya.


Mengambil pelajaran dari tim rugby Selandia Baru yang legendaris dan ketangguhan bangsa Jepang serta Korea, Ary menekankan bahwa kunci keunggulan kelas dunia terletak pada High Energy dan Values. 


Ia membedah rumus keberhasilan: sehebat apa pun kompetensi seseorang, jika energinya rendah, maka kinerjanya akan melempem. 


Apresiasi setinggi-tingginya pun ia sampaikan kepada Ketua MWA, Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, dan Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., atas keberanian mereka memberikan pembekalan yang tidak biasa. 


Menurutnya, UPI adalah kampus pionir yang menyadari bahwa kesuksesan hanya ditentukan 10% oleh IQ, sementara 90% sisanya adalah kontribusi EQ dan SQ. 


Hal ini dibuktikan dengan aksi nyata mahasiswa UPI yang mampu mengumpulkan bantuan hingga ratusan juta rupiah untuk korban bencana di Sumatera, sebuah wujud nyata dari kecerdasan emosional yang terasah.


Suasana semakin memuncak saat Ary Ginanjar mengajak seluruh mahasiswa berdiri dan berikrar untuk menjadi penyelamat bangsa menuju Indonesia Emas 2045. 


"Pertemuan hari ini bukan kebetulan, Tuhan telah menggariskan kalian hadir di sini. Jangan hanya hidup untuk sekedar kuliah atau mengejar IPK. Hiduplah untuk mengubah Indonesia! Hiduplah untuk menggoncang dunia!" serunya.


Di hadapan para pimpinan universitas, 4.000 mahasiswa baru itu pun menjadi saksi atas keputusan besar mereka untuk membangun karakter baja, karakter Isola yang kokoh secara spiritual, kuat secara emosional, dan unggul secara intelektual.




Dalam sesi yang sangat dinamis, Coach Yendra selaku trainer ESQ berlisensi dari Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian membedah filosofi pembangunan manusia melalui metafora sebuah pohon kehidupan. 


Ia menjelaskan bahwa kesuksesan mahasiswa UPI harus dibangun dengan struktur yang kokoh. "Kita sedang membangun 'pohon' karakter Anda sekarang. Akarnya adalah Grand Why dan nilai-nilai spiritual (Values). Batang atau tiangnya adalah Growth Mindset dan TalentDNA, sementara atapnya adalah pengetahuan serta visi misi yang jelas," paparnya di hadapan 4.000 mahasiswa.


"Generasi Z adalah generasi hebat, namun sering kali kehilangan arah karena tidak tahu keunikan dirinya. Dengan metode ESQ, kita buka 'belenggu' itu. Kita ingin mereka kuliah bukan sekadar mencari nilai, tapi karena rasa syukur kepada Tuhan dan keinginan untuk berdampak bagi bangsa," paparnya.


Berkaitan dengan keunikan diri atau mengenal potensi diri, ESQ telah memiliki life tools yang bernama TalentDNA. Coach Yendra menegaskan bahwa TalentDNA merupakan human technology yang dirumuskan oleh Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian sejak 25 tahun lalu. 


Bermula dari konsep "Anggukan Universal" dan "Spiritual DNA" dalam buku-bukunya, kini instrumen tersebut telah berevolusi menjadi metode ilmiah berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sudah resmi dilindungi oleh HAKI. 


Metode ini berfungsi mengidentifikasi algoritma perilaku manusia pola yang terjadi secara alami dan spontan yang mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasa, dan mengambil keputusan.


"Setiap orang unik. Melalui 45 tipe talenta yang terbagi dalam aspek Drive, Network, dan Action, TalentDNA akan memudahkan kalian mengetahui gaya belajar yang paling efektif di masa perkuliahan," jelas Coach Yendra. 


Lebih jauh, ia memaparkan tiga manfaat utama instrumen ini: bagi individu untuk meningkatkan kesadaran diri (self-awareness) dan menentukan arah karier; bagi keluarga untuk membangun harmoni melalui pemahaman karakter antaranggota; serta bagi organisasi untuk meningkatkan kolaborasi dan produktivitas tanpa friksi.


Dengan penuh optimisme, Coach Yendra menutup sesinya dengan sebuah harapan besar bagi para mahasiswa baru UPI. Ia meyakini bahwa pemahaman akan potensi diri melalui TalentDNA akan menjadi kompas bagi mereka untuk bersosialisasi dengan dosen, sahabat, hingga orang tua secara lebih harmonis. 


"Semoga tiga tahun dari sekarang, kalian kembali ke gedung ini dengan mengenakan toga, berdiri tegak sebagai sarjana yang tidak hanya pintar, tapi juga mengenali kehebatan unik yang Tuhan titipkan dalam diri kalian," pungkasnya.


Kegiatan ini di tutup dengan komitmen bersama untuk menjaga api semangat karakter UPI yang unggul. Dengan bekal ESQ, UPI optimis 4.000 mahasiswa baru ini akan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.


Testimoni


Sejalan dengan visi universitas, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis, Prof. Dr. phil. Yudi Sukmayadi, M.Pd., menegaskan bahwa pelatihan ESQ merupakan kebutuhan mendesak bagi mahasiswa dalam membentuk karakter yang unggul, adaptif, dan berdampak.


Beliau menekankan bahwa performa lulusan UPI di masa depan haruslah berpijak pada kecerdasan spiritual dan emosional yang kokoh agar keberadaan mereka benar-benar dirasakan manfaatnya oleh bangsa, negara, dan masyarakat luas.


"Program ini adalah langkah luar biasa yang memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Kami melihat ada potensi besar dari peran alumni dan pihak keluarga yang peduli terhadap UPI untuk turut berkontribusi mendukung keberlanjutan pelatihan ini ke depan," ujar Prof. Yudi. 


Beliau menambahkan bahwa pihak universitas berkomitmen penuh secara maksimal untuk memastikan program pembekalan karakter ini terselenggara secara berkesinambungan dan terstruktur.


Lebih lanjut, Prof. Yudi memaparkan bahwa implementasi nilai-nilai ESQ akan dilakukan secara berjenjang dengan melibatkan seluruh elemen kampus, mulai dari dosen, pembimbing akademik, hingga pembimbing kemahasiswaan. 


Kolaborasi ini bertujuan untuk menciptakan ekosistem yang saling mendorong dan mengingatkan, sehingga mahasiswa dapat mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.


"Poin krusial yang kami tangkap dari paparan Pak Ary Ginanjar adalah pentingnya membangun energi positif. 


Saya melihat mahasiswa sangat responsif, muncul keyakinan kuat dalam diri mereka bahwa spiritualitas dan emosi harus menjadi basis utama pengembangan karakter. Energi positif inilah yang akan menjadi modal mereka menghadapi masa depan," pungkasnya.


Menyambung pentingnya pemetaan potensi mahasiswa, Kepala Divisi Bimbingan dan Konseling UPI, Prof. Dr. Ilfiandra, M.Pd., menekankan bahwa perjuangan mengenal diri adalah perjalanan sepanjang hayat. 


Baginya, pemahaman diri merupakan pintu masuk utama bagi setiap mahasiswa untuk meraih kesuksesan di masa depan.


"Kita membutuhkan instrumen yang tepat untuk memahami siapa diri kita sebenarnya. TalentDNA hadir sebagai potret yang mampu memetakan kecenderungan dan arah perkembangan mahasiswa. 


Ini adalah diagnostik awal yang krusial agar mereka tahu ke mana harus melangkah, ingin menjadi apa, dan bagaimana mempertahankan kekuatan yang dimiliki," jelas Prof. Ilfiandra.


Beliau juga menyoroti bahwa penguatan melalui ESQ sangat relevan dengan kebutuhan zaman saat ini. Mahasiswa tidak boleh hanya tumbuh secara akademik dan intelektual, tetapi wajib dibekali dengan kekuatan spiritualitas. 


Prof. Ilfiandra mengutip berbagai hasil riset yang menunjukkan bahwa kecerdasan spiritual seringkali menjadi faktor penentu utama keberhasilan seseorang.


"Kegiatan hari ini dikemas secara beragam, atraktif, dan interaktif. Model seperti ini sangat sesuai dengan karakteristik dunia remaja mahasiswa kategori Gen Z yang dinamis. 


Ini adalah bagian dari tugas pokok kami di Direktorat Bimbingan dan Konseling untuk terus memfasilitasi tumbuh kembang mereka," tambahnya. 


Beliau pun berharap sinergi antara UPI dan ESQ dapat terus berlangsung dalam jangka panjang guna mengawal perkembangan karakter mahasiswa UPI secara konsisten.


Testimoni Para Mahasiswa


Antusiasme luar biasa juga datang dari para peserta yang merupakan representasi Generasi Z. Mahasiswa dari Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Hanif Pratama, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman baru tentang pentingnya kolaborasi. 


"Sebagai Gen Z, kami belajar untuk tidak selalu mengandalkan diri sendiri. Materi ini sangat berguna untuk persiapan semester dua nanti, di mana kerja sama tim akan jauh lebih intensif," ujarnya.


Senada dengan Hanif, Calista (FPIPS) merasa kagum karena acara ini jauh dari kesan membosankan. "Jujur, menarik banget karena vibe-nya dijaga dengan musik yang pas. Yang paling membekas adalah korelasi hasil TalentDNA dengan kehidupan nyata saya, ini menjadi dasar kuat untuk mengenali potensi dalam kegiatan selanjutnya," ungkapnya.


Muhammad Ghazali (FPIPS) pun menambahkan bahwa materi yang disampaikan narasumber sangat berbobot namun mudah dipahami. "Materi 'daging' ini membuat saya lebih sadar diri dan terbuka. Pendekatan narasumbernya sangat terasa hingga kami mendapatkan feel-nya secara nyata," tambahnya dengan penuh semangat.


Dari Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Zahira mengapresiasi sistem pelatihan yang interaktif. Ia merasa terbantu karena potensi dirinya kini dirinci secara mendalam melalui hasil asesmen yang akurat. 


"Kami jadi tahu banyak potensi yang sebelumnya tidak kami sadari, dan ini sangat bermanfaat untuk dikembangkan selama masa kuliah," tutur Zahira.


Febriani (FIP) turut menekankan bahwa pemilihan lagu dan gaya komunikasi coach sangat cocok dengan selera Gen Z, sehingga durasi pelatihan hingga sore hari tidak terasa melelahkan. 


"Dari 45 potensi dalam TalentDNA, saya jadi tahu mana yang harus diperkuat dan mana yang harus dilatih untuk bekal berorganisasi maupun berkompetisi," jelasnya. 


Sementara itu, Aqila (FIP) menutup testimoni dengan menegaskan bahwa seluruh rangkaian acara ini menjadi highlight utama bagi mahasiswa baru. 


"Materi yang disampaikan sangat relate dan insightful bagi keberlangsungan hidup kami, terutama dalam menjalani dinamika perkuliahan di UPI," pungkasnya.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA