ESQNews.id, JAKARTA - Begitu banyak kejadian yang terjadi dalam kehidupan. Membuat kita bertumbuh atau malah lumpuh. Sebagian yang memilih bertumbuh atas segala kejadian menjadikan dirinya sudah paham harus kemana pergi dan apa yang perlu dilakukan untuk hidup.
Hidup sejatinya adalah ujian. Seandainya hidup ini betul-betul menjadi perhatian, sudah tentu lumpuh bukan hasil yang akan dituai. Melainkan bertumbuh untuk bergerak.
Mengupas bagaimana cara menghadapi tumpah ruah banyaknya kejadian dalam kehidupan, ESQ menggelar secara perdana training publik Growth Mindset yang dibawakan langsung oleh Founder ESQ yakni Dr. (HC) Ary Ginanjar Agustian.
Untuk melihat kehidupan dan tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh sehingga mencapai tingkat yang lebih tinggi membuat kesuksesan selalu terlihat di depan mata.
Entah berapa banyak masalah yang menghantam diri kita bahkan hambatan yang tak mampu diatasi, jika melihat dari sudut pandang sebagai ujian dari proses kehidupan, maka akan ada selalu kesempatan untuk jalan kesuksesan.
Cara pandang inilah yang dikupas dalam training dalam sebutan Growth Mindset, yakni pemikiran yang senantiasa mencari hikmah solusi dan jawaban. Seburuk apapun yang terjadi.
Training publik perdana ESQ Growth Mindset dilaksanakan secara eksklusif di Ruang Samarkand, Menara 165, Cilandak, Jakarta Selatan.
<more>
Pelatihan ini berlangsung selama dua hari terhitung mulai dari Sabtu, 5 Agustus 2023 hingga Minggu, 6 Agustus 2023.
Pesertanya berasal dari Malaysia dan Indonesia.
Antusias dari para peserta terlihat mengisi euforia kelas pelatihan. Mengangkat bagaimana mengembangkan growth mindset yang kuat dan tidak terjebak dalam keadaan pikiran yang tak berkembang saat dihadapkan berbagai ujian kehidupan yang disebut dengan fixed mindset.
Begitu banyak ujian kehidupan yang diceritakan oleh para peserta dalam kelas pelatihan, mulai dari kehilangan karyawan, difitnah, dihancurkan bisnisnya, dan beragam cerita yang menunjukkan kesungguhan bahwa mereka betul-betul ingin belajar menghadapi segala kondisi tersebut dengan Growth Mindset.
Founder ESQ tersebut menyatakan bahwa ada teori simpel mengenai Growth Mindset yakni ERO. Event + Response = Outcome.
Berbagai event dalam kehidupan yang terjadi, namun untuk menghasilkan outcome positif dibutuhkan respon yang positif pula. Inilah Growth Mindset. Bagaimana membuat segala kejadian ujian kehidupan tempat bertumbuh bukan mematikan jalan atau melumpuhkan.
“Banyak orang pintar namun lumpuh. Hal ini disebabkan karena banyaknya justification, excuse, dan blaming. Yang menjadikan dirinya fixed mindset.” Ary menunjukkan bagaimana seseorang itu diibaratkan sebuah mobil.
Mobil yang berjalan dengan roda, pompa adalah responsibility, sebuah tanggung jawab penuh atas kehidupan, atas roda yang senantiasa terisi penuh anginnya supaya mobil bisa terus berjalan.
Justification, Excuse, dan Blaming (JEB) bagai paku-paku yang siap membocorkan roda yang membuat mobil terhenti di tengah jalan. Inilah berbahayanya fixed mindset yang dapat membuat diri lumpuh tidak bertumbuh.
Melanjutkan ucapannya, “Maka inilah Growth Mindset yang selalu berusaha untuk melihat cahaya meski dalam kegelapan. Kemampuan untuk membelokkan pandangan kita untuk berada dalam sisi sebelah kanan dan memilih untuk melihat cahaya.”
Peserta juga banyak melakukan kegiatan berkelompok, merefleksikan dalam kehidupan apakah selama ini yang terjadi dalam diri sendiri melakukan growth mindset atau malah terjebak dalam fixed mindset.
Dalam jurnal McKinsey dengan tajuk How To Develop Growth Mindset, disebutkan bahwa learning and adaptability are fundamental to growth (pembelajaran dan kemampuan beradaptasi merupakan hal dasar untuk bertumbuh).
Terus belajar dan berfokus terhadap solusi yang perlu dilakukan untuk mengasah diri memiliki Growth Mindset.
“Sebelum Growth Mindset, kita perlu betul-betul memiliki tanggung jawab 100% akan kehidupan kita. Your responsibility. Apapun yang terjadi, saya akan tetap bertanggung jawab atas hidup saya, tidak akan melakukan justifikasi, tidak akan excuse, dan tidak akan blaming kepada siapapun.”
Mengapa diri perlu bertanggung jawab, Ary mengatakan bahwa dalam diri pada tiap orang memiliki power. Kekuatan yang berbeda dan saling melengkapi.
Akar dari Growth Mindset adalah DNA talent, subsconscious, orientasi, dan vision. Maka dalam kelas pelatihan pada hari pertama, Ary Ginanjar mengajak peserta menemukan talent masing-masing melalui tes TalentDNA yang dirancang tim ESQ.
“Talenta adalah sumber dari energi. Ketika kita tidak mampu mendeteksi energi dalam diri kita akan menjadikan fixed mindset. Namun ketika kita tahu kekuatan dalam diri kita, kita akan terus berjuang dan mengambil tanggung jawab penuh.”
Dalam sesi ini, para fasilitator trainer lisensi Ary Ginanjar membantu para peserta membacakan hasil dari TalentDNA yang setiap orang idealnya memiliki warna biru sebagai dorongan, kuning sebagai cara menghadapi orang lain, dan merah bentuk dari bagaimana cara bekerja.
Game ini bertemakan “Get To Know Your Talents” dari 10 tertinggi hasil tes, peserta diminta untuk memilih lima yang dirasakan paling kuat dan bagaimana talenta tersebut muncul dalam kehidupan.
Ketika dibacakan satu persatu oleh Coach Arief dan Coach Bram selaku fasilitator, peserta pun menyadari bahwa tiada kesempurnaan selain milik Allah. Setiap orang akan memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan DNA Talent ketika dikolaborasikan satu sama lain akan mewujudkan kesempurnaan, melengkapi apa yang kurang dari kelebihan yang berbeda.
“Seperti pepatah mengenai sambel. Jika yang dimakan hanya cabai-nya saja pedas, dimakan hanya terasi-nya saja tidak enak. Tapi ketika diulek dan disatukan akan sedap sekali.” Ujar salah satu peserta memberikan insight dari hasil pembacaan TalentDNA.
Ary Ginanjar setuju dengan pepatah sambel. Rasa menyenangkan itu hadir ketika semua bisa saling memposisikan diri, saling mengisi, bukan saling berdebat dan berkelahi.
“Kita sadari bahwa DNA Talent itu adalah karunia dari Allah SWT. Barulah kita faham kenapa manusia diturunkan sebagai khalifah-Nya. Yakni mewakili 99 sifat asmaul husna.”
Contohnya TalentDNA forgiving, mewakili sifat Allah Yang Maha Pengampun yakni Al-Ghofur.
Founder ESQ tersebut menambahkan, “Kita dipertemukan di Padang Arafah dengan bunyi man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, barangsiapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya.
Inilah wukuf, thawaf, dan sai. Dalam wukuf di Padang Arafah untuk mengenali diri, kemudian thawaf bersatu semua berkumpul dengan warna kulit berbeda, dari suku yang berbeda. Kemudian sai, berlarilah. Berlarilah dengan Growth Mindset.” Tutup Ary Ginanjar dalam kelas pelatihan Growth Mindset selama satu hari pertama.
Bagi yang ingin pula mengenal dirinya lebih dalam, silahkan lakukan tes TalentDNA dengan men-download ESQPay di appstore atau playstore. Info lebih lanjut silakan direct message di instagram @esqtraining.




