Senin, H / 02 Februari 2026

Dengan Bersikap Lapang, Hidup pun Gampang

Rabu 29 Jan 2020 08:12 WIB

Author :M. Nurroziqi

ilustrasi

Foto: dok.ESQ

Oleh: M. Nurroziqi

ESQNews.id - Bukankah kita sedemikian sering membaca doa yang terdapat dalam Al-Qur'an Surat Thoha ayat 25-28 berikut?

 

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.

"Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku."


Bahkan, telah menjadi satu doa yang ditradisikan untuk istikamah dibaca ketika hendak memulai belajar di sekolah-sekolah. Sehingga, doa tersebut menjadi sangat familiar dan sudah banyak sekali yang hafal.

Doa tersebut adalah permohonan yang pernah dimintakan Nabiyulloh Musa A.s, kepada Allah Swt ketika diperintah menyeru kebaikan kepada raja Fir'aun yang lalim. Dan beruntungnya kita hari ini adalah diperkenankan juga untuk mengamalkan doa tersebut. Ini pun, seharusnya mengingatkan betapa sesungguhnya di dalam diri kita sendiri berkemungkinan terdapat sifat-sifat Fir'aun. Sehingga, melalui doa tersebut, diharapkan sekali bisa meredam dan membuang jauh ke-Fir'aun-an diri itu.


Lebih jauh, perlu sekali kita juga mendalami maksud yang terkandung dari doa tersebut. Ini pun terkait dengan kepahaman kita mengenai apa yang sedang kita mohonkan kepada Allah Swt agar segera dikabulkan. Bagaimana mungkin seorang meminta tetapi tidak paham dengan apa yang sedang diminta? Maka, mari sebentar kita perhatikan rangkaian urutan isi doa tersebut.


Pertama, kita memohon kelapangan dada. Kedua, dimudahkan segala urusan. Dan yang ketiga, diberikan keluwesan lidah supaya perkataan mudah dimengerti orang lain. Urutan ini bukanlah sebuah kebetulan. Semua terkandung maksud yang sungguh luar biasa. Betapa ketiga permohonan tersebut menjadi bagian dari rangkaian keselamatan dan kebahagiaan hidup yang musti dijalani.


Bukankah semua harus bermula dari hati yang lapang? Ini pusatnya. Hati. Harus benar-benar menjadi lapang terlebih dahulu. Hati yang senantiasa lapang akan menjadikan diri mudah di dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Serumit dan sepelik apapun setiap persoalan dan permasalahan hidup yang merintang, akan dihadapi dengan santai dan tenang jika seseorang itu memiliki hati yang lapang. Beda sekali dengan yang berhati sempit. Seorang yang belum apa-apa sudah sempit hatinya, maka segala rupa permasalahan yang ringan dan teramat sangat mudah pun akan berubah menjadi berat dan sulit terselesaikan.


Rasa takut untuk memulai langkah baik, itu sempit dadanya. Selalu pesimis dan berprasangka yang tidak baik, itu juga sempit hatinya. Mengganggap berat segala sesuatu yang belum pernah dijalani, sehingga menjadikan diri tidak berani untuk berbuat apa-apa, ini pun tanda dari sempitnya dada. Dengan demikian, hati yang selalu lapang, akan menjadikan gampang dan mudah terselesaikan setiap persoalan dan permasalahan hidup yang datang.


Efeknya lagi, setiap perkataan yang terucap dari seorang yang berhati lapang dan tidak gampang dirundung masalah, adalah akan menjadi sangat santai. Teduh. Bahkan bernuansa bahasa yang sederhana dan sangat mudah untuk dipahami oleh orang lain. Tentu semua ini dikarenakan kemapanan hati dan ketahanan mental di dalam menyikapi setiap keadaan. Sehingga, dalam setiap sikap dan perangai, terkhusus gaya bicara, akan begitu indah dan mendamaikan.

<more>

Sebaliknya, tutur kata yang tergesa-gesa dan sulit dipahami. Atau bahkan sampai pada pengucapan kata-kata kasar penuh makian. Semua itu pasti dimulai dari ketidak-sanggupan diri menghadapi setiap keadaan hidup dengan berlapang hati. Sedikit-sedikit marah, sebentar-sebentar mencaci dan menghujat. Gampang menyalahkan. Suka merendahkan. Dan gemar menjelek-jelekkan.


Ini, tentu termulai dari kondisi hati yang sempit. Dadanya sama sekali tidak lapang. Akhirnya, menghadapi setiap permasalahan hidup menjadi sangat rumit. Tidak bisa tenang. Mungkin, kita pernah menjumpai seseorang yang memiliki sedemikian banyak dan peliknya masalah hidup yang dialami, kemudian menjadikannya meracau sulit dipahami. Saking tidak jelasnya kondisi dirinya, sehingga disenggol sedikit saja sudah marah. Gampang tersinggung, bahkan pada sesuatu yang teramat sangat kecil dan guyonan.


Dengan demikian, semakin lapang hati seseorang, semakin pandai ia meringankan setiap persoalan dan permasalahan hidup yang pasti datang merintang. Juga, menjadi semakin piawai ia di dalam menyederhanakan setiap perkataan.

Semoga Allah Swt senantiasa menganugerahi kita kelapangan hati. Memudahkan setiap urusan yang selalu datang di kehidupan. Serta melembutkan perkataan kita, mensantunkan akhlak dan kepribadian kita. Aammiin.

 

*M. Nurroziqi. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis buku-buku Motivasi Islam.


Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di [email protected]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA