ESQNews.id, JAKARTA - Siapa yang tidak asing lagi dengan generasi Z dan sosial media? Rasanya dua hal tersebut selalu berdampingan karena sudah menjadi ikon.
Gen z yaitu generasi saat ini yang lahir pada tahun 1997 - 2012, kini berusia 12 sampai 27 tahun tentu sedang mendominasi kegiatan yang berkaitan dengan perkembangan zaman, salah satunya adalah sosial media.
Namun, apakah semua gen z sudah layak menggunakan sosmed? Dengan arti apakah bijak bermain sosial media?
Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Universitas Ary Ginanjar khususnya mahasiswa angkatan 11 menggelar seminar Talkcyum 11 dengan judul “Be Quality Gen-Z Citizen at Social Media: Right and Wise Behavior of Gen-Z Towards Social Media” yang dinarasumberi langsung oleh Sherly Annavita (Influencer & Digital Content Creator) dan Ihsan Sidiq (Mahasiswa Berprestasi Universitas Ary Ginanjar angkatan 8).
Seminar berlangsung pada hari Rabu, 5 Juni 2024 di lantai 18, auditorium Universitas Ary Ginanjar. Ruang auditorium dengan kapasitas 120 orang terisi penuh oleh siswa-siswi dari SMA, juga kampus lain yang turut hadir mengikuti seminar.
Sebagai latar, seminar Talkcyum 11 merupakan bagian dari MKWK (Mata Kuliah Wajib Kurikulum). Sehingga, perkuliahan tidak harus konvensional namun dapat dijadikan seperti event seminar Talakcyum 11. Seminar Talkcyum 11 ini merupakan bagian dari kerjasama antara mahasiswa dan dosen di Universitas Ary Ginanjar.
<more>
Sebagai sambutan, Sujoko Winanto (Rektor Universitas Ary Ginanjar) menyapa teman-teman yang hadir memenuhi ruang Auditorium.
“Terima kasih adik-adik generasi Z yang luar biasa semangat belajarnya. InsyaAllah kita akan mendengarkan dari pembicara satu yaitu Mas Ihsan, dan juga pembicara kedua yaitu Kak Sherly. Nikmati prosesnya, dan dapatkan ilmu bermanfaat.” Ujar Sujoko yang memberikan semangat dan pesan kepada para peserta seminar.
Acara berlangsung selama setengah hari dimulai dari jam 8 pagi sampai 12 siang. Pembicara pertama yaitu Ihsan Sidiq, sebagai mahasiswa berprestasi di Universitas Ary Ginanjar dalam jurusan Ilmu Komputer turut memberikan pendapatnya tentang bagaimana bijak bermain sosial media.
Sebagai pengguna media sosial, tentu perlu memperhatikan etika digital dan juga literasi media.
“Seringkali generasi Z menggunakan teknologi itu memiliki behavior FOMO (fear of missing out) atau apa-apa yang viral langsung ikut. Karena adanya teknologi, informasi bisa menyebar begitu cepat dan luas.
Salah satu kebijaksanaan yang bisa kita terapkan adalah agar tidak gampang termakan berita hoax. Jangan langsung ikut-ikut menyebarkan tanpa mencari tau validitas dari berita tersebut.
Jadi, informasi yang teman-teman dapatkan bisa di crosscheck terlebih dahulu, dicek kembali apakah informasi itu fakta atau malah sesuatu yang menyesatkan.” Saran Ihsan.
Ihsan juga mengatakan bahwasannya teknologi akan terus berkembang, meskipun satu orang menolak, satu komunitas menolak, siapapun menolak, teknologi akan terus berkembang. Oleh karena itu, teknologi hadir bukan untuk dihindari, namun dimanfaatkan keberadaannya dengan cermat dan bijak.
“Gimana caranya supaya kita dapat mengatasi tantangan dari teknologi? Kita harus punya learning growth mindset. Jangan kita menolak adanya teknologi, tapi kita belajar untuk hidup bersama teknologi dan menggunakannya.
Kalau di ESQ, ada yang namanya Emotional Quotient (EQ) dan Spiritual Quotiont (SQ) yang tidak dimiliki oleh teknologi atau AI (Artificial Intelegent). Sehingga, kita perlu meningkatkan EQ dan SQ, belajar untuk memanfaatkan teknologi.” Tambah Ihsan.
Sosial media dan teknologi banyak memudahkan kehidupan saat ini, terutama dengan adanya AI. Hadirnya AI membuat banyak orang khawatir akan tergantikannya di posisi pekerjaan.
Namun, Ihsan mengingatkan bahwa manusia memiliki 3 kecerdasan seperti yang sudah diajarkan oleh Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ) yaitu IQ, EQ, dan SQ. Sedangkan AI hanya memiliki kecerdasan intelektual saja.
Oleh karena itu, Ihsan mengingatkan untuk terus mengasah EQ dan SQ, dan memanfaatkan teknologi untuk membantu meningkatkan IQ.
Tak hanya Ihsan yang mengisi seminar pada pagi hari tersebut, ada pula influencer sekaligus digital content creator yang harum namanya di Indonesia, sebagai perempuan yang berdaya dan memotivasi banyak orang dengan jumlah followers di instagram mencapai 2 juta.
Sherly berbagi kepada teman-teman yang hadir mengenai peran perempuan di media sosial, kreativitas dalam konten, hingga seni dan kreativitas di era digital.
Tak hanya itu, Sherly juga menjabarkan apa itu pengguna berkualitas. Pengguna sosmed saat ini cenderung identik dengan anak muda.
“Bicara tentang anak muda itu bukan tentang hari ini. Karena hari ini adalah masa bersiap. Anak muda akan bicara tentang masa depan. Karena ketika masa muda, yang akan kita tawarkan adalah masa depan.
Yang terjadi di 2030, 2045 mendatang adalah apa yang terjadi pada hari ini. Hal yang paling cepat memprediksi apa yang terjadi nanti di 2045 adalah mundur 20 tahun ke belakang, apa yang sedang terjadi, aktivitas apa yang sedang dilakukan secara berulang. Itulah yang perlu kita usahakan dari hari ini.”
Dengan adanya sosial media, Sherly berpesan gen z dapat menjadi pengguna yang berkualitas. Tidak hanya membuang waktu menjadi penikmat hiburan dengan scrolling terus menerus, namun perlu menjadikan sosmed sebagai tempat pembelajaran.
“Tantangan kita saat ini sebagai anak muda itu diminta untuk melakukan banyak hal, tapi gelas kita masih kosong. Maka, lakukanlah untuk mengisi gelas tersebut dengan salah satunya memiliki self awareness.
Mereka yang memiliki self awareness akan menjadi percaya diri, mengetahui siapa diri kita, mengetahui kekurangan, tantangan apa, dan bagaimana mengatasinya.
Jadi, dengan kondisi saat ini berhadapan dengan sosial media, kita mengalami tsunami informasi. Kita justru harus fokus saja dengan target kita, fokus dengan diri kita, dan tujuan kita.” Ujar Sherly.





