Oleh : M. Nurroziqi
ESQNews.id - "Sikap Anda menjaga kehormatanku di depan teman-temanku, itulah cinta." Ungkapan cinta Surinder kepada Tha'ani di film Rab Ne Bana Di Jodi.
Suatu ketika, terjadi kebakaran hebat di kota Baghdad. Di antara sekian banyak yang tertimpa musibah itu, terdapat sebuah toko yang selamat dari amukan api. Kemudian, sampailah berita tentang hal itu kepada sang pemilik toko. Mendengar berita tokonya selamat dan tidak ikut terbakar, spontan sang pemilik toko berucap hamdalah sepenuh rasa syukur.
Siapa yang tidak bahagia atas keadaan diri yang selamat tidak kekurangan sesuatu apa pun?
Tetapi, tidak lama dari rasa bersyukurnya itu, sang pemilik toko tersadar betapa sikapnya tersebut hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan orang lain. Rasa penyesalan kemudian menggelayuti hatinya. Sungguh, ungkapan syukurnya itu menunjukkan masih sangat kuat perhatiannya kepada diri sendiri. Begitu kuatnya, hingga mengalahkan kepekaan rasa kepada sesama.
Betapa tidak berperasaannya, orang yang mensyukuri keselamatan sebuah toko pada saat keselamatan sesama dan harta benda mereka terbakar habis. Sungguh tidak berakhlaknya, orang yang sanggup menyatakan kegembiraan di saat musibah menimpa sebagian besar saudara-saudaranya. Begitulah rasa bersalah penuh penyesalan yang kemudian dimintakan ampun kepada Allah SWT. "Tiga puluh tahun aku beristighfar. Memohon ampun kepada Allah SWT, atas ucapanku yang sekali, Alhamdulillah." Demikian, upaya penebusan dosa yang dilakukan sang pemilik toko, yang tidak lain adalah seorang arif billah, Syekh Sariy Saqathy, murid salah seorang sufi besar Ma’ruf Karkhy.
Betapa banyak manusia yang pandai meluapkan cinta, mengekspresikan rasa dengan gegap gempita sukacita. Tetapi, betapa kini sedikit sekali yang sanggup menjaga perasaan sesama. Betapa sangat jarang yang kuat menahan dan mengkesampingkan luapan bahagianya demi tidak melukai hati yang di sekitarnya, demi mempersembahkan bahagia bagi semua. Dan kisah di atas, memberikan pelajaran berharga untuk kita semua. Bahwa, atas segala luapan kebahagiaan diri, harus juga dijalani dengan hati-hati. Jangan sampai semua yang ternikmati, justru berdampak duka lara bagi yang lain. Jangan sampai beragam luapan bahagia, justru menumbuhkan rasa nelangsa bagi orang yang memandangangnya.
Lebih jauh dari itu, bahwa setiap kebahagiaan yang sudah dianugerahkan Allah SWT, harus jua dipersembahkan demi membangun kebahagiaan-kebahagiaan sesama hidup di semesta raya ini. Agama kita, sama sekali tidak mengajarkan sikap egois, tidak pernah menyuruh untuk menjadi manusia yang terlampau mengutamakan kepentingan diri sendiri. Tetapi, kemuliaan agama kita adalah tentang memberi, memberi dan memberi dengan cara dan nuansa persembahan yang indah penuh bahagia. Berbahagia pun, tidak dianjurkan sendiri, melainkan harus bisa dinikmati secara bersama, mengajak yang lain untuk turut serta berbahagia. Inilah, muara diri yang setiap tindak-tanduk berlandaskan cinta.
"Hidup yang hanya sepanjang tarikan nafas, jangan kau tanam apa pun selain cinta." Demikian nasehat mulia dari Maulana Jalaluddin Rumi. Tetapi, kenyataan yang ada akhir-akhir ini, cinta seringkali ternodai oleh pelampiasan kepuasan nafsu sendiri. Bertopengkan cinta, nyatanya hanya ingin melukai. Saling menyakiti perasaan tanpa ada kesanggupan untuk saling menjaga kehormatan. Sehingga, tidak mengherankan jika derita dijadikan ajang menaikkan pandangan baik atas diri. Memberinya sedikit sekali, tetapi selfie-nya berulangkali. Bahkan, dipajang di sana-sini. Tidak jarang, ada yang tidak memiliki andil apa-apa, tetapi dengan "pede"-nya menampangkan diri supaya dikenal sebagai yang berprestasi. Yang begini, gayanya sih baik, tetapi sejatinya sedang menginjak-injak tengkuk saudara hanya demi kepuasan nafsunya sendiri.
Bahkan, lebih dahsyat lagi, ada yang dengan tega mencap derita duka lara orang lain sebagai azab. Sedang, ketika itu menimpa diri, dibilangnya sedang diuji. Sebaliknya, ketika orang lain mendapatkan keberuntungan secara bertubi-tubi, dinilainya sebagai istidroj dari Yang Maha Kuasa. Sedang, di saat seluruh kenikmatan itu diterima oleh diri sendiri, diyakininya sebagai rezeki atas kebaikan-kebaikan diri. Keadaan tidak berperasaan seperti ini, sudah tidak lagi dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Tetapi, tidak jarang dijadikan bahan ceramah dan pembicaraan-pembicaraan di hadapan lautan manusia.
Dari itu, yang terpenting dari cinta adalah kehebatan di dalam saling menjaga perasaan dan kesanggupan saling meninggikan kehormatan. Mencintai itu berbagi bahagia dengan cara-cara yang bahagia. Sedikit pun tidak melukai perasaan dan sama sekali tidak menjatuhkan kehormatan. Sampai-sampai, ketika ada orang yang hendak berbuat tidak baik terhadap diri, berpura-puralah tidak tahu, demi menjaga perasaan dan kehormatan orang tersebut. "Jangan sampai orang yang menyakiti Anda tahu kalau Anda sudah tahu bahwa orang itulah yang sudah menyakiti Anda", demikian nasehat hebat tentang sangat pentingnya menjaga perasaan orang lain dari Cak Nun. Dan inilah cinta, yang tidak banyak orang yang benar-benar bisa.
*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.
Ingin tulisanmu dimuat di ESQNews.id? kirimkan ke email kami di [email protected]





