ESQNews.id, JAKARTA - Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd. (Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dan Pendidikan Guru di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen)) bersama tim menyambut hangat kedatangan Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ Corp.) dalam rangka audiensi.
Audiensi berlangsung pada hari Senin, 6 Januari 2025 di Gedung D, Kemendikdasmen, Jakarta. Dalam kesempatannya, Ary Ginanjar berdiskusi mengenai Pemetaan Minat Bakat dengan TalentDNA Guru dan Murid serta Metode Mengajar Deep Learning & Deep Teaching dalam rangka menghadapi tantangan teknologi di masa depan.
"Tujuan pertemuan kita hari ini dengan Dirjen GTK dan tim adalah untuk membicarakan terkait cara memilih dan memilah guru sesuai talenta, membantu guru membimbing siswa agar tidak salah jurusan, menyampaikan metode pengajaran deep teaching dan deep learning," ujar Ary.
Pendiri Menara 165 itu menjelaskan bahwa, Deep Teaching adalah kemampuan mengajar secara mendalam, dimana guru mampu menggali potensi siswa untuk berpikir lebih mendalam, menemukan pola baru, hingga menciptakan terobosan baru.
Guru yang memahami Deep Teaching dapat memicu intelektualitas, emosionalitas, dan spiritualitas siswa melalui pertanyaan-pertanyaan yang tepat.
"Sebaliknya, Deep Learning adalah kemampuan belajar secara mandiri. Di zaman ini, siswa sudah bisa belajar sendiri melalui teknologi seperti Chat GPT. Jika seorang guru atau dosen tidak memahami ilmu Deep Teaching, maka mereka bisa kalah dengan Chat GPT.
Tugas seorang pendidik adalah memastikan ilmu yang diajarkan dapat dipahami, dipraktikkan, dan dieksekusi oleh siswa bukan hanya pengetahuan dengan Chat GPT.
Dengan Deep Teaching, guru tetap menjadi penggerak utama dalam pendidikan, sekaligus mampu mengarahkan pemanfaatan teknologi seperti Chat GPT secara optimal," sambungnya.
<more>
Untuk itu, kata Ary, diperlukan pembekalan metodologi inside-out bagi guru. Inside out dimulai dari inner drive. Pola pendidikan dari dalam diri, yang menjadi sumber motivasi siswa.
Setelah mereka temukan alasan (spiritual) mengapa hal itu penting, maka kreativitas dan inovasi akan muncul. Jika sudah demikian barulah dibekali kompetensi yang diperlukan. Sehingga berdampak kepada siswa.
Ary Ginanjar telah mempraktekkan dan membuktikan dahsyatnya ilmu-ilmu ini di kampus yang ia dirikan yakni UAG University. Satu-satunya Universitas yang mengajarkan 3 kecerdasan (intelektual, emosional, spiritual) dan aplikasikan konsep manajemen talenta.

Diketahui dari beragam sumber mengenai jumlah pelajar di Indonesia tahun ajaran 2023-2024, yakni SD : 24 juta orang, SMP : 9,9 juta orang, SMA : 10,3 juta orang, dan Universitas: 9.3 juta orang.
Dan kabarnya, Indonesia memiliki sekitar 47 juta siswa, dari tingkat dasar hingga universitas. Namun yang jadi tantangannya adalah 87% mahasiswa kami yakin bahwa mereka telah memilih jurusan yang salah.
Dampaknya, hal ini tidak sesuai dengan passion dan pekerjaan mereka. Sehingga mereka merasa stres dan frustasi. Idealnya, para ahli harus membimbing semua siswa untuk menemukan kekuatan dan potensi mereka.
"Namun konsultasi untuk menemukan talenta tersebut akan memakan waktu dan uang. Dan yang saya tahu, tidak semua orang mampu melakukan hal ini karena terdapat lebih dari 47 juta siswa yang setiap analisisnya memerlukan biaya sekitar 2 juta rupiah. Jika ditotalkan, ini akan menelan biaya sebesar 94 triliun rupiah. Setara dengan 6 miliar USD.
Menanggapi hal tersebut, maka ESQ mempunyai life tools bernama TalentDNA berbasis AI yang ditemukan 24 tahun yang lalu oleh Ary Ginanjar Agustian.
Teknologi AI yang inovatif ini memungkinkan solusi yang cepat, tepat, akurat, dan hemat biaya untuk mengidentifikasi kekuatan atau potensi diri 47 juta pelajar Indonesia.
Pada saat yang sama, hal ini sejalan dengan kedaulatan AI yang memberdayakan Indonesia untuk memberikan kita sumber daya demi mewujudkan visi dunia, dimana setiap orang mewujudkan kejeniusannya, menjadi kenyataan," jelas Ary.
Di AI TalentDNA juga bisa mengetahui penempatan talenta, dalam artian memberikan wawasan yang tepat dan personal mengenai potensi individu, memastikan bahwa talenta yang tepat ditempatkan pada peran yang sesuai.
AI TalentDNA bisa mengidentifikasi talenta berbasis data yang real time, kecocokan job fit berdasarkan talenta, dan akurasi dalam mengukur culture fit. Sehingga dengan mengetahui Talent Fit, Job Fit dan Culture Fit tersebut, ESQ berharap bisa melahirkan SDM yang 3 E (Ease, Enjoy, Excellent) dalam kehidupannya.

Nunuk Suryani mengatakan, "Sore ini membahas tentang beberapa hal yang mungkin bisa dikerjasamakan, antara ESQ dengan Dirjen GTK. Tadi membahas terkait dengan bagaimana kita bisa memetakan TalentDNA Guru BK serta Guru BK itu bisa menggunakan tools TalentDNA untuk bisa mengetahui potensi para siswanya.
Kami memandang kerjasama ini penting untuk dilakukan, agar guru BK bisa mempunyai bekal yang cukup bagaimana menggunakan tools atau teknologi AI, bisa menjadikan konselor yang baik buat anak-anak didiknya.
Dan tadi juga yang disampaikan oleh Pak Ary Ginanjar, dengan adanya AI ini guru bisa menjadi ahli psikolog untuk anak-anaknya dan bisa memberikan arahan kepada siswa tentang masa depannya.
Lalu kami juga ingin tahu caranya bagaimana guru bisa mengidentifikasi kelemahan dan kelebihan yang ada pada dirinya sehingga bisa mengurangi tingkat stress guru terhadap profesinya. Sehingga guru bisa bahagia setelah mengetahui dirinya sendiri.
Dan kebahagiaan itulah yang menyebabkan guru bisa memberikan pelayanan yang terbaik untuk siswanya."





