Senin, H / 02 Februari 2026

Ary Ginanjar Agustian: Agar tidak Menjadi Joker, Hindari Penyakit KKT!

Jumat 18 Oct 2019 17:33 WIB

Reporter :Endah Diva Qaniaputri

Ary Ginanjar Agustian sedang menjelaskan terkait Film Joker menurut kacamata ESQ

Foto: Youtube ESQ World

“Dulu ketika saya ingin menjadi Joker semua orang tertawa. Lalu ketika dia sudah menjadi Joker tidak ada yang tertawa. Tidak tahu apakah saya ini ada atau tidak.” Kutipan kata-kata Arthur, sang Joker.


ESQNews.id, JAKARTA – Ada yang bilang orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti, apa kalian setuju? Ada yang sudah menonton film Joker? Joaquin Phoenix, pemeran Joker ini ia awalnya ingin mencari nafkah. Namun apa yang terjadi? Ia dibully atau ditendang, bahkan papan untuk iklannya diambil orang.


Kemudian ia disiksa, dari situ Joker merasa tersakiti. Dalam screen filmnya, ia diberi sebuah pistol. Ketika ia sedang melakukan pertunjukan pistol tersebut jatuh dan dipecat. Akhirnya ia kehilangan pekerjaan.


Sosok yang menyerupai badut ini, sayang sekali kepada ibunya. Tempat mencurahkan hati dan perasaan. Diceritakan bahwa bapaknya itu adalah Wayne, yang merupakan calon walikota di kota Gotham.


Arthur, nama dari joker ini menemui sang bapak. Namun apa yang terjadi? Ternyata ia anak pungut dan bukan anak dari Wayne. Rasa penasaran yang mengganggu pikirannya itu membawakan ia ke tempat data-data rumah sakit jiwa. Mencuri dokumen, setelah di cek ternyata benar anak pungut (dia kehilangan eksistensi).


<more>


Orang yang menderita seperti Joker adalah orang yang KKT (Kekurangan, Kehilangan, Tidak Pernah). Ketiga faktor inilah yang membuat Joker menderita. Ia kehilangan segalanya, dari situ dia mencari dengan cara yang salah diluar hati nurani manusia.


Untuk menghindari KKT harus ingat 7 hal tentang kebutuhan dasar manusia, yaitu:

  1. Kepastian (pendapatan, uang, untuk bisa hidup)

  2. Tantangan (tidak mendapatkan tantangan, pada akhirnya kehilangan mata pencaharian)

  3. Relasi dan cinta (harusnya mendapatkan cinta, tapi tak ada satupun yang mencintainya)

  4. Eksistensi diri (tidak ada yang menerima)

  5. Perkembangan (tidak pernah naik dan berkembang, bukannya naik malah turun)

  6. Kontribusi (bahkan dia juga ingin berkontribusi, membuat orang lain bahagia. Namun yang didapat hanyalah sebuah hinaan)


    “Ke enam di atas semuanya itu sirna, inilah yang diderita oleh Joker (KKT). Dan ini bisa terjadi pada siapa saja, dimana saja tidak hanya Joker, tapi bisa saja terjadi pada Anda. Ke enam inilah yang membuat manusia menderita. Joker tidak tahu, bahwa yang ketujuh itulah makna hidup yang tertinggi,” papar Ary Ginanjar dalam Channel Youtube ESQ World pada (15/10/2019).

  7. Meaning & purpose (pengabdian kepada Illahi, Grand Why)

    Bahwa manusia itu tidak diciptakan untuk mencari eksistensi, tidak untuk mencari cinta. Tapi manusia diciptakan eksistensinya adalah sebagai hamba atau Wakil Tuhan di muka bumi. Dengan kesadaran itu ia berbagi cinta, dengan kesadaran dirinya sebagai hamba Illahi ia memberikan makna.




Tetapi ketika yang nomor 7 itu, dimana manusia memahami arti penting kehidupan yang disebut THE GRAND WHY. Apa itu? Alasan tertinggi manusia untuk apa hidup, alasan tertinggi mengapa ia diciptakan. Alasan tertinggi siapa dirinya? Dimana dirinya? Mau kemana dirinya?



 

Solusi menyembuhkan penyakit KKT yaitu:

  1. Pegang erat kata ‘Grand Why’, hidup kita semata-mata hanya untuk pengabdian kepada sang Illahi. Melalui pengabdian terhadap sesama.

  2. Merubah Ekspektasi menjadi Apresiasi. Harapan untuk dicintai, dikasihi, untuk eksist harus diganti dengan apresiasi, penghargaan atas apa yang dimiliki. Kebanyakan kita fokus kepada kekurangan.

  3. Rubahlah keinginan dan harapan menjadi rasa kesyukuran.

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA