ESQNews.id, MAJALENGKA — Bayang-bayang tragedi di kawasan Guci (lereng Gunung Slamet) kini memicu peringatan serius bagi lingkar Gunung Ciremai.
Berdasarkan pesan berantai dan infografis mitigasi yang viral pada Senin, 22 Desember 2025, potensi banjir bandang kini menjadi ancaman nyata yang tak hanya menyasar wilayah hulu, tetapi juga hilir.
Secara spesifik, dilansir dari cirebonraya.com, Kabupaten Kuningan (wilayah barat dan utara) serta Majalengka (wilayah selatan) berada di garis depan dampak karena posisi geografisnya di kaki gunung.
Namun, analisis peta aliran sungai menunjukkan bahwa Cirebon dan Indramayu pun tak luput dari bahaya sebagai daerah limpahan air (hilir).
Mengapa Potensi ini Meningkat?
Ancaman ini bukan tanpa sebab. Gunung tertinggi di Jawa Barat (3.078 mdpl) ini memiliki kombinasi faktor risiko yang krusial:
– Geografis Ekstrem: Lereng yang curam mempercepat laju air hujan dari puncak ke sungai-sungai di bawahnya.
– Kerusakan Lingkungan: Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pembukaan wisata tanpa konservasi membuat tanah kehilangan daya serap.
– Daya Rusak: Jika curah hujan ekstrem terjadi, air tidak akan turun sendirian, melainkan membawa material sedimentasi seperti lumpur, batu besar, dan kayu—fenomena yang lazim disebut banjir bandang.
Titik Rawan dan Langkah Mitigasi
Selain pemukiman dan infrastruktur pertanian, destinasi wisata populer di kaki Ciremai seperti Palutungan dan Linggarjati disebut sebagai titik yang sangat rentan terdampak.
Oleh karena itu, mitigasi bencana tidak bisa ditunda. Otoritas setempat perlu memperketat penjagaan tutupan hutan dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Indikator bahaya paling spesifik yang perlu diwaspadai warga adalah durasi hujan, jika hujan lebat mengguyur kawasan puncak lebih dari lima jam, sistem peringatan dini wajib segera diaktifkan demi keselamatan bersama. [infomjlk]


