ESQNews.id, JAKARTA - Bahkan, ketika anak dalam keadaan gembira, mereka belajar dengan caranya sendiri tanpa perlu dipaksa. Hal ini bertentangan dengan yang banyak terjadi di masyarakat. Anak dipaksa untuk menghafal huruf, kemudian mengeja, bahkan kadang disertai dengan bentakan.
Saat ini, masuk sekolah dasar identik dengan bisa membaca dan menulis. Orangtua menjadi amat gelisah jika di usia TK, anaknya belum bisa membaca. Akhirnya, banyak orangtua yang mengkursuskan anaknya yang belum tentu metodenya menyenangkan.
Sylvia Ashton Warner, yang selama 24 tahun mengajar di Maori New Zealand berkata, “Kata pertama harus bermakna bagi anak. Kata itu harus merupakan bagian dari dirinya. Harus merupakan ikatan yang organik, secara organik lahir dari dinamika hidup itu sendiri. Harus kata yang sudah menjadi bagian dari dirinya.”

<more>
Pada kisah di atas, si anak begitu antusias belajar huruf dari nama orang-orang yang dekat dengan dirinya: namanya sendiri, ibunya, juga adik bayi yang disayanginya.
Hal itu tentu sangat melekat dan bermakna bagi dirinya. Belajar membaca dengan mengurutkan huruf dari A ke Z hanya berguna bagi anak yang namanya berawal dari huruf A, seperti Ani, Amir, dan lain-lain.
Membaca adalah hal yang mudah jika hal itu bermakna bagi kehidupan anak dan prosesnya menyenangkan.
Membaca yang menjadi ikatan organik adalah melalui proses alamiah sejalan dengan perjalanan kehidupan sang anak. Namun sayang, banyak orangtua dan guru yang mengajarkan membaca justru dari hal yang asing bagi anak. Mereka lebih suka men-drill anak dengan huruf-huruf yang membosankan daripada menciptakan suasana yang kaya dan merangsang kreativitas anak.




