ESQNews.id, JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menggelar halal bi halal bersama Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ Group) untuk ratusan Dharma Wanita.
Halal Bi Halal dengan tajuk “Silaturahmi Eratkan Persaudaraan dan Kebersamaan DWP DJP” diadakan dalam Gedung Mar'ie Muhammad Kantor Pusat DJP, Gatot Subroto, Jakarta Selatan dengan dihadiri oleh kurang lebih 250 Dharma Wanita yang terdiri atas pegawai wanita dan istri pegawai Direktorat Jenderal Pajak pada Rabu, 17 Mei 2023.
Menyambut para Dharma Wanita, Wiwiek Suryo sebagai ketua Dharma Wanita Direktorat Jenderal Pajak (DWP DJP) mengucap terima kasih dan rasa syukur.
“Ibu-ibu yang saya sayangi terima kasih atas kehadirannya.
Untuk menjadi istri yang lebih hebat lagi, bagaimana istri harus bersikap menghadapi permasalahan yang ada pada masa ini, kita akan dengarkan langsung dari Bapak Ary Ginanjar Agustian.”
<more>
Pemaparan Ary Ginanjar bertemakan “Pembinaan Mental dan Spiritual, Pengembangan Kepribadian/Kepercayaan Diri bagi DWP DJP Sebagai Pendamping Suami di Direktorat Jenderal Pajak.” Dibawakan selama dua jam mulai dari jam 09.50 hingga 11.50 WIB.
Ary Ginanjar membuka dengan kalimat yang seringkali didengar,
“Dibalik laki-laki yang hebat, ada wanita yang hebat di belakangnya.” Maka, apresiasi penuh diberikan kepada Dharma Wanita yang hadir karena telah menemani para suami dari Direktorat Jenderal Pajak untuk senantiasa melakukan pekerjaan, memenuhi target, kemuliaan pekerjaan suami yang membuat para Dharma Wanita pantas mendapatkan Surga menurut Ary.

Maka dari itu, energi yang tinggi sangat dibutuhkan oleh Dharma Wanita untuk menemani para suami, jangan sampai perasaan malu, dihinakan netizen, khawatir akan membuat penyakit.
Mengutip ucapan Ibnu Sina, kegelisahan adalah separuh dari penyakit itu sendiri, dan ketenangan adalah separuh dari obatnya, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan.
Dengan terjadinya fenomena yang ramai di kalangan netizen, Ary membagikan tips yang pertama yaitu Growth Mindset.
“Rumus kebahagiaan adalah ekspektasi versus apresiasi.
Yang membuat diri kita tidak bahagia karena kita tidak fokus terhadap apa yang kita dapatkan. Kita tidak bahagia karena fokus kepada apa yang tidak kita dapatkan, apa yang hilang dari kita.”
Ketika fenomena netizen yang beramai-ramai mengomentari istri pejabat, menjadikan sebuah pelajaran atas permasalahan yang dapat membuat anda menemukan diri anda yang sesungguhnya.
Seperti moment of truth ketika Ibrahim menyembelih Ismail, ketika Siti Hajar ditinggalkan Ibrahim di gurun.
“Inilah, kisah Ibrahim yang bisa kita ambil hikmahnya. Seperti keadaan saat ini, diterpa sebuah ujian. Bukan untuk menghinakan kita dengan ujian, tapi ketika mendapat ujian disanalah cahaya muncul. Itulah waktu DWP DJP terbaik!”
Ary mengingatkan untuk terus fokus untuk membuat perbaikan diri, tidak fokus terhadap apa yang membuat pikiran menjadi tidak bahagia.
Hal ini berkaitan dengan rumus E (Event) + R ( Response) = O (Outcome). Apapun event/kejadian yang terjadi, dapat kita kendalikan hasilnya melalui respon kita. Apakah kita ingin merespon dengan negatif? Maka outcome-nya juga akan negatif.
Namun ketika kejadian di luar kendali kita terjadi, kendalikanlah respon kita dengan respon yang positif sehingga outcome yang didapatkan adalah positif.
“Tuhan memilih ibu ibu semua yang ada di sini untuk menjaga suaminya, menjaga anak-anak. Maka tips kedua adalah menentukan niat kita. Tentukan dorongan para suami. Apakah pekerjaan suami hanya berdasarkan dorongan strong why yaitu finansial saja? Atau dorongan big why yaitu kesenangan akan jabatan? Atau grand why yaitu untuk kontribusi yang lebih besar lagi?”
Ary mengajak DWP DJP melakukan transformasi besar-besaran.

Setelah melihat bagaimana pedihnya dijatuhkan, dicaci hingga anak-anak kita karena mindset yang salah, pada Rabu, 17 Mei 2023 Dharma Wanita lakukan rekonstruksi ulang, misi diperbaharui.
Tidak lagi mendorong suatu pekerjaan suami sebagai dorongan strong why yang hanya berfokus pada materi saja sehingga kebahagiaan itu didapatkan dari finansial yang berlimpah dan lalai karena hedonisme seperti yang sudah-sudah.
Bukan fokus kepada kesenangan emosional seperti jabatan tinggi, dipuji, dihormati karena dorongan big why yang menghasilkan flexing, kebanggaan diri.
Maka masalah yang kini terjadi, bukanlah sebagai penghinaan diri, namun hanya menghancurkan strong why dan big why.
“Proses kejadian Ibrahim dan Ismail adalah yang kita sedang alami. Karena itu, berbanggalah atas apa yang mereka hina atas harga dirimu yang dihancurkan seperti Siti Hajar yang ditinggalkan di gurun.
Engkau menemukan Tuhan di sana, engkau menemukan jati diri yang baru!
Dan akan lahir lembaga luar biasa, from zero to hero. Akan lahir kembali kejayaan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan!”
Menemukan grand why, bagaimana seharusnya dalam dorongan pekerjaan dilakukan untuk sesuatu yang lebih besar. Bukan sekedar materi dan kebahagiaan emosional, namun sebuah kontribusi kebermanfaatan. Yang mana ketika masalah hadir, tidak akan mematahkan Grand Why.
Ary menutup dengan kalimat,
“When we passed away (Strong and big why), Grand Why tidak akan pernah mati! You can destroy ego, but cant destroy grand why.”




