ESQNews.id, JAKARTA – Marcus Aurelius adalah salah satu manusia paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Dia adalah kepala Kekaisaran Romawi selama dua decade, pada saat itu adalah salah satu peradaban terbesar dan paling berpengaruh di dunia yang pernah ada. Dan meskipun menjadi individu dengan kekuatan tak terbatas – yang bisa melakukan apapun yang dia suka dengan impunitas – kaisar Aurelius dengan giat mempraktikkan dan menjalankan filosofi Stoikisme.
Dalam postingannya laman Xaham.id di instagram, menjelaskan
bahwa Stoikisme adalah aliran filsafat yang berasal dari Yunani Kuno dan Roma
pada awal abad ke-3 SM.
Penting untuk diingat betapa berbedanya pemikiran orang saat
itu. Perhatian utama orang-orang adalah untuk menghindari menjalani kehidupan
yang tidak menguntungkan.
Oleh karena itu, mereka lebih cenderung mengatur pikiran,
keputusan, dan perilaku mereka untuk meningkatkan kepuasan hidup.

Stoikisme atau lebih dikenal filosofi teras adalah filosofi
yang menyarankan untuk tidak perlu khawatir tentang hal hal di luar kendali
Anda.
Mengapa? Sebab dalam falsafah ajaran ini, segala sesuatu dalam hidup dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama yaitu yang ada dalam kendali kita dan terserah pada diri kita. Kedua adalah untuk hal hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Penjelasan sederhananya adalah kita hanya bisa mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita yakni pikiran dan tindakan kita sendiri. Apapun di luar dua hal ini adalah hal eksternal di luar kendali kita.





