Senin, H / 02 Februari 2026

Sharing Story Habiburahman el Shirazy bersama ESQ Magz

Kamis 31 Jan 2019 10:38 WIB

Reporter :Singgih Wiryono

Habiburahman El Shirazy

Foto: ESQ Media

“Awan putih yang bergerombol itu seumpama kumpulan jutaan malaikat yang sedang berzikir dalam diam. Gadis berjilbab merah marun itu menyeka air matanya sambil memandang ke luar jendela pesawat yang dinaikinya. Ada kerinduan yang menggelegak dan membara dalam dadanya. Kerinduan kepada Baginda Nabi, menyatu dengan kerinduan kepada abah dan umminya, serta teman-temannya, anak-anak yatim di Darus Sakinah sana.


Diam-diam ia merasa iri dengan abahnya. Bagaimana abahnya bisa memiliki rasa rindu sedemikian dalam kepada Baginda Nabi Saw.. Ia berharap suatu saat juga memiliki rasa rindu seperti itu. Rasa rindu nan dahsyat yang hanya dikaruniakan oleh Allah kepada hamba-hamba terpilih.”


“Judulnya Merindu Baginda Nabi. Novel ini memang saya tulis untuk anak-anak muda dan remaja, tujuan utamanya untuk mengajak anak-anak muda dan remaja memiliki rasa cinta kepada Rasulullah SAW,” ujar penulis novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta, Habiburahman el Shirazy. Ditemui di sela-sela mengisi ceramah Damai Indonesiaku, pria yang akrab disapa kang Abik bercerita tentang novel yang sengaja dia tunjukan untuk generasi muda.


Tidak hanya tentang Novel yang baru saja dia rilis, Kang Abik juga bercerita bagaimana keseruan dirinya di masa muda. Tak lengkap rasanya pemuda tanpa tantangan dan kenakalan, walaupun saat ini dikenal sebagai seorang ustadz dan seorang sastrawan islami, Kang Abik juga pernah melakukan kenakalan yang lumrah di masa mudanya.


Bagi pria kelahiran Semarang, 41 tahun silam ini, kenakalan remaja bukan semata-mata lahir dari anak tersebut. Bentuk kenakalan adalah bentuk mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan dan orang dewasa, itulah yang dirasakan dia di saat muda. Sebab itulah, sudah semestinya orang tua dan lingkungan sekolah yang harus memaklumi dan memberikan pengakuan atas remaja dan anak muda.


Bagaimana keseruan bincang tim ESQ Magz bersama Habiburahman El Shirazy tentang pemuda dan peran pemuda untuk Indonesia, berikut adalah kutipannya.


Novel ‘Merindu Baginda Nabi’ ini mengajak pemuda untuk mencintai Baginda nabi Muhammad SAW. Bentuk cinta yang seperti apa?

Bentuk rasa cinta itu adalah diantaranya, agar anak-anak muda dan remaja ini bisa menjaga diri dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, dan juga bisa meraih prestasi. Itu inti pesan daripada novel merindu baginda nabi.


Saya ingin menyampaikan kepada anak muda dan remaja bahwa prestasi dan keberhasilan itu bisa milik siapa saja. Selama dia bersungguh-sungguh, selama dia dekat dengan Allah SWT.


Setting novel ini ada di Indonesia, di daerah Malang. Ini menceritakan santri perempuan remaja yang ikut di panti asuhan, dia yatim piatu. Dia tidak tahu siapa ayah dan ibunya, karena riwayatnya dia dibuang ke tempat sampah, kemudian dipungut seorang nenek, dan kemudian diasuh oleh seorang yang sangat ikhlas, dan kemudian menjadi soerang pemuda yang berprestasi.


Apakah Novel ini bentuk keresahan Kang Abik melihat kenakalan remaja saat ini?

Salah satunya itu, cerita ini bisa memberikan jalan agar memanfaatkan waktu mudanya dengan baik. Jadi selain mereka perlu diberi tahu tentang cara memanfaatkan waktu luang mereka, mereka memang harus didampingi.


Diantara yang membuat anak remaja ini sukses, karena dia diasuh oleh seorang yang ikhlas dan penuh kasih sayang. Itu penting bagi kita. Kalau kenakalan remaja yang mungkin terkesan nakal, itu mungkin memang mereka memerlukan kasih sayang. Kitalah yang harus menyayangi dan mengasihi mereka.


Menurut Pandangan Kang Abik, apa penyebab utama kenakalan remaja saat ini?

Saya kira ada bermacam-macam ya, bisa faktornya kadang dari keluarga. Banyak berangkat dari keluarga yang broken home, dia tidak mendapatkan apa yang harusnya didapatkan di rumah, dia kemudian keluar dari keluarga, dan akhirnya menjadi nakal. Itu adalah pelampiasan, seperti itu.


Ada juga karena salah pergaulan. Seperti itu, ada anak yang baik, tetapi teman-temannya yang tidak baik, itu bisa menggeser kepribadian. Itulah perlunya memilih teman yang baik.


Berikutnya tidak bisa kita pungkiri adalah efek yang terjadi dari globalisasi. Era media sosial dan internet bisa membuka konten negatif apa saja, itu membuat anak-anak mengikuti apa yang mereka lihat dari layar ponsel mereka.


Apa di masa muda, Kang Abik tidak nakal?

Hahaha... Alhamdulillah saya sangat beruntung dan bersyukur bisa berada di keluarga yang bisa dikatakan sebuah keluarga santri. Ayah saya lulusan pesantren, ibu juga lulusan pesantren. Tetapi memang sejak saya kecil, beliau-beliau sangat perhatian sekali.


Sedari kecil saya dilarang banyak sekali, ini nggak boleh, ini nggak boleh, ini nggak boleh. Setelah dewasa baru saya tahu, ini alasan karena memang benar dilarang. Misalnya kalau malam minggu ada teman-teman yang bergadang sampai tengah malam. Kita waktu kecil kan pengen ikut, kalau nggak kumpul sama teman-teman itu gimana lah rasanya. Nanti kita dikecengin, tapi bapak saya tegas, "Nggak boleh!" gitu, nggak boleh ke tengah kota sampai malam sampai subuh.


Akhirnya saya tahu sekarang, apa yang dikatakan orang tua saya waktu itu benar. Karena memang tidak ada manfaatnya sama sekali, bahaya juga. Ada banyak hal yang saya merasa orang tua sangat tegas saat itu dan hikmahnya saya dapat ketika saya dewasa. Memang orangtua perlu tegas juga.


Saya merasakan sekarang, tegas itu adalah bentuk lain dari rasa kasih sayang. Jadi ketika saya menghabiskan masa kecil di rumah dengan orangtua berlatar belakang pesantren, dan memberikan banyak perhatian.


Peran keluarga sangat aktif dalam menjaga prilaku masa kecil kang Abik, lalu bagaimana dengan sosok Ibu?

Ibu saya sangat perhatian. Perhatian sekali terhadap anak-anaknya, setiap malam saya ditanya sebelum tidur, tadi siang ngapain aja. Jadi saya sering menceritakan apa yang saya lakukan siang tadi, dan itu melatih kejujuran saya.


Akhirnya suatu hari saya pernah sempat nyolong mangga sama teman-teman. Saya tidak bisa bohong ketika ibu bertanya sebelum tidur. Ibu bukannya marah, tapi ibu menasehati saya hal itu nggak boleh, itu hal yang tidak baik.


Nanti ibu saya yang mendatangi yang punya mangga untuk minta dihalalkan. Itu penting, orangtua mengajak bicara sangat penting.


Kehidupan Kang Abik di Pesantren seperti apa?

Saya masuk pesantren, bisa dikatakan pas remaja dan tumbuh menjadi pemuda, bisa dikatakan saya juga mengalami apa yang dirasakan remaja sekarang. Sesuatu yang menantang dan lainnya, alhamdulillah sekolah saya punya kesiapan dan fasilitas untuk menampung semangat adrenalin pemuda itu.


Saya, ini yang paling penting, saya punya teman-teman dengan keinginan yang sama, yakni menyukai tantangan. Beruntungnya teman-teman saya juga baik, akhirnya kita salurkan semua semangat masa muda kepada hal yang baik.


Misalnya saya pernah naik gunung. Saya pernah jalan kaki dari Solo ke Prambanan. Iya pernah jalan kaki! Malam tahun baru, dari Ba'da Maghrib jalan kaki, subuh baru sampai Prambanan. Sampai sana semua sakit kaki, tapi kita puas dan merasa berani karena bisa melakukan apa kami ucapkan.


Saya juga pernah bermain drama, begitulah cara kita mengeluarkan ide yang kita keluarkan. Keluarkan dengan kerjasama dan kegiatan yang baik.


Sekian banyak nasehat dan larangan dari orang tua, yang masih jadi tuntunan Kang Abik sedari kecil hingga terkenal seperti sekarang?

Ada, saya selalu teringat pesan orang tua dalam bahasa Jawa "Mikul nduwur mendem jero" memikul ke atas memendam ke dalam. Itu adalah filosifi yang sangat tinggi sekali nilainya.


Artinya sebagai seorang anak harus meninggikan nama orang tua dan anak harus bisa menutup aib orangtua. Seperti seorang murid, kita harus meninggikan nama guru kita, dan aib ditutup sedalam-dalamnya.


Sebagai orang Indonesia, kita harus meninggikan Indonesia, jadi ini yang masih membekas dalam diri saya. Inilah yang selalu saya bawa dan sebisa mungkin saya bisa mikul nduwur mendem jero. Itu tidak akan bisa dilakukan jika kita tidak bersungguh-sungguh dalam beramal soleh.


Kisah dibalik Mikul Nduwur Mendem Jero?

Ayah saya memberikan keteladanan nyata, ketika kakek saya meminta apa saja kepada ayah saya, sebisa mungkin Ayah saya memberikannya. Ketika kakek saya sakit, tanpa diminta pun ayah saya membawanya ke dokter. Kadang minta sesuatu, ayah saya langsung mengusahakannya.


Suatu ketika ayah saya mungkin mempunyai kesibukan, tapi ayah saya akan selalu memberikan prioritas pada kakek saya. Itulah yang dinamakan meninggikan orang tua dan menutup aibnya yang disebut mikul nduwur mendem jero.


*Pernah dimuat di ESQ Magz Edisi ke 5.

Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA