Selasa, H / 03 Februari 2026

Ramadhan: Membangun Kepedulian, Merekatkan Kerukunan

Kamis 06 Apr 2023 06:34 WIB

Reporter :EDQP

Ilustrasi

Foto: nutcache.com

Oleh: M. Nurroziqi (Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya)


ESQNews.id, SURABAYA - Bulan Ramadhan, kita mengenalnya sebagai bulan ampunan. Sehingga, setiap menjelang datang bulan Ramadhan hati selalu tergerak untuk saling meminta maaf dan memaafkan. Meski hanya sebatas pesan berantai, atau story di wa/fb, hingga secara khusus bertemu dan saling berjabat tangan lantas saling memaafkan. Tentu, ucapan permohonan maaf adalah menunjukkan betapa masing-masing sadar diri akan kealpaan dan kesalahan yang pastinya dimiliki.


Menyambut bulan Ramadhan dengan didahului saling memohonkan maaf atas segala khilaf dan salah yang mungkin dilakukan, kini sudah menjadi tradisi. Ini adalah sebentuk langkah awal untuk benar-benar mendapatkan ampunan dari Allah Swt di bulan Ramadhan. Sebab, Allah Swt hanya akan memaafkan orang-orang yang berani meminta maaf dan sanggup untuk memberikan maaf.


Hal ini adalah sebagaimana yang dijelaskan di dalam Al-Qur'an surat Ali Imran ayat 133 dan 134. Bahwa kita diperintah untuk bersegera menuju ampunan Allah Swt, yakni salah satunya dengan jalan memaafkan kesalahan orang lain.


"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa," "(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. Ali Imran: 133-134).


Juga dijelaskan Rasulullah Saw dalam sabda Beliau Saw, bahwa dengan memaafkanlah kita akan mendapatkan maaf dari Allah Swt.


"Maafkanlah, niscaya kamu akan dimaafkan (oleh Allah)." (HR. At-Thabrani).


Dan dalam hadits lain, "Orang yang paling penyantun di antara kalian adalah orang yang bersedia memberi maaf walaupun ia sanggup untuk membalasnya." (HR. Al-Anshori)


Dengan gerakan saling meminta maaf dan memaafkan ini, akan semakin merekatkan hubungan antar sesama manusia. Tidak lagi ada permusuhan, tidak lagi dendam satu sama lain. Semua menata hati untuk kembali merajut perdamaian dan berusaha untuk rukun kembali. Ini yang pertama. Bahwa energi positif bulan Ramadhan benar-benar sanggup menggerakkan hati untuk suci kembali.


<more>


Yang kedua, bulan Ramadhan dengan kewajiban puasanya sanggup membangkitkan kembali rasa toleran dan kepedulian di dalam diri manusia beriman. Jika semula diri gampang acuh tak acuh atas kondisi sesamanya, jika semula tega sekali untuk tidak mengulurkan tangan menolong sesamanya, maka di bulan Ramadhan, masing-masing diri dikuatkan untuk menjadi ringan tangan dan gemar memberikan pertolongan.


Hal ini terlihat sekali dengan segenap aktivitas dan budaya yang adanya hanya di bulan Ramadhan. Di antaranya; aksi turun ke jalan untuk berbagi takjil dan makanan. Uniknya, hal ini tidak hanya dilakukan oleh para pelaku puasa, akan tetapi yang tidak berpuasa pun ikut gegap gempita berbagi kepedulian ini. Bahkan, tidak jarang yang non Muslim juga ikut ambil bagian di dalam melayani umat Islam sebagai bentuk rasa persaudaraan sesama manusia. Inilah wujud kepedulian dalam kerukunan yang Indah. Inilah keunikan budaya khas bangsa Indonesia yang terangkum dalam kaidah Bhineka Tunggal Ika.


Agenda-agenda yang menunjukkan kerukunan pun semakin nyata di bulan Ramadhan. Agenda berbuka puasa bersama, misalnya. Ini pun sudah menjadi tradisi. Seakan mendarah daging. Tidak afdhol rasanya jika bulan puasa berlalu tanpa agenda berbuka puasa bersama.


Kelompok-kelompok kecil yang rutin menjalankan agenda berbuka puasa bersama ini pun bisa dikatakan sebagai bibit kerukunan di antara sesama. Dari skala-skala kecil seperti inilah, kedamaian dan kerukunan dalam skala yang jauh lebih besar lagi akan sanggup terbina dan terjaga.


Juga sebagai wujud kepedulian itu adalah ketika di masjid-masjid dan musholla sedang ada tadarus Al-Qur’an, maka masyarakat di sekitar pun berbondong-bondong untuk memberikan sajian. Entah sekadar minuman ringan, kopi/teh, atau berupa kue dan jajanan. Kepedulian semacam ini sama sekali tanpa komando, tidak diperintah, dan sama sekali tanpa ada kesepakatan di antara mereka. Akan tetapi, benar-benar murni dari hati.


Masing-masing dengan sendirinya tergerak untuk melayani mereka yang aktif beribadah dengan memperbanyak bacaan-bacaan Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Dan ini pun merupakan wujud saling pengertian di antara umat Islam yang harus terus dilestarikan. Aktivitas-aktivitas ringan seperti ini merupakan bagian dari upaya memupuk kebersamaan dan menjaga kerukunan di antara sesama manusia.


Dengan demikian, hidup akan semakin penuh kedamaian. Bukankah dalam kerukunan semua akan menjadi indah dan akan ternikmati dengan sangat bahagia?


Kemudian, yang ketiga, puncak kepedulian adalah kewajiban membayar zakat fitrah di bulan Ramadhan. Ini tidak semata-mata kewajiban yang musti dilakukan. Melainkan rukun Islam yang menjadi pokok ajaran Islam. Tentunya, mendidik umat Islam supaya memiliki jiwa sosial yang tinggi. Juga mengajarkan pada setiap umat beriman agar memiliki kepedulian sosial yang hebat.


Nilai zakat fitrah yang bagi sebagian orang tidak seberapa itu, namun bagi orang yang sangat membutuhkan akan sangat berharga sekali. Bahkan, bisa menjadi sarana penyambung hidup seseorang.


Membayar zakat adalah juga bagian dari identitas umat Islam. Sebab Islam adalah agama yang rahmatan lil 'alamin (rahmat bagi seluruh alam), maka sudah seharusnya umat Islam memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama hidup, ringan tangannya untuk saling membantu, ikhlas hatinya untuk senantiasa menolong sesamanya.


Puncaknya, sanggup menjaga kerukunan antar umat manusia dan menjaga kedamaian seluruh alam raya.


Demikianlah, bahwa bulan Ramadhan dengan kewajiban puasanya adalah sebentuk sarana untuk membangkitkan gairah kepedulian sosial di dalam diri umat Islam. Dari saling peduli inilah, kemudian akan mewujud kehidupan yang rukun dan damai. Dan inilah misi Islam yang rahmatan lil 'alamin itu.


Semoga, segenap ibadah yang teramat mulia di bulan Ramadhan ini, tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan semata. Melainkan, benar-benar menjadi sarana menempa diri untuk menjadi manusia paripurna, sebagaimana tujuan berpuasa itu sendiri, yakni “la’alllakum tattaquun”, menjadikan kita manusia bertaqwa.


Manusia yang sanggup menerapkan misi ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Semoga. Aamiin.


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA