ESQNews.id, JAKARTA - Rasulullah SAW bersabda: “Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin? Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan menyokong kedzaliman mereka, maka dia bukan golonganku, aku juga bukan golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.” (HR Tirmidzi, Nasai dan Al Hakim).
Penjelasan:
1) Dalam ajaran Islam, kepemimpinan sangat penting guna mengatur kehidupan bermasyarakat yang bermartabat.
Pemimpin dzalim, mengistimewakan pihak tertentu dan berlaku dzalim dengan kelompok lainnya, percaya kepada pendusta dan mendustakan orang yang jujur, orang yang amanah dikhianati.
Pemimpin dzalim menyuarakan kemungkaran dan tidak berlaku adil:
"Tidaklah seorang pemimpin kaum baik sedikit atau banyak, kemudian ia tidak adil kecuali Allah akan melemparkan wajahnya ke neraka" (HR Imam Ahmad);
"Pemimpin mana saja yang dipercaya memimpin rakyat, lalu ia menipu mereka (rakyat), maka ia akan masuk neraka" (HR Imam Ahmad);
<more>
2) Pemimpin yang dzalim sangat berbahaya bagi kehidupan bermasyarakat, sebagaimana kisah Firaun, yang merupakan seorang raja sekaligus pemimpin yang dzalim.
Dengan kekuatan dan kekuasaannya, Firaun bebas bertindak semaunya sekalipun tindakannya tidak sesuai dengan nilai dan keadilan.
Firaun akan menghukum rakyat yang tidak mau mengikuti kehendaknya. Allah SWT memberikan azab sekaligus menjadi i’tibar bagi kehidupan umat manusia setelahnya.
“Maka Kami siksa dia (Fir‘aun) dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim. Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami susulkan laknat kepada mereka di dunia ini; sedangkan pada hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).” (TQS: Al Qoshos ayat 40).
3) Islam sudah memberikan formula bagaimana menjadi pemimpin yang baik, serta memberikan banyak contoh keteladanan mulai dari Muhammad SAW, para sahabat, tabi’in dan para ulama ulama Islam lainnya:
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS: Al Maidah ayat 8).
Semoga kita diberi kekuatan dan keistiqomahan dalam menerapkan keadilan sesuai ajaran Islam.





