ESQNews.id, JAKARTA - Tepat pada hari Kamis, 26 Oktober 2023, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melakukan kegiatan Launching Budaya Kerja ASN BerAKHLAK dan Employer Branding Bangga Melayani Bangsa di Lingkungannya bersama dengan ACT Consulting International.
Melihat dari hasil cek kesehatan budaya kerja yang telah dilakukan survey di KPPPA, 400 peserta hadir baik online dan offline bertempat di Gedung KPPPA, Gambir, Jakarta Pusat untuk mendukung implementasi budaya kerja BerAKHLAK di lingkungan KPPPA.
KPPPA berharap dengan terlaksananya kegiatan BerAKHLAK dapat meningkatkan kesehatan dalam budaya kerja di lingkungan KPPPA, sehingga seluruh pegawai dapat berkolaborasi bersama untuk mengimplementasikan core values BerAKHLAK sebagai budaya kerja baru, bersama-sama menjadi agent of change.

Pada kesempatan pagi hari tersebut, Ary Ginanjar Agustian (founder ACT Consulting International) memberikan paparan mengenai penguatan budaya kerja BerAKHLAK.
Ary menyebutkan bahwa di tanggal 3 Oktober 2023, BerAKHLAK resmi menjadi RUU ASN di seluruh kementerian. Sehingga, KPPPA juga turut serta mengambil porsi untuk menjadikan BerAKHLAK sebagai core values dalam kementerian.
“Yang perlu kita ketahui adalah tantangan di luar sana yang dihadapi yakni isu-isu, kemudian kita ketahui apa yang menjadi solusi mendasar yang dapat diselesaikan dengan berbagai inovasi terbaru, kemudian juga budaya kerja yang perlu dijaga.” founder ACT Consulting International tersebut menghitung ada tiga yang perlu digaris bawahi pada kegiatan ini.
Ary Ginanjar mengatakan bahwa KPPPA merupakan kementerian yang tidak besar terhitung dari jumlah SDM yang di dalamnya, namun isu yang harus dihadapi sangatlah banyak. Sehingga apresiasi besar Ary berikan kepada KPPPA yang disebutkan memiliki sifat agility.
<more>
“Banyak sekali permasalahan ini refleksi dari hari anak Indonesia yang mana banyaknya masalah mental yang datang dari keluarga. Ini menjadi isu yang perlu diperhatikan.
KPPPA ini SDMnya sedikit, namun isu sangat banyak. Maka, kementerian ini memiliki mental agility, change agility, learning agility, people agility, dan result agility yang diharapkan Pak Presiden.” apresiasinya.
Lima komponen agility ditemukan dalam Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. yang dimana KPPPA sudah siap dengan banyaknya perubahan untuk dapat fleksibilitas melalui sifat agility.
Melintas dari isu yang terjadi, diperlukan solusi-solusi inovatif yang relevan dengan permasalahan.
Banyaknya kekerasan anak, terjadi karena orang tua tidak mengetahui apa DNA anaknya, talenta yang dibawa sejak lahir. Dengan contoh ada orang tua seorang tentara, memaksa anaknya harus juga disiplin secara tegas seperti dirinya, tentu tidak semua anak akan sama dengan orang tuanya. Sehingga perbedaan yang terjadi sering kali menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak.

Inilah hal yang perlu diperhatikan oleh KPPPA, akar dari permasalahan isu-isu yang terjadi berasal dari perbedaan yang tidak dimengerti sehingga banyak yang penolakan toleransi.
“Untuk penurunan kekerasan pada anak, caranya adalah setiap orang tua harus tau DNA talenta anak-anaknya. Silakan KPPPA coba 1000 rumah, lihat apa yang terjadi ketika orang tua mengerti DNA talenta anaknya, apakah kekerasan akan tetap terjadi? Atau berkurang.” Saran Ary Ginanjar.
Dilanjutkan pada isu berikutnya, bahwa KPPPA menginginkan pemberdayaan perempuan, salah satunya dengan istri yang bisa berdaya, memiliki pendapatan sendiri, yang bisa diperoleh melalui bisnis. Namun yang menjadi pertanyaan, bisnis apa yang harus dilakukan?
Melalui TalentDNA, sebuah life tools untuk mengetahui karakteristik orang melalui pola yang terjadi dalam hidupnya untuk menentukan sebuah pilihan berulang, yang menjadi sinar talenta bawaan dirinya.
“Jika semua istri sudah tau apa TalentDNA-nya, maka mudah pula untuk menentukan bisnis apa yang harus digeluti, di bidang apa.
Sehingga, ini akan kita turunkan angka perceraian, kita majukan pemberdayaan perempuan, turunkan kekerasan pada anak, ibu-ibu akan punya pekerjaan sesuai dengan talentanya.”

Hal tersebut disambut baik oleh Bintang Puspayoga, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
“Harapannya isu-isu ini dapat kita selesaikan yang menjadi PR besar bagi kami. Maka, masukkan dari Pak Ary kami sudah bukakan pintu yang lebar, menyambut langkah-langkah konkrit salah satunya memberikan TalentDNA untuk Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak sebagai pilot project.” Sambut Bintang Puspayoga.
Menteri PPPA tersebut juga mengatakan bahwa, “Keberadaan Pak Ary menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kinerja yang bergerak dari hati, melayani masyarakat dengan core values BerAKHLAK, untuk menyelesaikan isu-isu yang ada. Kita juga tadi sudah dijelaskan tentang metode coaching agar lebih solid, lebih bis keluarkan potensinya di KPPPA ini dan lingkungan pribadi.”

Dikatakan juga oleh Sekretaris Menteri KPPPA, Pribudiarta Nur Sitepu, “Hari ini kita sudah melakukan perbaikan dengan asesmen dan kemudian mencanangkan program perubahan yang mudah-mudahan nanti kita diukur ulang secara berkala, KPPPA dapat meningkat kondisi indeks BerAKHLAK atas terjadinya perbaikan.
Dan juga paparan Pak Ary Ginanjar menjadikan kami dapat melihat bahwa TalentDNA dapat berguna untuk program-program di KPPPA,
Sehingga akan terwujud kelak kerjasama mendukung penyelesaian isu-isu di kemudian hari bersama dengan kementerian lain yang akan terkait bersama-sama menggunakan instrumen ini.”






