Mencermati fenomena di atas, kita melihat bahwa sesungguhnya
mempelajari alam, merupakan hal yang penting sekaligus menyenangkan. Namun,
tidak banyak orangtua dan sekolah yang mengajak anaknya bercocok tanam dan
melihat keajaiban tanaman tumbuh.
Seorang anak bernama Feikar, begitu senang ketika melihat tanaman cabe yang disiramnya tiap hari, berbuah banyak. Apalagi ketika harga cabe melangit dan ibunya begitu berterima kasih karena tujuh pohon cabe yang ditanam anaknya itu berbuah lebat.

Lain waktu, Feikar juga begitu takjub melihat hanya dalam beberapa
hari batang singkong yang ditanamnya memunculkan tunas. Dan, suatu saat ia mencabut
pohon singkongnya, ia pun senang karena menemukan umbinya yang besar.
Begitu banyak orangtua yang kebingungan melepaskan kecanduan
anaknya dari play station dan games. Anak akan sulit berhenti dari kesenangannya
tersebut jika orangtuanya tidak memberikan alternatif kegiatan yang menarik
lainnya.
Berkebun, meski hanya di pot-pot sekalipun, bisa menjadi salah satu kegiatan harian anak. Anak dapat membangun kecerdasan alam (Natural Intelligence) yang dapat mendekatkan anak pada Sang Pencipta, Allah Ta’ala.
Dikutip dari Buku Mendidik Karakter dengan Karakter karya Ida S. Widayanti.



