Minggu, H / 01 Maret 2026

Kurangnya Ruang Fisik Literasi, Mengapa Tak Ada Toko Buku di Majalengka?

Sabtu 31 Jan 2026 16:24 WIB

Editor :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: Infomjlk

ESQNews.id, MAJALENGKA — Di tengah deru pembangunan dan menjamurnya kopi shop, Majalengka menyimpan satu anomali, yaitu absennya toko buku! 


Dalam hal ini, perlu digaris bawahi toko buku yang kita maksud bukan toko alat tulis secara umum. 


Jika kalian mencari karya sastra atau filsafat di Majalengka, pilihannya hanya dua, buka aplikasi belanja online atau berkendara satu jam ke Cirebon.


Bagi warga Majalengka, memesan buku via marketplace jauh lebih efisien daripada mencari toko fisik yang belum tentu ada, baik stok maupun tokonya. 


Efeknya, potensi pasar lokal habis diserap toko buku online di Jakarta atau Bandung sebelum sempat tumbuh di daerah sendiri.


Secara geografis, Majalengka terjepit. Warga sudah terbiasa memuaskan dahaga literasi di Cirebon atau Bandung. 


Ketergantungan menahun ini membuat investor merasa tidak perlu membuka gerai di Majalengka karena “pasarnya sudah lari ke tetangga.”


Selain itu, di struktur ekonomi yang didominasi buruh pabrik dan petani, buku seringkali berada di urutan terbawah daftar belanja setelah kebutuhan pokok dan cicilan. 


Membuka toko buku di Majalengka akhirnya dianggap bisnis “berisiko tinggi dengan untung tipis” bagi pengusaha lokal.


Sebenarnya, Majalengka punya banyak pembaca, namun kebanyakan dari mereka bergerak secara “gerilya” di komunitas kecil atau lapak bacaan gratis. 


Literasi tumbuh sebagai gerakan sosial, bukan ekosistem komersial yang mapan.


Toko-toko di sekitar kampus dan sekolah juga lebih memilih menjual alat tulis. Buku sastra dan pemikiran dianggap tidak punya nilai jual karena jarang masuk dalam kurikulum wajib yang menggerakkan daya beli.


Majalengka bukan kekurangan pembaca, melainkan kekurangan ruang fisik yang mampu meyakinkan bahwa membeli buku adalah investasi gaya hidup, bukan sekadar tren. [infomjlk]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA