Senin, H / 02 Februari 2026

HAKORDIA 2025! Ary Ginanjar: Tugas Kementan, Bukan Hanya Menumbuhkembangkan Tanaman Tapi Juga Wujudkan Swasembada SDM

Selasa 09 Dec 2025 13:03 WIB

Reporter :EDQP

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA - Dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar kegiatan akbar “Penguatan Budaya Integritas Bagi Pejabat dan CPNS Lingkup Kementerian Pertanian" pada tanggal 8 Desember 2025.


Bertempat di Gedung Kementan, Jakarta, acara ini dihadiri oleh sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari Pejabat Eselon I, II, III, dan IV, serta seluruh Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementan, baik secara offline maupun online. 


Acara ini menegaskan komitmen Kementan untuk mewujudkan visi “Pertanian Maju Berkelanjutan serta Bermanfaat bagi Rakyat Indonesia dalam Rangka Mewujudkan Visi Presiden dan Wakil Presiden: Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045” dengan fondasi integritas yang kokoh.


Karena Kementerian Pertanian mendapatkan amanah besar bukan hanya untuk menjaga pangan tetapi untuk menjaga kepercayaan dan integritas. Pertemuan ini adalah ruang untuk menguatkan kembali fondasi mental, mengasah kompas integritas dan menyatukan langkah menuju Kementerian Pertanian yang semakin bersih kuat dan berdaya saing.


Adapun para pejabat Kementan yang turut hadir di antaranya Dr. Ir. Suwandi, M.Si. (Sekretaris Jenderal), Dr. Ir. Hermanto, M.P. (Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian), Andi Nur Alam Syah, S.TP., M.P. (Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian),, Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si. (Dirjen Hortikultura), Dr. drh. Agung Suganda, M.Si. (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan), Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. (Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian), Brigjen Pol. Kurniawan Affandi S.I.K., M.M (Inspektur Investigasi Inspektorat Jenderal), Dr. Abdul Roni Angkat, S.TP., M.Si. (Plt. Dirjen Perkebunan), 


Spesialnya, Kementan mengundang 3 narasumber utama yakni Komjen Pol. Drs. Setyo Budianto, SH., MH. (Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi/KPK), Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian (Founder ESQ) dan Dr. Asep Iwan Iriawan, S.H., M.H (Dosen FH Universitas Trisakti).


Dalam sesi pencerahan yang khas dan mendalam, Ary Ginanjar Agustian menyampaikan dua pilar utama yang harus dimiliki ASN Kementerian Pertanian untuk mewujudkan swasembada pangan yang berintegritas dan mencapai target Kementan Emas 2040 yakni Fondasi Integritas (Berpusat pada Grand Why (Niat Agung)) serta Transformasi Manajemen Talenta Berbasis AI (TalentDNA).


Ary Ginanjar menekankan bahwa perjuangan melawan korupsi harus dimulai dari individu itu sendiri. Ia mengutip Kofi Annan (Former Secretary-General of United Nations): "The fight against corruption begins with the integrity of the individual," seraya menambahkan bahwa tidak ada institusi yang lebih hebat daripada karakter orang yang menjalankan tugas di dalamnya.


Untuk itu, Ary Ginanjar mengajak seluruh peserta untuk mengidentifikasi sumber korupsi yang paling berat, yang berpusat pada orientasi eksternal. Sumber-sumber ini mencakup money, possession, work, pleasure, friend, enemy, relegion, self, spouse, family, serta faktor-faktor luar lainnya yang menggeser fokus utama seorang abdi negara.


Ia mengajarkan bahwa pusat orbit yang benar haruslah Spiritualitas yang melahirkan Grand Why atau Niat Agung (Pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa).


“Prinsipnya bukan uang, bukan posisi, bukan jabatan, tapi Grand Why.”


Seorang ASN harus mampu memahami arti kata mengabdi dan menjaga integritas, yang didefinisikan sebagai keselarasan antara perkataan, pikiran, dan tindakan.


Dalam menghadapi potensi praktik koruptif, Ary Ginanjar menyoroti bahaya bersikap Pasif (membiarkan penyimpangan) dan mengajarkan pentingnya menolak dengan sikap Asertif. Asertif berarti menolak dengan tegas ("Saya tidak bisa terima ini, minta maaf.") namun tetap menjaga hubungan baik, agar organisasi tidak rusak.


Untuk mencapai target-target besar seperti Swasembada Pangan dan Kementan Emas 2040, diperlukan kombinasi tiga elemen inti yakni 1) Heart (Jujur dalam hati) Integritas dan Spiritual, 2) Head (Teguh dalam prinsip) Kompetensi dan Intelektual, 3) Guts (Berani dalam tindakan).


Kemudian, Pilar kedua yang disoroti adalah pentingnya Manajemen Talenta yang presisi untuk memastikan setiap ASN bekerja sesuai dengan potensi terbaiknya, sekaligus sebagai langkah pencegahan korupsi yang efektif.


Ary Ginanjar memaparkan persoalan klasik yang sering terjadi bahwa adanya Fakta menunjukkan 74% organisasi merekrut orang yang salah, yang mengakibatkan kerugian besar (rata-rata hingga Rp380 juta per orang).


Sebaliknya, ia mengutip riset dari Nebraska University bahwa “Jika talenta seseorang dikembangkan sesuai bakatnya, prestasinya bisa meningkat hingga 788%.”


Untuk mengatasi masalah penempatan yang salah, Ary Ginanjar memperkenalkan TalentDNA yang telah digagasnya 24 tahun yang lalu, sebuah metode yang kini ditransformasi secara digital berbasis AI.


TalentDNA adalah metode untuk mengidentifikasi kecenderungan pola perilaku alami, natural, dan spontan setiap individu, yang mengungkap algoritma perilaku unik setiap orang.


Menggunakan analogi yang sangat relevan dengan Kementerian Pertanian, Ary Ginanjar menjelaskan filosofi penempatan yang tepat:


“Tidak mungkin kaktus ditanam di tempat yang dingin. Begitu juga manusia, kita semua istimewa. Jika kita meminta seekor ikan naik ke atas pohon, kita akan menganggap ikan itu bodoh seumur hidupnya.”


Tugas Kementan, menurutnya, bukan hanya menumbuhkembangkan tanaman, tetapi juga mewujudkan Swasembada SDM di mana setiap pegawai ‘ditanam’ di tempat yang sesuai bakat alaminya, sehingga mereka dapat hidup bahagia, percaya diri, dan berprestasi optimal.


Testimoni


Nur Wanto C. Negoro (Ketua Panitia HAKORDIA 2025 Kementan sekaligus Auditor Ahli Madya Kementan katakan, “Saya sangat tertarik dengan konsep Manajemen Talenta yang disampaikan Bapak Ary Ginanjar. 


Menurut saya, dengan talent management ini, seseorang itu akan ditempatkan sesuai dengan potensi maksimalnya atau potensi yang optimal, sehingga dia bekerja sesuai dengan passion-nya dan diharapkan akan mendapatkan hasil yang juga optimal.


Selain itu, dengan menggunakan basis Artificial Intelligence (AI) seperti yang disampaikan tadi, keputusan penempatan seseorang melalui manajemen talenta akan menjadi sangat objektif, bukan subjektif.


Sehingga dapat mereduksi atau meminimalisir faktor like and dislike. Harapannya, ini akan sangat membantu mengurangi dan meminimalisir konflik kepentingan.


Kepada Dr. Ary Ginanjar Agustian selaku Founder ESQ, semoga ESQ-nya terus maju, tambah berkembang, dan dapat memberikan manfaat yang besar kepada Kementerian Pertanian khususnya, dan kepada Indonesia umumnya.”


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA