ESQNews.id, JAKARTA – Tutupnya bisnis
supermarket Giant di seluruh tanah air adalah bukti fenomena keruntuhan dari asset-heavy
company.
Asset heavy company adalah perusahaan yang
memiliki asset fisik yang besar dan beban overhead-nya berat dan begitu
menghimpit. Salah satu jenih korporasi yang sangat terdampak oleh pandemi Covid-19.
Perusahaan jenis ini sulit mengikuti
berbagai perubahan yang terjadi secara tiba-tiba sehingga harus tutup.
Asset heavy company umumnya terintegrasi secara vertical, yang berarti mereka memiliki alat produksi dari ujung ke ujung, dari bahan mentah hingga produk jadi.

Selain supermarket seperti Giant, beberapa jenis heavy-asset company lainnya
biasanya ada pada bidang perhotelan dan maskapai penerbangan.
Melansir dari Xaham.id, salah satu penghambat asset heavy company adalah korporasi jenis ini umumnya tidak fleksibel sehingga tidak cocok untuk industri dengan perubahan yang cepat atau industri yang membutuhkan teknologi terkini agar dapat beroperasi dengan optimal.
Jadi, sikap tanggap dan inovatif pada perubahan merupakan hal yang sangat penting dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Setiap bisnis pada industri manapun juga harus tepat memilih strategi agar dapat menciptakan nilai bagi shareholders atau para pemegang saham.
“Itulah mengapa pertimbangan dan perencanaan matang sangat dibutuhkan ketika memulai sebuah usaha.” Xaham.id




