Senin, H / 02 Februari 2026

Di Webinar Living Integrity Bersama KPK, Ary Ginanjar Berikan Tes TalentDNA Kepada Lebih dari 800 Lembaga: Gratis

Jumat 11 Aug 2023 07:16 WIB

Reporter :Nisa Mufidah

Tangkapan Layar

Foto: dok. ESQ

ESQNews.id, JAKARTA - Dalam rangka memberikan pendidikan kepada para masyarakat mengenai pencegahan korupsi, KPK berkolaborasi dengan ACT Consulting International selenggarakan webinar Living Integrity pada hari Kamis, 10 Agustus 2023.


Webinar ini digelar karena melihat maraknya kasus korupsi dalam berbagai lembaga secara kolektif seperti penyakit menular yang perlu ditindaklanjuti untuk dihentikan.


Pendidikan anti korupsi kepada masyarakat yang berlangsung secara online melalui media zoom ini dihadiri oleh lebih dari 800 lembaga baik pemerintah maupun swasta. Hal tersebut membuktikan bahwa peserta hadir serius untuk bersama-sama membangun Indonesia Bebas Korupsi.




Dengan wajah baru KPK yang dikenal dengan ketegangan bahwa banyaknya penangkapan kasus korupsi, kali ini KPK hadir dengan mengayomi dan memberikan pendidikan kepada masyarakat bersama dengan dua narasumber yang akan memaparkan materi kepada partisipan.


Ary Ginanjar selaku founder ACT Consulting International yang juga sebagai pengajar dalam pendidikan KPK untuk lembaga pemerintahan yaitu Paku Integritas. Hadir Ary Ginanjar dalam webinar Living Integrity sebagai narasumber pertama.


Narasumber kedua yakni Wawan Wardiana sebagai Deputi Pendidikan dan Peran serta Masyarakat KPK yang menjelaskan bagaimana tiga pendekatan yang diberikan KPK dalam mencegah korupsi yang terjadi.


Dalam paparan materinya, Ary Ginanjar menunjukkan bahwa korupsi terjadi karena adanya perkalian antara niat dikali dengan kesempatan.




Yang mana niat ini Ary jelaskan terbagi oleh tiga yakni strong why yang pertama. Strong why adalah orang-orang yang bekerja dengan orientasi mendapatkan materi dan kesejahteraan ekonomi seorang diri, dorongan niatnya hanya untuk materi. 


Sedangkan yang kedua yaitu big why, dimana orang-orang yang berada di dalam sana adalah yang memiliki orientasi pada mencari harga diri, membutuhkan pengakuan, orientasi pada pangkat. Akan mudah dia lakukan berbagai cara untuk mendapatkan kenaikan pangkat, harga diri, pengakuan.


Dan yang terakhir adalah grand why yang miliki tujuan utama untuk pengabdian. Dia akan bekerja berdasarkan dorongan yang luar biasa, sehingga tidak mudah melakukan berbagai cara dihalalkan untuk mendapatkan materi dan harga diri seperti strong dan big why.


“Jika berorientasi pada strong why, maka akan muncul hedonisme. Dia akan mementingkan kesejahteraan ekonominya. Segala cara ditempuh untuk menuju kesejahteraan ekonomi. 


Dan apabila berorientasi pada big why, akan muncul flexing. Dia akan naikkan harga dirinya untuk mendapatkan penghargaan demi pengakuan orang-orang.” Jelas Ary pada dua poin mengenai niat.


Hal tersebut dikaitkan pada konsep penanaman. Seperti iklan-iklan rokok yang mampu mengubah mindset dari merokok menyebabkan sakit paru-paru, namun disajikan bahwa merokok itu adalah jantan.


Pun dengan hedonisme dan flexing yang merupakan konsep penanaman yang salah. Apabila dipilih orang-orang untuk bekerja di bagian pencegahan korupsi dalam lembaga, justru akan menjadi pemainnya.


“Saya melihat bagaimana Jepang dapat menjadi negara disiplin. Karena mereka meningkatkan kualitas manusia mulai dari hakim hingga rakyat biasa untuk menanamkan values kejujuran dan menjadi belief system mereka.” Jelas Ary.


Menambahkan ucapannya, bahwa Ary mengatakan untuk melahirkan manusia-manusia yang memiliki grand why dan menjelaskan kepada stakeholder tujuan dalam bekerja dan tujuan dalam hidup supaya akan menemukan grand why-nya.


Maka, pertanyaannya adalah siapa yang akan menjalankannya? 


“Ada tiga kunci dasar untuk melakukan wilayah bebas korupsi. Yang pertama adalah values integritas yang harus diinternalisasikan dan dieksternalisasikan menjadi perbuatan nyata dan menjadi karakter dalam diri. Hal ini berpengaruh sebesar 25%


Kedua, ada dalam sistem bagaimana dapat membangun sistem pencegahan anti korupsi yang berpengaruh sebesar 35%”


Dengan 40% pengaruh terbesar dari tiga kunci tersebut, Ary Ginanjar menyebutkan bahwa, “Kunci terpentingnya adalah anda disini yang menjadi change leader.”


<more>


Dari 800 lebih lembaga yang hadir menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan Indonesia Bebas Korupsi dengan menjadi change leader di masing-masing lembaga.


Untuk memilih change leader, menjadi Agen Perubahan Anti Korupsi atau gardanya, tentu ada teknik memilihnya. Jangan sampai dia adalah orang yang DNA-nya adalah menyayangi dan memaafkan menjadi bagian yang pengawasan, tentu akan banyak yang lolos para koruptor termaafkan oleh dirinya.


Pun jangan sampai menaruh orang yang sangat serius, struktural, logical untuk menjadi pendidik dalam pendidikan integritas, tentu dia akan dibenci oleh para muridnya dan akhirnya tak ada yang sungguh-sungguh belajar dalam pendidikan integritas untuk pencegahan korupsi.


Tidak ada yang salah dalam DNA seseorang, karena itu adalah talenta yang sudah dia miliki sejak lahir, pemberian oleh Tuhan.


Bagaimana dengan bagian pengawasan yang akan dipegang oleh orang yang struktural dan serius? Tentu semua akan rapih. Tidak ada yang termaafkan sekali berbuat kecurangan. Semua ditindak dengan betul-betul serius. Yang akhirnya pencegahan korupsi tentu berjalan dengan baik.


Begitu pula apabila orang yang penyayang ditaruh sebagai pendidik, maka dia akan dicintai oleh muridnya dan pendidikan integritas akan terus berjalan.


Itulah bagaimana memasang garda anti korupsi dengan formula supaya tidak salah pilih dan salah menempatkan orang pada posisi yang tepat.


“Formula dalam pemilihan agen perubahan ini dengan rumus talent ditambah fit, bagaimana memposisikan orang yang tepat sesuai dengan talentanya, kemudian dikali investasi. Berikan investasi kepada dirinya melalui berbagai pelatihan dan lain sebagainya, maka itu akan growth.


Pencegahan korupsi akan terlaksanakan, Indonesia Emas 2045 bebas korupsi juga akan terwujud.” Ujar Ary Ginanjar.


Bagaimana cara mengetahui talenta yang dimiliki untuk memposisikan agent of change di tempat yang tepat?


Ary Ginanjar beserta tim ESQ telah me-launching-kan tes TalentDNA untuk mengetahui potensi dari masing-masing orang supaya bisa terbaca dan ditempatkan pada tempat yang tepat.


“Dan hari ini, ada 800 lebih lembaga yang menunjukkan betapa seriusnya kita bersama-sama hendak menjadi agen perubahan atas pencegahan korupsi. 


Maka, saya berikan 10 free tes TalentDNA untuk masing-masing lembaga.”


Inilah bagaimana untuk mendapatkan SDM yang terbaik seperti yang Jepang lakukan untuk meningkatkan SDM-nya.


Cari tahu talent DNA-mu melalui link berikut: www.talentdna.me 




Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA