M. Nurroziqi*
"Indahnya hidup semakin ternikmati ketika diri tidak berpengetahuan tentang ketidakbaikan seseorang."
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Nasa'i, Anas bin Malik menceritakan, bahwa ia dan para sahabat yang lain, pada suatu hari duduk dalam satu majlis bersama Rasulullah Saw. Di tengah-tengah memberi pengajaran, Rasulullah Saw bersabda, "Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni surga." Kemudian, tidak berselang lama, muncul seorang lelaki Anshar dengan janggut masih basah oleh air wudhu. Ia berjalan dengan tangan kiri menjinjing sandal.
Keesokan harinya dalam kesempatan yang sama, Rasulullah Saw kembali menyampaikan hal yang sama, "Akan datang seorang lelaki penghuni surga." Dan tidak lama, kemudian lelaki itu muncul kembali. Bahkan, dalam kesempatan yang lain, untuk ketiga kalinya, Rasulullah Saw masih mengabarkan hal yang sama.
Demi menghapus rasa penasaran, sahabat Abdullah bin Amr mencoba membuntuti lelaki Anshar yang disebut-sebut Rasulullah Saw sebagai penghuni surga.
Abdullah bin Amr berhenti sejenak sambil berpikir mencari alasan yang tepat untuk dapat menyelidiki lelaki itu. Setelah menemukan alasan yang tepat, ia menghentikan langkah lelaki itu dan berkata, "Wahai kawan, dapatkah kamu memberi pertolongan? Aku bertengkar dengan ayahku dan berjanji tidak akan menemuinya selama tiga hari. Maukah kamu memberi tumpangan selama tiga hari itu?"
Setelah diperbolehkan, Abdullah bin Amr mengikuti lelaki itu menuju rumahnya dan bermalam di rumah itu selama tiga hari. Tujuannya bermalam tidak lain agar ia dapat melihat apa gerangan ibadah yang dilakukan orang itu hingga Rasulullah Saw menyebutnya sebagai penghuni surga. Tetapi, hingga malam ketiga, Abdullah bin Amr tidak melihat sesuatu yang istimewa dari lelaki itu dalam ibadahnya. Dan hampir saja ia meremehkan amalan ibadah lelaki itu.
Akhirnya, tanpa mendapat jawaban memuaskan akan rasa penasarannya, Abdullah bin Amr berterus terang kepada lelaki itu. "Wahai hamba Allah Swt, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dengan ayahku. Juga tidak sedang bermusuhan. Aku hanya ingin membuktikan apa yang telah dikatakan Rasulullah Saw tentang dirimu. Beliau Saw mengatakan dalam sebuah majlis sampai tiga kali, bahwa dirimu adalah penghuni surga. Aku ingin tahu, apa amalan yang membuatmu demikian? Dan aku ingin menirukan agar bisa mencapai kedudukan seperti dirimu."
Lelaki Anshar itu berkata, "Yang aku amalkan setiap hari tidak lebih dari apa yang telah kamu saksikan."
Kemudian, di saat Abdullah bin Amr hendak berpamitan pulang, lelaki itu kembali berkata, "Demi Allah Swt, amalku tidak lebih dari yang kamu lihat. Hanya saja, aku tidak pernah menyimpan niat buruk terhadap sesama muslim, juga yang lain. Aku juga tidak pernah ada rasa dengki kepada mereka yang mendapat anugerah dan kebaikan dari Allah Swt."
Mendengar pernyataan itu, Abdullah bin Amr membalas, "Begitu bersihnya hatimu dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada orang lain. Inilah nampaknya yang membuatmu berada di tempat yang mulia itu. Sesuatu yang tidak dapat aku lakukan."
Kisah di atas, memberi peringatan terhadap diri yang masih memiliki hati keruh. Hati yang di dalamnya dipenuhi niat dan prasangka buruk terhadap sesama. Hati yang ternodai oleh rasa dengki kepada semua. Dan betapa hati yang terbebas dari semua itu, yang suci, yang bening, memiliki nilai tinggi dalam pandangan Allah Swt, sehingga berbuah surga, biar pun dalam ibadah kesehariannya biasa-biasa. Tentu, ini juga menandai bagi para ahli ibadah yang hidupnya diliputi anugerah hidayah untuk senantiasa berhati-hati. Sebab, penyakit-penyakit hati sangat lembut menelesup ke dalam diri. Dan seringkali tidak disadari.
Jika di akhir-akhir ini, suasana berkehidupan semakin panas. Kita saksikan, di antara saudara, anak-anak bangsa sendiri, memilih untuk saling berseberangan jalan dan menabuh genderang pertikaian. Benci dan memusuhi seakan menjadi makanan diri setiap hari. Di antara sesama, sudah sangat tipis rasa saling percaya. Semua saling curiga-mencurigai. Satu dan yang lain dianggap mata-mata yang harus diwaspadai. Dimana-mana disebar beragam berita bohong untuk saling menjatuhkan. Masing-masing, dikorek kelemahan untuk kemudian ditebar demi bisa saling mematikan. Puncaknya, kebaikan di setiap diri sudah tidak terlihat lagi. Bukan tidak ada. Tetapi, memang sudah ditiadakan. Inilah, yang kini semakin marak terjadi. Anehnya, semua yang terbiasa dalam kondisi hidup yang sedemikian itu bukanlah berasal dari orang-orang bodoh yang tidak terpelajar. Bukan juga dari golongan anak-anak kecil yang sebentar bertengkar berebut mainan. Tidak. Mereka sama-sama dewasa, bahkan tua renta. Mereka terpelajar dengan seabreg gelar dan pangkat.
Bukan kurang dewasa. Bukan kurang tua. Bukan kurang pandai. Juga, bukan karena tidak pernah makan bangku sekolahan. Hanya, kurang bersih hati saja. Bersih dan sucinya hati, ini yang tidak lagi mendasari setiap tingkah laku diri. Mau sampai kapan harus terus begini? Tidak lelahkah? Tidakkah setiap diri perlu mempersiapkan bekal menjemput mati?
"Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Q.S. Asy-Syuara: 87-89).
*M. Nurroziqi. Penulis buku-buku Motivasi Islam. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya.





