Senin, H / 02 Februari 2026

Urgensi Prinsip ESQ Untuk Mencegah Kemunculan Reynhard Sinaga Berikutnya [Part 1]

Selasa 14 Jan 2020 09:41 WIB

Author : Gina Al Ilmi

Reynhard Sinaga

Foto: Dailymail


ESQNews.id - Awal tahun 2020 ini, warga Indonesia dibuat terperangah akan pemberitaan BBC di suatu pagi. Seorang mahasiswa program doktoral di Inggris asal Indonesia, ternyata terbukti melakukan tindakan asusila yang teramat parah. Bahkan polisi Inggris menemukan bukti-bukti yang tak terbantahkan. Bukti berupa rekaman tindakan asusila dalam bentuk video hingga tujuh terabita (7TB). Terhitung hingga berjumlah ratusan orang jumlah korbannya.

Setiap kali memilih korbannya, Reynhard menggunakan modus menawarkan bantuan. Ia seringkali memilih remaja yang mabuk berat atau setengah mabuk, untuk ditawari menginap di apartemennya. Modus lain yang digunakan Reynhard adalah menawarkan tempat tinggal sementara untuk remaja yang tengah berkonflik dengan pasangan.

Reynhard tinggal di kawasan pemukiman yang banyak ditinggali oleh kaum gay. Dengan modus yang disebutkan diatas, ia mencari korban dari berbagai pub di kota tersebut. Ajakan Reynhard tersebut mudah diterima oleh korban karena letak apartemennya tidak jauh dari area pub yang ramai didatangi orang. Demikian data yang tergambar dari tulisan yang dibuat oleh Dahlan Iskan.
<more>
Sementara dengan analisa psikologi sosial, dr. Intan menggambarkan bahwa Reynhard adalah pribadi yang masih belum mandiri. Hingga usianya mencapai 36 tahun ini, ia masih bergantung penuh kepada orangtuanya untuk seluruh kebutuhan hidupnya.

Ketidakmandirian Reynhard ini, membuatnya menjadi seorang pribadi yang tidak bertanggung jawab.  Berbeda dengan warga Inggris dan Eropa lainnya yang umumnya telah melakukan berbagai jenis pekerjaan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri sejak usia legal untuk bekerja tercapai, Reynhard tidak pernah bekerja.

Dengan kondisi keluarga Sinaga yang berkecukupan, kedua orangtua Reynhard membiayai seluruh biaya kuliah anaknya dan juga apartemen yang ditinggalinya. Reynhard tidak pernah merasakan kelaparan karena tidak punya uang. Ia bisa mendatangi kafe dan pub kapan saja ia inginkan. Bagi warga Inggris yang harus tinggal di flat sempit dan dingin mencekam karena mahalnya sewa, tawaran untuk menginap di flat luas dan hangat milik Reynhard amatlah menggiurkan, hingga dengan mudah mereka menjadi korban perilakunya yang biadab.


Seharusnya dengan tingkat keamanan yang cukup tinggi di Inggris, kasus ini dapat terungkap lebih cepat. Namun penderita psikopati memang seringkali memiliki kemampuan untuk menyembunyikan kejahatannya dengan berbagai topeng.

Bahkan di Indonesia sendiri, pelaku kejahatan yang serupa di Jawa Barat dianggap sebagai seorang warga masyarakat yang baik karena tidak pernah emosional dan tidak pernah berkata atau berlaku kasar. Hingga para orangtua di sekitarnya menjadi lengah dan tidak menyadari bahwa anak-anaknya menjadi korban perilaku menyimpang.

Bahkan sifat psikopati yang dimiliki para pelaku sodomi dan pemerkosaan ini bisa jadi dianggap sebagai memiliki kecerdasan emosional yang baik bahkan manipulatif. Hingga jumlah korban anak-anak yang dinodai sangat banyak hingga mencapai angka puluhan orang.

Kasus Reynhard Sinaga ini menjadi besar karena terjadi di tanah Inggris. Untuk di Indonesia sendiri, kita sebagai orangtua harus melakukan penjagaan yang ekstra karena ancaman kejahatan yang sama bisa muncul darimana saja. Untuk menjaga agar lingkungan kita aman akan tindakan tersebut, CCTV dan kamera pengawas menjadi salah satu pilihan untuk dipasang di lingkungan rumah dan sekolah.

Selain itu, kita juga harus melakukan edukasi mengenai kejahatan seksual kepada anak-anak kita. Kita harus mengajari anak-anak kita untuk melindungi tubuhnya sendiri.  Pilihan les beladiri bahkan kini telah menjadi suatu hal yang diwajibkan di beberapa sekolah swasta. Hal ini karena para pendidik memandang bahwa keterampilan beladiri ini kini menjadi suatu keahlian yang kini wajib dimiliki oleh anak-anak kita.

Prinsip ESQ Terhadap Kasus Reynhard Sinaga
Namun pertanyaan selanjutnya masih tersisa; bagaimana agar anak kita tidak menjadi seperti Reynhard? Bekal pendidikan moral semata, bisa jadi cenderung hanya menjadi memori yang menumpuk di otak saja bila tidak diiringi dengan praktek kecerdasan emosional spiritual yang dilakukan sehari-hari.  Pendidikan spiritual bukan semata soal mengerjakan aktivitas beribadah. Karena Reynhard pun dikabarkan sebagai seorang yang aktif mendatangi rumah ibadahnya.

Seorang yang cerdas secara emosional memang akan memiliki pesona bagi orang-orang di sekitarnya. Apalagi bila memiliki prestasi intelektual yang gemilang. Pun dengan catatan kehadiran yang sering di rumah ibadah. Namun masyarakat kini belum banyak yang menyadari bahwa ketiga kecerdasan tersebut haruslah saling mengikat dan mengunci. Mengikat dalam hal menjaga seseorang untuk tetap berada dalam koridor perilaku yang sesuai dengan norma masyarakat. Bahkan mengunci dalam hal membuat seseorang memiliki pagar perilaku yang tak terlihat yang membuatnya tidak akan mungkin melakukan perbuatan menyimpang dalam bentuk apapun.

Selanjutnya: Urgensi Prinsip ESQ untuk Mencegah Kemunculan Reynhard Sinaga Berikutnya [Part 2]


Dapatkan Update Berita

BERITA LAINNYA