ESQNews.id, JAKARTA - Pernah mengucapkan sesuatu, lalu menyesal setelahnya?
Menjaga lisan itu seperti memegang busur. Setiap kata adalah panah.
Jika dilepaskan sembarangan, ia bisa melukai hubungan, merusak reputasi, bahkan melukai diri sendiri.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan lisan. Menahan kata yang menyakiti, menahan ucapan yang sia-sia.
Karena ucapan yang tak terjaga sering berujung pada stres dan rasa bersalah—dua hal yang memengaruhi ketenangan jiwa.
Setiap kata yang dijaga, ada hati yang ikut terjaga.
Ramadhan melatih untuk berbicara lebih sedikit, tetapi lebih bermakna.
Lebih tenang dalam nada, lebih bijak dalam pilihan kata.
