Oleh: Mushlihin (Ketua LPM Takerharjo Solokuro Lamongan)
ESQNews.id, JAKARTA - Kami memiliki grup WA. Namanya Keluarga Kali. Siapakah anggotanya? Sebagian besar asalnya dari keturunan Mbah Markoyah, Bu Sutami, Bibi Muslimah, dan Kak Samikan. Keluarga Mbah Markoyah diwakili Sul, Khoiri, Ima, Fitro, Mukhlas Alfian, dan Wilda. Keluarga Bu Sutami meliputi Mus, Hin, Nis, Hayu, Habib, Rofi, Su, Bintang, Sakheel, Fa, Ari, Naura, Shereen, Ni'mah, Wahib, Zahid dan Saif. Sementara keluarga Muslimah Sanadi diwakili Ain, Sin, Ani, Fe, El, Rofa, Shofi, dan Bubah. Adapun keluarga Samikan diwakili Faida.
Mengapa disebut keluarga kali? Karena empat keluarga tersebut bertinggal di tepi kali atau sungai. Sebagian orang menamai kali beranak. Sebab dulu dijadikan mandi besar usai melahirkan anak. Bersuci setelah nifas. Adapula yang menyebutnya kali guyangan. Lantaran kadang digunakan untuk membersihkan hewan. Misalnya kerbau, sapi dan jaran. Airnya jernih. Warga kerap memanfaatkannya untuk mandi, memancing, mencuci, dan irigasi serta rekreasi.
<more>
Meski demikian, mata pencaharian kami beragam. Di antaranya petani, nelayan, karyawan, guru, dan PNS. Ormasnya juga berbeda, Muhammadiyah dan NU. Usianya terpaut jauh. Justru kami semakin tangguh.
Bagaimana perilaku keluarga kali? Kami berupaya memelihara silaturahim, mengucapkan salam jika bertemu, menjenguk ketika sakit, menolong kala mengalami kesulitan, memenuhi undangan dan memberikan ucapan selamat. Kami pun berusaha saling menghormati, menghargai, menyayangi, mengasihi, memperhatikan dan tidak menganggap remeh atau berperilaku yang dapat menyebabkan permusuhan.

Lebih dari itu keluarga kali menyambut malam pergantian tahun baru 2022. Kami menyingkatnya dengan istilah KELI MAPAN TURU. Kami urunan. Kami juga bergotong royong menyiapkan hidangan. Ada yang menanak nasi, membakar ikan, mengulek sambal, menuang minuman, memanggang sosis dan membeli camilan. Kemudian kami bancakan beralas daun pisang. Nikmatnya tak dapat kami dustakan.



