Oleh: M. Nurroziqi
ESQNews.id - Sepi. Sendiri. Seringkali menjadi satu kondisi yang sangat dibenci. Tidak banyak yang bisa dengan rela hati untuk menjalani semua serba sendiri. Jika pun ada, itu pun disebut sebagai penyakit. Sakit pada sisi kejiwaan sebagai yang tidak mampu dan tidak mau untuk bergaul dengan sesamanya. Di bagian inilah, manusia memiliki potensi untuk bisa saling berinteraksi. Manusia dibekali alat komunikasi pun sesungguhnya adalah demi menunjang potensi manusia yang makhluk sosial. Yang tidak boleh hidup sendiri. Tetapi harus saling berinteraksi untuk saling melengkapi.
Ada privasi. Ada publik. Ada sisi yang mengharuskan manusia sendiri. Ada banyak ruang luas yang mengharuskan manusia untuk berinteraksi dan berkehidupan sosial. Di kedua potensi hidup yang begini, manusia harus senantiasa bisa membawa diri. Jangan dicampur-adukkan. Jangan disamakan. Keduanya memiliki kewajiban dan konsekuensi masing-masing. Dari itu, manusia harus benar-benar bisa bijak di setiap menempatkan diri. Agar tidak salah. Agar tidak mengundang ketidak-baikan yang bertambah parah.
Misalkan, dewasa ini, di kehidupan kita, banyak sekali media sosial yang semakin marak berkembang. Dari namanya saja sudah media sosial. Tentu, fungsinya adalah untuk menunjang budaya manusia yang berkehidupan sosial. Nah, di ruang ini, tentulah hal-hal yang bersifat sosial yang mustinya diletakkan. Di sinilah pentingnya tahu diri sehingga bisa bersifat bijak. Tetapi, kenyataan yang seringkali muncul adalah jauh panggang dari api. Di media sosial, justru hal-hal privasi yang dishare di sana. Segala yang mustinya dijaga kerahasiaannya, yang seharusnya ditutup rapat dari pandangan manusia, malahan diumbar sedemikian jelas di ruang-ruang publik.
Sedang, di ruang privasi, di kehidupan yang serba sendiri, apa yang terjadi?
Hidup itu sendiri. Tetapi tidak boleh menyendiri. Ini yang musti dipahami. Kesendirian manusia adalah sebentuk tanggung jawab besar di hadapan Allah Swt. Tanggung jawab dari segenap interaksi yang terjadi di antara sesama manusia, di muka sarwa sekalian alam. Apapun yang dikerjakan, sikap bagaimanapun yang ditempuh, semua kembali ke masing-masing diri. Diri yang sendiri itu tadi. Jika baik, kebaikanlah yang diterima. Jika tidak, celakalah yang pasti mendera.
Dalam Q.S. Al-Israa: 13-15, difirmankan.
"Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka." (13).
"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu." (14).
"Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul." (15).
Jadi, sangat beruntunglah manusia yang dalam kesendirian, berdiam-diam bersujud menghamba kepada Allah Swt. Sendiri. Sunyi. Bersembunyi dari pandangan manusia. Tidak ada pamer. Tidak suka riya'. Selalu menangis, meratapi dosa sendiri dalam pertaubatan yang indah nan penuh mesra dengan Yang Maha Kuasa. Sehingga ruang-ruang kesendirian dinikmati sendiri dalam rangka berasyik masyuk dengan Yang Maha Rahman dan Yang Maha Rahim. Sebaliknya, ketika harus kembali berjibaku dengan sesama hidup, di saat harus berinteraksi dalam kehidupan sosial, selalu menampakkan senyum merekah. Bersikap sopan, berakhlak ramah, dan senantiasa membangun persaudaraan yang indah dengan sesama.
Inna min khiyari ummatii qouman yadh-hakuuna jahron min sa'ati rohmatillah. Wa yabkuuna sirron min khoufi 'adzaabillah. (Termasuk umat Nabi pilihan, tertawa lepas ketika bersama orang lain karena yakin dengan rahmat/pemberian Allah dan ketika sendirian dia menangis, takut akan siksa Allah.) Hadits yang diulas oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin tersebut, mendidik manusia agar bisa membawa diri dalam dua ruang kehidupan sekaligus. Harus bisa bersikap proporsional. Bagaimana manusia harus bisa senantiasa menikmati rahmat Allah Swt di setiap berinteraksi dengan sesama hidup.
<more>
Ini sebagai wujud rasa syukur yang mendalam atas anugerah kehidupan yang terliputi rahmat-Nya yang tiada tara. Dan di lain sisi, rasa takut dosa, takut akan adzab-Nya. Sehingga, di setiap kesendirian adalah proses pertaubatan yang tidak pernah berhenti. Di setiap kesendirian akan menjadi ruang untuk berkontemplasi dan memperbaiki diri. Karena kelak, setiap yang diperbuat, apapun saja dan beserta siapapun saja, yang pasti dimintai pertanggung-jawaban adalah diri yang sendiri ini. Tidak bisa diwakilkan. Tidak mungkin bisa digantikan.
Dan yang tidak boleh, dalam kehidupan bersosial yang mengharuskan berjiwa sosial, adalah jangan pernah memiliki keinginan dan prilaku yang ingin mengambil untung sendiri. Sebagaimana dalam kehidupan yang serba sulit dan panik, jangan pernah bertindak hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Karena, kesulitan dan kepanikan orang lain, bukanlah ladang bisnis untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Tetapi, di suasana itu, terdapat tanggung jawab besar bagi manusia sebagai makhluk sosial. Wajib membantu. Harus tolong menolong. Demikianlah hidup, musti bisa membawa diri. Harus bisa bersikap sewajarnya manusia.
Karena itu, bersyukurlah manusia yang bisa menikmati setiap kesendirian dengan perbaikan-perbaikan ke dalam diri. Sekaligus mengupayakan kemesraan yang indah ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Mengutamakan akhlak karimah di saat bersinggungan dengan sesama hidup dan kehidupan. Dan semoga, di sepanjang kemodernan yang serba digital ini, kita bisa saling menyapa dan saling mengingatkan dalam kebaikan serta kesabaran. Semoga dijauhkan dari sikap-sikap yang merusak tatanan kehidupan yang mengutamakan kerukunan dalam bingkai persaudaraan.
*M.Nurroziqi. Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya. Penulis buku-buku Motivasi Islam.
Ingin tulisan Anda dimuat di ESQNews.id? Segera kirimkan pada email [email protected]!





